Alasan Diet Karnivora Tidak Sesuai Prinsip Berkelanjutan
- Diet karnivora yang hanya mengonsumsi pangan hewani dinilai tidak aman. Guru Besar IPB mengungkap risiko kesehatan jangka panjang.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — Diet karnivora yang hanya mengandalkan konsumsi pangan hewani tanpa asupan nabati dinilai tidak aman dan tidak disarankan untuk diterapkan oleh masyarakat umum. Pola makan ekstrem ini bertentangan dengan prinsip dasar gizi seimbang serta berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama jika dijalani dalam jangka panjang.
Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Sri Anna Marliyati, menegaskan diet karnivora tidak direkomendasikan karena tidak memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh secara menyeluruh.
“Diet karnivora bertentangan dengan prinsip gizi seimbang dan tidak dianjurkan untuk masyarakat umum. Mungkin bisa diterapkan sementara pada individu tertentu dengan pengawasan medis ketat, tetapi tidak aman jika dijalankan secara luas,” ujarnya.
Menurut Prof Sri Anna, pada fase awal diet karnivora, sebagian orang memang mengalami penurunan berat badan yang cukup cepat. Namun, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penurunan lemak tubuh yang sehat, melainkan akibat berkurangnya cadangan glikogen dan cairan tubuh.
“Adaptasi metabolik pada awal diet karnivora sering disertai keluhan seperti kelelahan, konstipasi, bau napas, hingga kram otot,” jelasnya.
Risiko yang lebih serius justru muncul dalam jangka panjang. Diet karnivora dinilai sangat tidak seimbang secara zat gizi dan hampir pasti menyebabkan defisit serat, vitamin C, folat, serta berbagai senyawa fitokimia yang penting bagi kesehatan.
Risiko Jantung, Ginjal, dan Saluran Cerna
Prof Sri Anna menyoroti klaim bahwa diet karnivora efektif membakar lemak melalui mekanisme ketosis. Ia mengakui kondisi ketosis memang bisa terjadi karena asupan karbohidrat yang sangat rendah. Namun, manfaat tersebut harus ditimbang dengan risiko kesehatan yang menyertainya.
Konsumsi pangan hewani tanpa disertai sayur dan buah cenderung tinggi lemak jenuh dan kolesterol. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL), terutama pada individu dengan riwayat dislipidemia. Ketiadaan serat juga dapat mengganggu metabolisme lipid dalam tubuh.
Selain itu, asupan protein yang sangat tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal. Ginjal harus menyaring limbah nitrogen dalam jumlah besar, sehingga berisiko menimbulkan kerusakan ginjal hingga gagal ginjal, khususnya pada individu dengan riwayat penyakit ginjal dan hidrasi yang tidak optimal.
Pada saluran cerna, ketiadaan serat berisiko menyebabkan konstipasi dan ketidakseimbangan mikrobiota usus. Asupan lemak tinggi juga memicu produksi asam empedu berlebih.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak mukosa usus, memicu peradangan kronis, bahkan meningkatkan risiko kanker kolorektal. Asam empedu sekunder yang tinggi dapat bersifat karsinogen bagi sel-sel usus,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, tidak adanya serat nabati membuat tubuh kehilangan produksi asam lemak rantai pendek atau short-chain fatty acids (SCFA) seperti butirat, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan usus, sistem imun, dan metabolisme tubuh. “Risiko-risiko ini sering kali bersifat silent dan kumulatif,” kata dia.
Selain dari sisi kesehatan, diet karnivora juga dinilai tidak sejalan dengan isu keberlanjutan lingkungan. Pola makan yang sepenuhnya bergantung pada pangan hewani berkontribusi terhadap tingginya emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan dan air yang besar, serta tekanan terhadap ekosistem. Produksi daging, terutama daging merah, diketahui menghasilkan jejak karbon lebih tinggi dibandingkan pangan nabati, baik dari proses peternakan, pakan ternak, hingga distribusi.
Jika diterapkan secara luas, pola konsumsi tinggi daging dinilai sulit berkelanjutan karena mendorong ekspansi lahan peternakan dan berpotensi mempercepat deforestasi serta hilangnya keanekaragaman hayati. Hal ini bertentangan dengan upaya global untuk mendorong sistem pangan yang lebih ramah lingkungan, beragam, dan efisien dalam penggunaan sumber daya alam. Karena itu, pola makan seimbang yang mengombinasikan protein hewani dan nabati dipandang lebih adaptif dalam menghadapi tantangan kesehatan, perubahan iklim, dan ketahanan pangan.
Rekomendasi Pola Makan yang Lebih Aman
Sebagai alternatif, Prof Sri Anna merekomendasikan pola makan yang seimbang dan berbasis bukti ilmiah. Salah satunya adalah Mediterranean diet yang mengombinasikan protein hewani dan nabati, tinggi serat, serta lemak tak jenuh, dan terbukti menurunkan risiko penyakit tidak menular.
Pilihan lain adalah diet tinggi protein seimbang dengan porsi protein sekitar 20–25 persen dari total energi, namun tetap mengandung karbohidrat kompleks dan serat. Pola ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan diet ekstrem rendah karbohidrat.
Ia juga menekankan pentingnya menerapkan prinsip gizi seimbang melalui panduan “Isi Piringku” berbasis pangan lokal. “Pola ini mudah diterapkan, sesuai dengan budaya makan Indonesia, dan aman untuk populasi luas,” tutupnya.

Ananda Astri Dianka
Editor
