Tren Pasar

UBS dan Goldman: Harga Emas Berpeluang Tembus US$5.000

  • Didorong penurunan suku bunga, pembelian bank sentral, dan risiko geopolitik, emas dinilai makin strategis dalam portofolio investor.
<p>Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia</p>

Nampak antrian pembelian logam mulia ANTAM di sebuah pusat perbelanjaan kawasan Tangerang Selatan, Sabtu 19 Juni 2021. Anjloknya harga emas selama sepekan membuat masyarakat berlomba untuk membeli. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Emas kembali menjadi sorotan utama investor global. Dua bank investasi raksasa dunia, UBS dan Goldman Sachs, kompak menyampaikan pandangan optimistis terhadap prospek logam mulia ini hingga 2026.

Mengutip laporan Kitco News, Senin 5 Januari 2025, UBS memproyeksikan harga emas berpotensi menembus level US$5.000 per ons pada kuartal III 2026. Bahkan, jika ketidakpastian politik dan ekonomi di Amerika Serikat kian meningkat, harga emas disebut bisa melesat hingga US$5.400 per ons.

Nada serupa disampaikan Goldman Sachs. Bank investasi asal AS itu menempatkan emas sebagai komoditas “long favorit” dan membidik harga US$4.900 per ons pada akhir 2026. Proyeksi ini menegaskan posisi emas bukan sekadar aset pelindung sementara, melainkan bagian penting dari strategi investasi jangka menengah.

Didorong Faktor Struktural

Optimisme terhadap emas tidak muncul tanpa alasan. Kenaikan harga logam mulia ini dinilai ditopang kombinasi faktor struktural yang saling menguatkan.

Salah satunya adalah arah kebijakan moneter global. Pemangkasan suku bunga The Fed, yang diikuti penurunan imbal hasil riil, membuat emas semakin menarik karena biaya peluang untuk memegang aset tanpa bunga menjadi lebih rendah.

Di sisi lain, risiko fiskal Amerika Serikat dan dinamika politik domestik turut menambah ketidakpastian pasar. Kondisi ini mendorong investor global mencari aset lindung nilai yang dianggap lebih aman dalam jangka panjang.

UBS juga menyoroti pembelian emas yang masih agresif dari bank sentral, terutama di negara-negara berkembang. Tren ini diperkuat oleh arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas yang tetap solid. Sementara itu, Goldman Sachs menekankan peran emas sebagai “insurance asset” di tengah ancaman inflasi, gangguan rantai pasok global, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah rendahnya tingkat diversifikasi investor global terhadap emas. Dengan porsi emas di portofolio yang masih relatif kecil, ruang kenaikan harga dinilai masih terbuka lebar.

Proyeksi agresif dari UBS dan Goldman Sachs mempertegas bahwa emas berpotensi menjadi komponen strategis dalam portofolio investasi 2026. Bukan hanya sebagai aset defensif, emas juga dipandang mampu menjaga stabilitas nilai portofolio di tengah pasar yang semakin volatil.

Bagi investor ritel, peran emas menjadi semakin relevan. Logam mulia ini dapat berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap gejolak pasar keuangan, risiko geopolitik global, hingga potensi pelemahan nilai tukar. Akses terhadap emas pun kini semakin beragam, mulai dari emas fisik, produk digital, hingga reksa dana dan ETF berbasis emas.

Pandangan bullish dari UBS dan Goldman Sachs juga menandai potensi emas memasuki fase kenaikan yang lebih struktural hingga 2026. Didukung oleh tren penurunan suku bunga global, pembelian bank sentral yang konsisten, serta meningkatnya risiko geopolitik dan fiskal Amerika Serikat, emas dinilai tetap relevan sebagai aset lindung nilai.

Dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian, emas bukan lagi sekadar “safe haven”, melainkan instrumen strategis untuk menjaga keseimbangan dan ketahanan portofolio investasi.