Tren Global

Cegah Gangguan Mental, UPI Latih Mindfulness bagi PMI di Singapura

  • UPI melatih mindfulness bagi pekerja migran Indonesia di Singapura untuk membantu mengelola kecemasan dan menjaga kesehatan mental.
oke.png
tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) Program Studi Ners, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menggelar pelatihan mindfulness bagi pekerja migran Indonesia di Singapura. (UPI)

JAKARTA, TRENASIA.ID--Tekanan pekerjaan, jarak dari keluarga, kendala bahasa dan budaya hingga keterbatasan dukungan sosial membuat pekerja migran Indonesia menghadapi tantangan psikologis yang tidak ringan. 

Kondisi tersebut semakin kompleks ketika akses terhadap layanan kesehatan mental formal terbatas karena persoalan waktu, biaya, maupun situasi kerja di negara tujuan.

Kondisi ini mendorong tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) Program Studi Ners, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menggelar pelatihan mindfulness bagi pekerja migran Indonesia di Singapura.

Kegiatan bertajuk Community-Based Digital Mindfulness Intervention to Improve Psychological Well-being of Indonesian Migrant Workers in Singapore tersebut berlangsung selama empat jam dan diikuti 20 peserta. Pelaksanaannya dilakukan melalui kerja sama dengan KBRI/KJRI Singapura.

Mengapa Pekerja Migran Butuh Dukungan Kesehatan Mental?

Bekerja jauh dari tanah air membuat pekerja migran menghadapi situasi yang berbeda dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Selain tuntutan pekerjaan, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya baru, sekaligus menjalani kehidupan jauh dari keluarga.

Dalam kondisi seperti itu, kecemasan (anxiety) dapat menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Apalagi, tidak semua pekerja migran memiliki waktu dan akses yang cukup untuk memperoleh layanan kesehatan mental formal.

Ketua tim pengabdian UPI, Upik Rahmi, mengatakan mindfulness dipilih karena relatif sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri tanpa membutuhkan alat maupun biaya khusus.

“Pelatihan ini dirancang agar peserta dapat langsung mempraktikkan teknik-teknik mindfulness dalam keseharian mereka di tengah kesibukan bekerja,” ujar Upik.

Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kesehatan mental, tetapi juga diperkenalkan pada teknik yang dapat dipraktikkan dalam aktivitas sehari-hari.

Peserta Belajar Kelola Kecemasan dengan Teknik Sederhana

Dalam pelatihan, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemahaman mengenai konsep dasar mindfulness dan kaitannya dengan kecemasan. Materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi serta praktik langsung.

Beberapa teknik yang diperkenalkan antara lain:

  • Mindful breathing, yaitu latihan memusatkan perhatian pada proses pernapasan.
  • Body scan, yaitu latihan mengenali sensasi pada bagian-bagian tubuh secara sadar.
  • Diskusi dan tanya jawab mengenai pengalaman menghadapi kecemasan dalam kehidupan sehari-hari.

Format pelatihan dibuat praktis agar peserta dapat memahami sekaligus mencoba teknik tersebut secara langsung.

Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi. Sejumlah pertanyaan tidak hanya berkaitan dengan teknik mindfulness, tetapi juga pengalaman pribadi peserta dalam menghadapi kecemasan selama bekerja di luar negeri.

Pengetahuan Peserta Meningkat Setelah Pelatihan

Efektivitas kegiatan turut dievaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan pengetahuan peserta mengenai mindfulness berada dalam kategori rendah sebelum pelatihan.

Setelah mengikuti pelatihan, tingkat pengetahuan peserta meningkat secara signifikan dan masuk kategori tinggi.

Peningkatan tersebut terlihat pada sejumlah aspek, mulai dari pemahaman mengenai pengertian mindfulness, manfaatnya dalam menghadapi kecemasan, teknik dasar, kemampuan mengenali gejala kecemasan hingga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil ini menunjukkan pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai cara menggunakan mindfulness sebagai salah satu pendekatan untuk menghadapi tekanan psikologis.

Mindfulness Bisa jadi Strategi Coping bagi Pekerja Migran

Tim pengabdian UPI menilai mindfulness berpotensi digunakan sebagai strategi coping jangka panjang bagi pekerja migran. Terutama bagi mereka yang menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental formal.

Namun, pelatihan satu kali tetap memiliki keterbatasan. Karena itu, tim merekomendasikan kegiatan serupa dilakukan secara berkelanjutan dengan pendampingan berkala serta melibatkan lebih banyak pihak.

Pendekatan berkelanjutan menjadi penting agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Peserta perlu memiliki kesempatan untuk terus mempraktikkan teknik yang dipelajari sekaligus mendapatkan dukungan ketika menghadapi persoalan psikologis.

Dampaknya bagi Pekerja Migran Indonesia

Program seperti ini memiliki relevansi lebih luas karena kesehatan mental menjadi bagian dari kemampuan pekerja migran dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan di negara tujuan.

Ketika pekerja memiliki pengetahuan untuk mengenali kecemasan dan mengelola respons terhadap tekanan, mereka memiliki bekal tambahan untuk menjaga kesejahteraan psikologis. Bagi pekerja migran, dukungan tersebut juga dapat menjadi pelengkap di tengah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental formal.

Kegiatan UPI ini menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat internasional (International Community Development) yang melibatkan sejumlah dosen dan tenaga pendidik FPOK UPI, yakni Upik Rahmi, Lisna Anisa F, Andria Pragholapati, Asih Purwandari, Sri Sumartini, Irma Darmawati, dan Lina Anisa N.