Kopi Manis Favorit Gen Z, Seberapa Aman untuk Kesehatan?
- Batas aman kafein 400 mg per hari, namun gula dalam kopi kekinian bisa melebihi 50 gram. Simak risiko dan tips konsumsi bijak.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kopi bukan lagi sekadar minuman pengusir kantuk. Bagi Generasi Z (Gen Z), kopi telah menjadi bagian dari identitas gaya hidup, mulai dari penunjang produktivitas, teman mengerjakan tugas, hingga simbol eksistensi di media sosial.
Namun, di balik tren tersebut, muncul kekhawatiran terkait tingginya konsumsi gula dan potensi dampaknya bagi kesehatan jangka panjang.
Sejumlah survei menunjukkan kebiasaan minum kopi di kalangan Gen Z tergolong tinggi. Diktuip laman RRI, sekitar 66% Gen Z di Indonesia dilaporkan mengonsumsi kopi setiap hari, bahkan 37% di antaranya minum 2–3 kali sehari.
Tak hanya frekuensinya yang meningkat, preferensi rasa pun berubah. Survei Innova Market Insight 2025 mencatat sekitar 60% Gen Z lebih menyukai kopi dengan cita rasa intens dibandingkan rasa ringan. Tren minuman seperti kopi susu gula aren, es kopi kekinian, hingga berbagai varian sirup dan topping manis semakin memperkuat pola konsumsi tinggi gula.
Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh media sosial. Konten minuman estetik, promo buy one get one, serta budaya nongkrong di kedai kopi menjadikan konsumsi kopi bukan sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari gaya hidup urban.
Batas Aman Konsumsi Kafein
Secara umum, batas aman konsumsi kafein bagi orang dewasa sehat adalah sekitar 400 miligram (mg) per hari. Jumlah ini setara dengan kurang lebih empat cangkir kopi hitam. Meski demikian, banyak ahli menyarankan konsumsi lebih moderat, yakni 2–3 cangkir per hari untuk meminimalkan efek samping seperti jantung berdebar, gangguan tidur, kecemasan, dan gangguan lambung.
Perlu dicatat, batas tersebut berlaku untuk kopi hitam tanpa tambahan gula atau pemanis. Pada praktiknya, minuman kopi kekinian sering kali mengandung tambahan sirup, susu kental manis, krimer, atau topping lain yang secara signifikan meningkatkan asupan kalori dan gula.
Selain itu, sensitivitas terhadap kafein berbeda pada setiap individu. Sebagian orang dapat mengalami gangguan tidur meski hanya minum satu cangkir di sore hari. Berbeda dengan kafein yang masih memiliki manfaat tertentu jika dikonsumsi wajar, gula tambahan sebenarnya tidak dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar. Energi tubuh sudah dapat diperoleh dari karbohidrat kompleks seperti nasi, roti gandum, atau umbi-umbian.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan batas konsumsi gula harian maksimal 50 gram per orang, atau setara dengan empat sendok makan. Namun, satu gelas kopi susu gula aren ukuran besar dapat mengandung gula mendekati bahkan melampaui batas tersebut dalam sekali minum. Jika seseorang mengonsumsi dua hingga tiga gelas minuman manis dalam sehari, total asupan gula bisa jauh melampaui rekomendasi yang dianjurkan.
Risiko Kesehatan Konsumsi Gula Berlebih
Kelebihan gula, terutama dalam jangka panjang, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius. Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, berikut sederet penyakit yang bisa datang akibat konsumsi gula berlebih,
1. Obesitas dan Gangguan Metabolik : Asupan kalori berlebih dari gula meningkatkan risiko penumpukan lemak tubuh. Obesitas menjadi pintu masuk berbagai penyakit metabolik.
2. Diabetes Tipe 2 : Konsumsi gula tinggi secara terus-menerus dapat memicu resistensi insulin, kondisi yang menjadi faktor utama berkembangnya diabetes tipe 2.
3. Penyakit Jantung : Obesitas dan diabetes meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
4. Perlemakan Hati : Kelebihan gula, terutama fruktosa, dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati (fatty liver).
5. Kerusakan Gigi : Gula menjadi sumber makanan bakteri di mulut yang memicu plak dan gigi berlubang.
6. Peradangan Kronis : Asupan gula tinggi dapat memicu respons inflamasi dalam tubuh yang berkaitan dengan berbagai penyakit degeneratif.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan hubungan antara konsumsi gula berlebih dan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, meskipun mekanismenya masih terus diteliti lebih lanjut. Kebiasaan ngopi Gen Z sebenarnya tidak selalu berdampak negatif.
Kopi hitam dalam jumlah wajar bahkan dikaitkan dengan manfaat seperti peningkatan fokus dan penurunan risiko beberapa penyakit tertentu. Tantangan utamanya terletak pada tambahan gula dan kalori yang sering menyertai minuman kekinian.
Kesadaran akan kandungan gula menjadi penting, terutama karena konsumsi minuman manis sering kali dianggap remeh dibandingkan makanan padat. Padahal, kalori cair lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa terasa mengenyangkan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
