Trio Bank Himbara Ngegas Awal Tahun, Efek Guyuran Rp200 T?
- Guyuran likuiditas Rp200 triliun dari pemerintah mendorong kinerja trio bank Himbara. BMRI, BBRI, dan BBNI mencatat pertumbuhan laba serta kredit solid awal 2026.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Langkah agresif pemerintah menyuntikkan kas negara sebesar Rp200 triliun ke sistem perbankan terbukti menjadi katalis positif bagi industri keuangan nasional. Kebijakan yang diperpanjang pasca 13 Maret 2026 ini berhasil memperlonggar likuiditas sekaligus menekan suku bunga kredit tertimbang menjadi 8,80% pada awal tahun.
Guyuran likuiditas tersebut turut menurunkan biaya dana perbankan. Data Januari 2026 yang dinukil dari dokumen APBN KITA menunjukkan bunga deposito tenor satu bulan berada di level 4,14%, sementara tenor tiga dan enam bulan masing-masing tercatat sebesar 4,66% dan 4,62%. Penurunan suku bunga ini memberikan ruang ekspansi yang lebih luas bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan.
Pelonggaran likuiditas juga tercermin dari pertumbuhan kredit nasional yang menembus level 10,0%, diimbangi kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 13,5%. Di saat yang sama, uang primer yang tumbuh 14,2% semakin memperkuat indikasi bahwa kondisi likuiditas domestik berada dalam fase longgar di tengah dinamika ekonomi global.
Dampak kebijakan tersebut tercermin pada kinerja tiga bank besar Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang kompak mencatatkan pertumbuhan laba dan kredit solid pada awal 2026.
Bank Mandiri (BMRI) Pimpin Dominasi Laba Terbesar
Bank Mandiri memimpin dominasi pasar dengan raupan laba bersih terbesar senilai Rp4,65 triliun pada Januari 2026. Angka tersebut tumbuh 16,18% berkat dukungan penyaluran kredit yang menembus Rp1.511,41 triliun. Strategi penyeimbangan antara kredit dan pendanaan ini membuat struktur likuiditas mereka tetap kokoh terjaga dengan baik.
Laju kredit Bank Mandiri tersebut melesat 15,62%, didukung penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp1.635,48 triliun secara tahunan. Pertumbuhan DPK yang menyentuh 17,29% ini membuat likuiditas operasional bank tetap sangat kokoh. Mereka berhasil memanfaatkan momentum pelonggaran likuiditas makro pemerintah secara sangat optimal bagi kemajuan ekspansi perusahaan.
Efisiensi operasional dan manajemen risiko yang ketat juga menjadi faktor penentu kesuksesan Bank Mandiri di awal tahun. Penurunan biaya bunga akibat melimpahnya likuiditas pasar membuat margin bunga bersih mereka terjaga. Posisi ini memperkuat status Bank Mandiri sebagai pemimpin pasar dalam industri perbankan nasional.
Laba Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Meroket 85,40%
Bank Rakyat Indonesia mencatat lonjakan laba paling fantastis yang meroket tajam hingga mencapai 85,40%. Keuntungan tersebut menyentuh Rp3,72 triliun dengan motor penggerak utama berasal dari ekosistem UMKM. Ekspansi kredit mereka tetap tumbuh stabil pada level 11,95% di tengah ketersediaan likuiditas nasional.
Total penyaluran kredit BBRI mencapai Rp1.354,08 triliun, didukung kuat oleh penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp1.495,69 triliun. Pertumbuhan DPK sebesar 9,96% ini memberikan amunisi yang cukup guna mendukung permodalan nasabah kecil di pelosok. Capaian impresif ini mempertegas peran ekosistem UMKM sebagai motor penggerak utama perseroan.
Lonjakan laba yang sangat dramatis ini membuktikan efektivitas transformasi digital dan pemberdayaan segmen mikro perbankan. Biaya dana yang murah dari kebijakan pemerintah tahun ini benar-benar dikonversi menjadi keuntungan maksimal. BRI kini semakin kokoh dalam menjalankan fungsi intermediasi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ekspansi Kredit BNI (BBNI) Tercatat Paling Agresif
Bank Negara Indonesia juga tampil impresif melalui pertumbuhan kredit paling agresif di antara bank Himbara lainnya. Penyaluran pinjaman mereka melesat tajam 19,27% dengan total kredit mencapai angka Rp894,29 triliun. Meskipun labanya tumbuh moderat sebesar 3,45%, ekspansi bisnis BNI menunjukkan optimisme yang sangat tinggi.
Gebrakan ini didukung oleh meroketnya penghimpunan dana pihak ketiga nasabah hingga mencapai angka Rp1.051,49 triliun. Capaian tersebut mencerminkan lonjakan masif 35,80% yang membuktikan tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap kredibilitas bank tersebut. Agresivitas BNI dalam menyalurkan kredit mencerminkan optimisme terhadap prospek pemulihan ekonomi nasional ke depan di masa mendatang.
Ketebalan basis dana pihak ketiga ini membuat BBNI memiliki daya tahan likuiditas yang sangat memadai untuk berekspansi. Fokus pada penguatan dana murah menjadi strategi jitu dalam menjaga profitabilitas di tengah persaingan pasar. Langkah ini diprediksi akan terus memacu pertumbuhan kinerja bank pada kuartal-kuartal berikutnya.
Tabel Rekap Tiga Bank BUMN Januari 2026


Alvin Bagaskara
Editor
