Tren Pasar

Rupiah Tembus Rp18.033, Dibayangi Risiko Arus Modal Asing dan MSCI

  • Rupiah melemah ke Rp18.033 per dolar AS. Risiko arus modal asing, evaluasi MSCI, harga minyak, dan langkah stabilisasi BI menjadi sorotan.
Uang rupiah dan dolar AS
Uang rupiah dan dolar AS (Freepik.com/8photo)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Rupiah turun 11 poin atau sekitar 0,06% ke level Rp18.033 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.022 per dolar AS.

Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu, 21 Oktober 2026, rupiah ditutup melemah 30 poin atau sekitar 0,17% dari Rp17.992 menjadi Rp18.022 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berlangsung di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Investor mencermati rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta tingginya harga minyak dunia.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat likuiditas perbankan.

Usulan MSCI Memicu Kekhawatiran Arus Modal Asing

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan, salah satu faktor yang membayangi rupiah adalah ketidakpastian terkait rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia.

Perubahan dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi memengaruhi keputusan investor global, khususnya pengelola dana yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.

"Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat menambah tekanan terhadap rupiah di tengah upaya menjaga stabilitas pasar keuangan," kata Amru kepada Antara di Jakarta, Rabu.

Arus modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar. Jika investor melepas aset domestik dan mengalihkan dana ke pasar lain, kebutuhan terhadap valuta asing dapat meningkat, bergantung pada bagaimana hasil penjualan aset tersebut dikonversi dan dipindahkan.

Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah. Namun, dampak usulan perubahan klasifikasi MSCI belum dapat dipastikan karena masih bergantung pada keputusan akhir, respons investor, dan kondisi pasar keuangan secara keseluruhan.

BI Andalkan Instrumen Moneter untuk Menjaga Rupiah

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%. BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% dan mempertahankan Lending Facility di level 6,50%.

Menurut Amru, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan instrumen kebijakan moneter untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan.

Selain kebijakan suku bunga, BI memperkuat insentif untuk instrumen lindung nilai Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

DNDF memungkinkan pelaku pasar melakukan lindung nilai terhadap risiko perubahan kurs rupiah terhadap dolar AS tanpa penyerahan fisik valuta asing pada saat penyelesaian transaksi. Instrumen ini dapat membantu perusahaan dan pelaku pasar mengelola ketidakpastian nilai tukar.

Penguatan instrumen lindung nilai diharapkan mendukung pengelolaan risiko kurs dan memperdalam pasar keuangan domestik. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi likuiditas, permintaan valuta asing, dan sentimen investor.

Harga Minyak dan Geopolitik Menambah Risiko

Selain faktor arus modal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak dunia turut menjadi risiko bagi rupiah.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi dan kebutuhan dolar AS untuk membayar transaksi tersebut. Jika berlangsung bersamaan dengan arus modal keluar, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi bertambah.

Namun, pergerakan harga minyak bukan satu-satunya penentu rupiah. Arah dolar AS, ekspektasi suku bunga global, dan kondisi transaksi berjalan juga memengaruhi dinamika nilai tukar.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor barang, bahan baku, dan komponen produksi yang dibayar menggunakan dolar AS. Jika tekanan kurs berlanjut, pelaku usaha yang bergantung pada impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya.

Dampaknya terhadap harga konsumen tidak selalu langsung terjadi. Perusahaan masih mempertimbangkan persediaan, kontrak pembelian, biaya distribusi, dan kemampuan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor perlu mencermati perkembangan keputusan MSCI, arus modal asing, pergerakan harga minyak, dan langkah stabilisasi BI.

Usulan perubahan klasifikasi MSCI menjadi salah satu sumber ketidakpastian bagi pasar saham, sedangkan perkembangan geopolitik dan harga energi dapat memengaruhi kebutuhan dolar AS. Di sisi lain, kebijakan moneter dan instrumen lindung nilai BI menjadi bagian dari upaya meredam volatilitas.

Rupiah yang kembali berada di atas Rp18.000 per dolar AS menunjukkan tekanan eksternal masih berlangsung. Arah pergerakan berikutnya akan bergantung pada perkembangan sentimen global dan respons pasar terhadap kebijakan domestik.