Ketika Overtourism Mengancam Kelestarian Lingkungan
- Fenomena overtourism kian mengancam lingkungan global. Dari Bali hingga Eropa, lonjakan wisatawan memicu krisis air, sampah, dan kerusakan ekosistem.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Fenomena overtourism atau pariwisata berlebihan kian menjadi sorotan dunia. Lonjakan jumlah wisatawan yang melampaui daya dukung lingkungan tidak hanya menurunkan kualitas hidup masyarakat lokal, tetapi juga menimbulkan kerusakan ekologis yang dalam dan berpotensi permanen.
Sejumlah destinasi populer dunia kini menghadapi dilema besar antara menjaga sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi dan melindungi kelestarian alam.
Dikutip laman lembaga non-profit berbasis di Inggris, Stop Ecocide International, Jumat, 27 Februari 2026, mengungkap overtourism terjadi ketika jumlah kunjungan wisatawan melebihi kapasitas lingkungan, infrastruktur, dan sosial suatu wilayah.
Dampaknya bersifat multidimensional, mulai dari degradasi alam, krisis sumber daya, hingga konflik sosial yang kian kompleks. Dalam banyak kasus, keuntungan ekonomi jangka pendek dari sektor pariwisata justru harus dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan jangka panjang yang sulit dipulihkan.
Tekanan terbesar dari overtourism dirasakan langsung oleh ekosistem. Aktivitas wisata yang berlangsung secara masif dan tidak terkendali menyebabkan rusaknya vegetasi, terinjaknya kawasan alami, serta terganggunya habitat satwa liar.
Perubahan ini berdampak pada menurunnya keanekaragaman hayati, karena banyak spesies kehilangan ruang hidup dan sumber makanannya. Dalam jangka panjang, ketidakseimbangan ekosistem ini dapat memicu kepunahan lokal dan merusak rantai ekologi yang lebih luas.
Di kawasan pesisir, dampak overtourism terlihat lebih nyata. Pembangunan hotel, vila, dan resor yang agresif sering kali mengorbankan terumbu karang, padang lamun, hingga hutan mangrove.
Baca juga : Bali dan Bom Waktu Sampah Plastik Laut
Padahal, ekosistem pesisir tersebut berperan penting sebagai pelindung alami dari abrasi, penahan gelombang, serta tempat berkembang biak berbagai biota laut. Kerusakan ekosistem ini tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga mata pencaharian masyarakat pesisir yang bergantung pada perikanan dan pariwisata berkelanjutan.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah polusi dan sampah. Peningkatan volume wisatawan hampir selalu berbanding lurus dengan lonjakan limbah, mulai dari sampah plastik di pantai, pencemaran air laut dan sungai, hingga polusi udara akibat padatnya transportasi wisata.
Di banyak destinasi populer, sistem pengelolaan sampah dan limbah belum dirancang untuk menampung beban sebesar itu, sehingga sampah kerap berakhir di lingkungan terbuka.
Selain itu, industri pariwisata dikenal sebagai pengguna air dalam jumlah besar. Hotel, kolam renang, lapangan golf, hingga fasilitas spa menyedot sumber air bersih secara masif. Di daerah yang sumber airnya terbatas, kondisi ini memicu krisis air yang ironisnya justru dirasakan oleh penduduk lokal.
Jika tidak ditangani secara serius, akumulasi dampak tersebut berpotensi menurunkan kualitas lingkungan secara permanen dan mengancam keberlanjutan pariwisata itu sendiri.
Daftar Tempat Wisata Alami Overtourism
Bali
Di kawasan Asia, Bali menjadi salah satu contoh paling nyata. Pertumbuhan hotel dan vila yang pesat memperparah krisis air bersih di sejumlah wilayah. Di saat yang sama, masalah sampah dan kemacetan menjadi keluhan kronis yang belum terselesaikan.
Pulau Phi Phi
Sementara itu, Pulau Phi Phi di Thailand pernah mengalami kerusakan parah pada terumbu karang akibat aktivitas wisata selam dan lalu lintas kapal. Pemerintah setempat bahkan sempat menutup salah satu teluk ikoniknya demi memberi waktu bagi ekosistem laut untuk pulih.
Barcelona
Di Eropa, overtourism juga meninggalkan jejak kerusakan yang signifikan. Barcelona menghadapi pencemaran udara dan suara akibat jutaan wisatawan setiap tahun, yang memberi tekanan besar pada ruang terbuka hijau dan kualitas hidup warga kota.
Venesia
Kondisi serupa dialami Venesia. Lalu lintas kapal pesiar raksasa di kanal-kanal sempit dituding mempercepat kerusakan fondasi bangunan bersejarah dan mencemari perairan kota. Venesia kini menjadi simbol global bagaimana pariwisata dapat mengancam warisan budaya dan lingkungan sekaligus.
Baca juga : Bali, Antara Surga Tropis dan Realitas Overtourism
Yunani
Di Yunani, pulau Zakynthos menghadapi ancaman terhadap habitat penyu tempayan yang dilindungi. Kepadatan wisatawan dan pembangunan di kawasan pantai mengganggu siklus bertelur satwa tersebut.
Kasus yang menuai kontroversi besar terjadi di Tenerife. Proyek resor mewah Cuna del Alma dituding mengancam kawasan lindung, menghancurkan habitat spesies endemik, serta merusak situs geologi dan arkeologi bernilai tinggi. Sejumlah ilmuwan dan aktivis bahkan menyebut proyek ini berpotensi menyebabkan ekosida.
Hallstatt
Desa wisata Hallstatt juga tak luput dari dampak overtourism. Lonjakan pengunjung yang drastis memicu erosi, penumpukan sampah, serta degradasi lingkungan di sekitar danau dan kawasan pegunungan.
Hawaii
Di belahan lain dunia, Hawaii menghadapi tekanan berat pada ekosistem pantai dan hutan hujan tropis. Erosi, sampah, serta gangguan terhadap satwa endemik menjadi konsekuensi dari pariwisata massal yang sulit dikendalikan.
Pulau Waiheke
Sementara itu, di Oseania, Pulau Waiheke mengalami kerusakan lingkungan pada jalur pendakian, pantai, dan kawasan hutan akibat meningkatnya aktivitas wisata, disertai pencemaran air laut dan udara.
Berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa overtourism bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan ancaman global terhadap kelestarian lingkungan. Tanpa pengelolaan yang berkelanjutan, destinasi-destinasi unggulan dunia berisiko kehilangan daya tarik alaminya sekaligus merusak fondasi ekologis yang menopang kehidupan masyarakat setempat.
Para pakar menilai, pembatasan jumlah wisatawan, pengetatan izin pembangunan, serta penguatan pariwisata berbasis lingkungan dan komunitas menjadi langkah mendesak. Jika tidak, pariwisata yang semula diharapkan membawa kesejahteraan justru akan menjadi faktor perusak lingkungan yang sulit dipulihkan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
