Tren Ekbis

Tren Konsumsi RI Naik, Pahami Makna dan Risikonya

  • Konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh 5,11% di kuartal IV 2025. Apa artinya bagi gaya hidup, daya beli, dan keputusan finansial anak muda? Simak analisanya.
Ilustrasi wanita membawa belanjaannya dengan tas sendiri.
Ilustrasi wanita membawa belanjaannya dengan tas sendiri. (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga Indonesia tumbuh sebesar 5,11% secara tahunan pada kuartal IV 2025, dan menjadi andalan utama yang mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi nasional pada periode akhir tahun. 

Data ini mengungkap bagaimana belanja masyarakat tetap kuat meskipun kondisi global penuh tantangan, dan memberi kaca pembesar terhadap pola perilaku belanja generasi muda.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga itu menyumbang 53,63% dari total pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,39% pada kuartal tersebut. Kepala BPS Amalia Adininggar menilai kondisi ini tidak terlepas dari stabilitas daya beli masyarakat sekaligus dukungan kebijakan stimulus pemerintah yang tetap menjaga konsumsi.

“Kami merekam semua data, salah satunya disebabkan oleh daya beli masyarakat tetap terjaga dan ada insentif kebijakan stimulus ekonomi,” ujar Amalia dalam konferensi pers, Kamis, 5 Februari 2026.

Source: bps.go.id

Laporan BPS mencatat pemerintah mengalokasikan sekitar Rp37,4 triliun pada kuartal IV 2025 sebagai bagian dari paket stimulus ekonominya. Dana ini digunakan untuk beberapa program utama, seperti:

  1. Program magang untuk membuka peluang kerja dan meningkatkan keterampilan.
  2. Bantuan langsung tunai sementara (BLTS) yang memperkuat daya beli kelompok berpenghasilan rendah.
  3. Diskon tiket transportasi selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). Stimulus diskon transportasi juga berdampak nyata pada sektor angkutan. Amalia menyebut insentif tersebut turut mendorong pertumbuhan sektor transportasi. Pada kuartal IV 2025, angkutan rel tumbuh 9,96% dan angkutan laut meningkat 9,8%secara tahunan.

“Selain itu, kami juga mencatat bahwa angkutan sungai, danau, dan penyebrangan tumbuh 3,35 persen secara tahunan,” ujar Amalia.

Dalam konteks meningkatkan daya beli masyarakat, konsumsi rumah tangga masih bergantung pada stimulus dan kebijakan, permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa tetap kuat. Hal ini menjadi sebuah sinyal positif bagi pelaku usaha, termasuk sektor digital dan UMKM yang sering menjadi pilihan konsumsi anak muda.

Apa Artinya bagi Anak Muda?

Bagi Gen Z dan pekerja muda, tren konsumsi yang kuat ini punya beberapa implikasi penting:

  1. Gaya hidup tetap berjalan meski ekonomi global penuh gejolak. Hal ini terlihat dari tingginya pengeluaran untuk transportasi, makanan, dan hiburan.
  2. Daya beli yang relatif terjaga membuat keputusan pembelian lebih fleksibel, seperti upgrade gadget, layanan streaming, atau bahkan investasi kecil.
  3. Program diskon dan insentif tertentu memberi ruang bernapas bagi generasi muda untuk beraktivitas tanpa tekanan biaya setinggi periode tanpa stimulus.

Dalam Mandiri Spending Index beberapa waktu lalu dijelaskan daya beli masyarakat relatif stabil karena kombinasi faktor inflasi terkendali, stimulus pemerintah, serta mobilitas yang meningkat pasca pandemi. 

Kondisi tersebut membuat sektor ritel, transportasi, dan layanan digital terus tumbuh seiring meningkatnya aktivitas masyarakat.

Di sisi lain, laporan OECD Financial Literacy Report menekankan bahwa peningkatan konsumsi generasi muda harus diimbangi dengan kemampuan pengelolaan keuangan yang baik agar tidak menimbulkan tekanan finansial di masa depan. 

OECD mencatat generasi muda global cenderung lebih impulsif dalam belanja digital dan hiburan, sehingga edukasi finansial menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.