Tren Pasar

Saham Korsel dan IHSG Jatuh, Ini Pemicu dan Pebedaannya

  • Saham Korea Selatan dan IHSG sama-sama melemah tajam. Namun tekanan KOSPI didorong sentimen AI global, sedangkan IHSG dibayangi risiko kebijakan domestik.
RATZWZOEG5DHVAU3TBGGIQJW3U.jpg
Ilustrasi saham gorengan. (Ajaib)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Bursa saham Asia mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, dipimpin koreksi tajam bursa Korea Selatan disusul pasar saham Indonesia. 

Penurunan ini terjadi di tengah aksi jual global, kekhawatiran terhadap saham teknologi di Wall Street, serta sentimen negatif domestik usai Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.

Indeks South Korea KOSPI turun sekitar 3,8% pada sesi Jumat, menandai salah satu koreksi terkuat dalam beberapa minggu terakhir. Pelemahan pasar dilakukan setelah saham-saham teknologi besar mengalami tekanan, dipicu kekhawatiran bahwa belanja besar sektor Big Tech ke arah kecerdasan buatan (AI) mungkin tidak akan berlanjut sekuat sebelumnya, sehingga membebani prospek keuntungan perusahaan-perusahaan teknologi global. 

Aktivasi sidecar (mekanisme penghentian sementara perdagangan otomatis untuk meredam gejolak pasar) turut terjadi lantaran kontrak berjangka KOSPI sempat anjlok lebih dari 5%.

Penurunan di Korea Selatan juga mencerminkan pola aksi jual oleh investor asing yang mengambil langkah risk-off dan menarik modal dari pasar yang dipandang lebih rentan terhadap likuiditas global. 

Saham-saham seperti Samsung Electronics dan SK Hynix mencatatkan koreksi signifikan, sementara sektor otomotif dan kontraktor industri juga melemah tajam.

Disisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia juga melemah tajam, dengan penurunan awal lebih dari 2,8% ke area 7.800-an pada penutupan sesi pertama Jumat. 

Sentimen global telah mendorong IHSG turun, tetapi tekanan makin dalam setelah Moody’s memotong outlook kredit Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif”, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prediktabilitas kebijakan dan tata kelola ekonomi domestik.

Indeks LQ45, yang mencakup saham-saham unggulan, juga merosot tajam, sementara jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibanding yang menguat. Beberapa analis pasar memperkirakan bahwa IHSG berpotensi menguji level support di area 8.000 akibat kombinasi sentimen global dan domestik.

Perbedaan Tekanan : Sentimen Global vs Domestik

Tekanan yang dialami pasar saham Korea Selatan dan Indonesia hari ini memiliki karakter yang berbeda, meskipun sama-sama terjadi dalam suasana risk-off global. Perbedaan sumber tekanan ini menjelaskan mengapa respons investor dan arah pelemahan di masing-masing bursa tidak sepenuhnya seragam.

Dilansir Korean Times, Jumat, 6 Februari 2026, di Korea Selatan, pelemahan KOSPI lebih dominan dipicu oleh sentimen global, khususnya terkait sektor teknologi. Kekhawatiran investor menguat seiring meningkatnya spekulasi bahwa belanja agresif perusahaan teknologi besar (Big Tech) di Amerika Serikat untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi melambat.

 Selama dua tahun terakhir, saham teknologi menjadi motor utama reli pasar global, termasuk di Korea Selatan yang indeksnya sangat bergantung pada emiten teknologi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix.

Ketika muncul indikasi bahwa pertumbuhan belanja modal AI tidak secepat ekspektasi pasar, investor global segera melakukan aksi ambil untung (profit taking) dan reposisi portofolio. 

Aksi jual di Wall Street dengan cepat menular ke pasar Asia, termasuk KOSPI, yang dikenal sensitif terhadap perubahan sentimen teknologi global. Kondisi ini diperparah oleh arus keluar dana asing dari pasar saham Korea Selatan, seiring investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi.

Berbeda dengan Korea Selatan, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia bersifat lebih kompleks karena berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. 

Dari sisi global, IHSG tidak luput dari imbas pelemahan bursa regional dan meningkatnya kehati-hatian investor internasional. Namun, tekanan domestik menjadi faktor pembeda yang signifikan.

Sentimen pasar Indonesia memburuk setelah penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, yang dipersepsikan mencerminkan meningkatnya risiko ketidakpastian kebijakan fiskal dan iklim investasi ke depan. 

Bagi investor, perubahan outlook ini bukan sekadar isu teknis, melainkan sinyal meningkatnya risiko jangka menengah terkait keberlanjutan fiskal, efektivitas belanja negara, serta konsistensi arah kebijakan ekonomi.

Akibatnya, investor asing dan domestik cenderung mengambil sikap lebih defensif terhadap aset keuangan Indonesia. Tekanan jual tidak hanya terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, tetapi juga meluas ke sektor perbankan, infrastruktur, dan saham-saham berbasis konsumsi yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG. 

Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa pelemahan IHSG bukan semata reaksi sesaat terhadap sentimen global, melainkan juga refleksi kekhawatiran struktural dari dalam negeri.

Dengan demikian, jika pelemahan KOSPI lebih merefleksikan siklus sentimen global dan volatilitas sektor teknologi, maka koreksi IHSG mencerminkan uji kepercayaan investor terhadap fundamental dan kebijakan ekonomi domestik. 

Perbedaan inilah yang membuat pelaku pasar menilai pemulihan IHSG akan sangat bergantung pada kejelasan arah kebijakan fiskal, stabilitas makroekonomi, serta kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas di mata investor, di samping membaiknya sentimen global.