Special Measures Jadi Ancaman Baru IHSG, Pahami Dampaknya
- Indonesia dibayangi status special measures dari S&P DJI. Simak perbedaannya dengan frontier market dan risiko bagi pasar saham nasional.

Chrisna Chanis Cara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Sorotan terhadap pasar modal Indonesia semakin tajam. Dalam satu hari yang sama, dua penyedia indeks saham global, S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) dan MSCI, sama-sama mengirimkan sinyal yang membuat investor asing kembali waspada.
Di sisi lain, Fitch Ratings sebelumnya juga telah mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB namun dengan Outlook Negatif.
Tiga sinyal tersebut memang berasal dari lembaga berbeda dengan mandat yang berbeda pula. Namun benang merahnya sama, kepercayaan investor global terhadap tata kelola dan transparansi pasar Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Yang menarik, perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada ancaman Indonesia turun dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Padahal, ada satu istilah lain yang justru berpotensi lebih cepat berdampak terhadap investor, yakni special measures.
Apa Itu Special Measures?
Dalam pengumuman terbarunya, S&P DJI memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watchlist) dan menyatakan dapat menerapkan special measures apabila persoalan transparansi kepemilikan saham dan integritas pasar tidak mengalami perbaikan.
Berbeda dengan Frontier Market, special measures bukan merupakan klasifikasi pasar baru. Status ini merupakan perlakuan khusus terhadap saham suatu negara di dalam metodologi indeks S&P DJI.
Dampaknya bisa berupa pembatasan terhadap bobot saham, perubahan metode perhitungan indeks, hingga kemungkinan pengeluaran saham tertentu dari indeks standar sebelum ada keputusan reklasifikasi resmi.
Dengan kata lain, pasar masih berstatus Emerging Market, tetapi perlakuan terhadap saham-sahamnya sudah tidak lagi sama seperti negara berkembang lainnya.
Special Measures vs Frontier Market, Apa Bedanya?
Meski sama-sama bernada negatif, keduanya memiliki konsekuensi berbeda.
Special Measures
- Bersifat sementara tetapi dapat diterapkan lebih cepat.
- Menjadi bentuk peringatan bahwa kualitas pasar dinilai menurun.
- Berpotensi mengurangi eksposur dana indeks (index funds) terhadap saham Indonesia.
- Menekan persepsi investor karena menunjukkan adanya masalah tata kelola yang belum terselesaikan.
Frontier Market
- Merupakan perubahan klasifikasi resmi dari Emerging Market.
- Biasanya memicu reposisi portofolio investor global karena banyak dana investasi mengikuti klasifikasi indeks.
- Dapat menyebabkan arus keluar dana (capital outflow) dari reksa dana dan ETF yang hanya berinvestasi di negara berkembang.
Yang perlu dicermati, menurut metodologi S&P DJI, apabila persoalan yang menjadi dasar penerapan special measures tidak terselesaikan selama satu tahun kalender sejak status tersebut diberlakukan, maka klasifikasi pasar Indonesia akan dievaluasi kembali pada tinjauan tahunan berikutnya.
Artinya, special measures dapat menjadi tahap awal sebelum penurunan status pasar secara penuh.
Mengapa Indonesia Disorot?
Baik MSCI maupun S&P DJI sama-sama menyoroti isu transparansi struktur kepemilikan saham dan kualitas pembentukan harga di pasar.
Dalam Global Market Accessibility Review 2026, MSCI bahkan menurunkan penilaian pada aspek information flow, dengan alasan terbatasnya transparansi kepemilikan saham dan indikasi perdagangan yang terkoordinasi sehingga mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.
MSCI juga memutuskan mempertahankan pembekuan penambahan saham Indonesia dalam review Agustus 2026 dan menunda keputusan lebih lanjut hingga November mendatang.
Sementara itu, S&P DJI menyatakan akan terus memantau perkembangan reformasi yang dilakukan Bursa Efek Indonesia terkait transparansi kepemilikan saham.
Pemerintah dan regulator sebenarnya telah merespons melalui sejumlah reformasi, antara lain menaikkan ketentuan minimum free float serta memperketat kewajiban keterbukaan kepemilikan saham. Namun, investor global masih menunggu bukti efektivitas implementasi kebijakan tersebut.
Fitch Ikut Menambah Tekanan
Di luar isu pasar modal, lembaga pemeringkat Fitch Ratings juga telah merevisi outlook Indonesia menjadi Negative meski tetap mempertahankan peringkat utang pada level BBB atau masih kategori investment grade.
Fitch menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan, tekanan terhadap kredibilitas kebijakan fiskal, dan potensi pelemahan fundamental ekonomi dapat memengaruhi sentimen investor apabila tidak segera diatasi.
Apa Dampaknya bagi Investor?
Bagi investor domestik, status watchlist belum otomatis mengubah fundamental perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Namun bagi investor institusi global, keputusan lembaga indeks memiliki konsekuensi besar karena menjadi acuan pengelolaan dana pasif bernilai triliunan dolar.
Apabila Indonesia akhirnya dikenai special measures atau bahkan turun menjadi Frontier Market, maka sejumlah dana investasi global yang hanya boleh berinvestasi di pasar berkembang berpotensi mengurangi eksposurnya terhadap saham Indonesia.
Tekanan jual seperti ini dapat meningkatkan volatilitas pasar dan memperbesar risiko arus modal keluar.
Di sisi lain, keberhasilan reformasi tata kelola, peningkatan transparansi pasar, dan konsistensi kebijakan masih menjadi faktor utama yang akan menentukan apakah Indonesia mampu mempertahankan statusnya sebagai Emerging Market dalam beberapa tahun ke depan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
