Tren Leisure

Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Perokok Dewasa Beralih ke Vape

  • Perokok dewasa mulai beralih ke produk tembakau alternatif seperti vape sebagai pendekatan bertahap untuk mengurangi risiko kesehatan akibat rokok.
trenasia

trenasia

Author

Ilustrasi Penjualan Rokok Elektrik - Panji 3.jpg
Nampak aktifitas para pengguna rokok elektrik di sebuah toko vape di kawasan Depok Jawa Barat, Kamis 19 Januari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Berhenti merokok secara total masih menjadi tantangan besar bagi banyak perokok dewasa di Indonesia. Di tengah tingginya prevalensi perokok nasional, sebagian mulai mencari pendekatan yang dinilai lebih realistis untuk mengurangi risiko kesehatan. 

Hal itu salah satunya lewat produk tembakau alternatif seperti vape, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin. Pendekatan ini dikenal sebagai tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau, yakni strategi yang menekankan pengurangan paparan zat berbahaya dibanding konsumsi rokok konvensional berbasis pembakaran.

Sejumlah perokok dewasa mengaku beralih bukan sekadar mengikuti tren, tetapi karena pertimbangan kesehatan dan kualitas hidup. Salah satunya Aldi, kreator konten edukasi vape melalui akun Instagram @vapeducation.

 Ia mulai beralih dari rokok sekitar 2016–2017 setelah aktif mencari referensi dan membaca berbagai jurnal ilmiah terkait produk tembakau alternatif. “Saya riset dulu dan akhirnya menemukan beberapa informasi. Dari situ saya memutuskan mencoba setelah yakin dari hasil riset,” ujarnya.

Perokok Dewasa Mulai Cari Pendekatan Bertahap

Aldi mengaku salah satu referensi yang memengaruhi keputusannya berasal dari kajian Public Health England yang menyebut vape memiliki risiko jauh lebih rendah dibanding rokok konvensional.

Kajian bertajuk Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products menunjukkan rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan dapat mengurangi paparan zat berbahaya sekitar 90–95% dibanding rokok berbasis pembakaran.

Setelah beralih sepenuhnya, Aldi mengaku mulai merasakan perubahan fisik. “Dari sisi pernapasan terasa lebih panjang dan lega. Selera makan juga meningkat,” katanya.

Pengalaman serupa dialami Hanif (31), karyawan swasta di Jakarta Selatan yang kini memilih menggunakan rokok elektronik setelah bertahun-tahun menjadi perokok aktif. Keputusan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap kesehatan dan dorongan keluarga.

“Lama-lama saya lebih nyaman pakai vape, karena tidak bau seperti rokok,” ujarnya. Menurut Hanif, lingkungan rumah yang kini bebas asap rokok menjadi salah satu alasan dirinya bertahan menggunakan produk alternatif.

Harm Reduction Mulai Jadi Diskursus Baru

Fenomena ini menunjukkan pendekatan harm reduction mulai masuk dalam diskursus pengendalian konsumsi rokok di Indonesia. Di tengah masih tingginya jumlah perokok dewasa, sebagian kalangan melihat penghentian total secara instan tidak selalu realistis bagi semua orang.

Karena itu, pendekatan bertahap mulai dipandang sebagai opsi transisi untuk menekan paparan zat berbahaya dari proses pembakaran tembakau.

Namun, Aldi menilai proses peralihan tetap harus dibarengi edukasi dan informasi yang berimbang. “Kalau ada sisi negatif vape, tetap saya sampaikan. Saya tidak pernah bilang vape sepenuhnya aman,” katanya.

Perdebatan soal produk tembakau alternatif sendiri masih berlangsung secara global. Sejumlah negara mulai membuka ruang regulasi berbasis pengurangan risiko, sementara sebagian lainnya tetap berhati-hati terhadap dampak jangka panjang dan potensi pengguna baru dari kelompok nonperokok.

Di Indonesia, diskusi mengenai tobacco harm reduction juga semakin relevan di tengah tingginya prevalensi merokok dan belum optimalnya tingkat keberhasilan berhenti merokok secara total. Kondisi ini membuat pendekatan berbasis pengurangan risiko mulai dilihat sebagai salah satu opsi yang perlu dikaji lebih dalam dalam kebijakan kesehatan publik.

trenasia

trenasia

Editor