Tekanan Tampil Glowing Jadi Ancaman Serius bagi Gen Z
- Tren fast beauty dan glass skin picu tekanan citra diri Gen Z. Studi tunjukkan 31% remaja alami dampak negatif pada kesehatan mental.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Fenomena fast beauty tidak hanya mengubah pola konsumsi produk kecantikan, tetapi juga membentuk lanskap psikologis generasi muda. Paparan konten kecantikan di media sosial, terutama melalui platform seperti TikTok dan Instagram, memperkuat standar visual yang seragam, instan, dan sering kali tidak realistis.
Dikutip laman National Center for Biotechnology Information, dalam jurnal berjudul "Dampak yang Tak Terlihat: Persepsi Diri dan Kesehatan Mental Remaja di Wilayah Pedesaan di Era Media Sosial Terkait Dermatologi" menunjukkan bahwa tekanan untuk tampil “glowing” berdampak langsung pada citra diri, kesehatan mental, hingga perilaku konsumsi anak muda.
Tren seperti glass skin, kulit mulus tanpa pori dan tampak bercahaya menjadi standar estetika baru yang viral di media sosial. Namun, para peneliti menilai standar tersebut sering kali tidak mencerminkan realitas.
Hasil akhir yang ditampilkan kerap didukung oleh filter digital, pencahayaan khusus, teknik make-up, hingga prosedur dermatologis. Penelitian terhadap remaja di wilayah rural menunjukkan dampak yang signifikan terhadap persepsi diri.
Dari responden yang mengonsumsi konten kecantikan kulit, 31,1 % melaporkan dampak negatif, seperti menjadi lebih kritis terhadap diri sendiri, sering membandingkan diri dengan orang lain, dan mengalami penurunan rasa percaya diri.
Sebanyak 45% mengaku menjadi lebih fokus pada kekurangan fisik setelah menonton konten tersebut. Meski 68,9% menyadari adanya pengaruh terhadap citra diri, hanya 22,6% yang menyadari bahwa dampaknya telah menyentuh aspek kesehatan mental.
Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran atas tekanan penampilan dengan pemahaman dampak emosional yang lebih dalam.
Survei lain di Inggris memperlihatkan tekanan yang lebih intens pada generasi muda. Sebanyak 93% responden Gen Z menyatakan bahwa tren media sosial memperkuat tekanan untuk memiliki kulit sempurna. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata populasi umum yang berada di 77%.
Standar Kecantikan Instan
Fenomena media sosial tidak lagi sekadar ruang berbagi momen, tetapi telah berevolusi menjadi arena pembentukan standar estetika global. Salah satu istilah yang mengemuka dalam beberapa tahun terakhir adalah Instagram Face, sebuah konstruksi visual yang merujuk pada wajah simetris, hidung kecil dan mancung, bibir penuh, tulang pipi tegas, kulit mulus tanpa pori, serta garis rahang yang terdefinisi.
Istilah ini dipopulerkan dalam laporan media internasional dan kerap dikaitkan dengan standar kecantikan yang cenderung Eurocentric, yakni mengutamakan ciri-ciri yang diasosiasikan dengan ras Kaukasia. Dalam praktiknya, standar ini diperkuat oleh filter digital, teknik makeup kontur, hingga prosedur estetika medis.
Paparan berulang terhadap standar visual yang homogen berdampak nyata pada perilaku konsumsi estetika. Data penelitian tahun 2024 yang dipaparkan International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) menunjukkan bahwa individu berusia 17 tahun ke bawah telah menjalani prosedur kecantikan dalam jumlah signifikan secara global.
Beberapa prosedur yang tercatat antara lain:
- Rhinoplasty (operasi hidung): 45.512 kasus (4,2% dari total prosedur global)
- Suntikan botox: 39.440 kasus (0,5%)
- Liposuction (sedot lemak): 22.959 kasus (1,1%)
Angka tersebut memperlihatkan intervensi medis estetika tidak lagi eksklusif bagi orang dewasa. Remaja, yang secara psikologis masih berada dalam fase pembentukan identitas diri, kini menjadi bagian dari pasar industri estetika global yang bernilai miliaran dolar.
ISAPS sendiri mencatat secara keseluruhan, prosedur estetika global terus meningkat pascapandemi, didorong oleh fenomena “Zoom Boom”yakni meningkatnya kesadaran terhadap penampilan wajah akibat intensitas penggunaan kamera digital.
Para ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa normalisasi prosedur estetika di usia dini dapat mengaburkan batas antara kebutuhan medis dan tekanan sosial.
Di era media sosial, wajah bukan lagi sekadar identitas biologis, melainkan juga “aset digital.” Remaja terpapar algoritma yang secara konsisten menampilkan wajah dengan proporsi seragam, memperkuat persepsi bahwa kecantikan memiliki satu standar baku.

Muhammad Imam Hatami
Editor
