Prospek Saham GOTO 2026: Incar EBITDA Rp3,4 T Lewat AI dan Fintech
- Intip prospek saham GOTO di 2026. Usai sukses pangkas rugi, manajemen kini bidik EBITDA Rp3,4 triliun lewat dorongan bisnis fintech dan optimalisasi AI.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tengah mengalami pergeseran fundamental yang sangat masif. Ketergantungan perseroan terhadap euforia e-commerce perlahan tergantikan oleh ledakan lini bisnis teknologi finansial (fintech), khususnya penyaluran pinjaman, yang kini tampil sebagai tulang punggung baru pencetak pundi-pundi keuntungan.
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga dan Lizmay Karensia dalam risetnya menjelaskan pergeseran fokus bisnis GOTO ini sukses membuat Adjusted EBITDA perseroan meroket tajam 514,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp2,01 triliun sepanjang 2025.
Meskipun pada kuartal IV-2025 GOTO sempat mencatat pelebaran rugi bersih menjadi Rp505 miliar akibat tingginya beban bunga, struktur fundamental perseroan dinilai semakin solid. Sepanjang 2025, kerugian bersih berhasil ditekan tajam dari Rp5,47 triliun pada 2024 menjadi Rp1,50 triliun.
"Hal ini mengindikasikan jalur yang berkelanjutan menuju profitabilitas, meskipun terdapat pelebaran rugi bersih pada kuartal IV-2025 sebesar Rp505 miliar akibat beban bunga yang lebih tinggi sebesar Rp174 miliar," tulis keduanya dalam riset resmi pada Senin, 16 Maret 2026.
Ledakan Kredit di Tengah Normalisasi E-Commerce
Hal paling menarik dari struktur pendapatan GOTO saat ini adalah anomali antara segmen e-commerce dan fintech. Ketika segmen e-commerce mulai mengalami normalisasi transaksi di kuartal IV-2025 dengan pendapatan biaya bersih turun 5,4% YoY menjadi Rp173 miliar, bisnis fintech justru melaju tak terbendung bak mesin turbo.
Tak ayal, ekspansi agresif penyaluran pinjaman induk aplikasi Gojek berhasil meledak, mendongkrak pendapatan fintech sebesar 61,4% YoY menjadi Rp5,78 triliun. Lebih impresif lagi, Adjusted EBITDA segmen ini akhirnya sukses berbalik positif mencetak cuan di angka Rp497 miliar.
"Segmen Fintech muncul sebagai mesin pertumbuhan utama, dengan total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp28,7 triliun atau naik 82,1 persen secara tahunan. Hal ini mencerminkan peningkatan skala dan efisiensi operasional," tegas duo analis Phintraco Sekuritas tersebut mengafirmasi status fintech sebagai pahlawan baru GOTO.
Tentu saja, ledakan fintech ini tetap ditopang oleh fondasi kuat dari segmen On-Demand Services (ODS) atau layanan mobilitas. ODS membuktikan diri sebagai pilar perusahaan yang kebal guncangan dengan Adjusted EBITDA melesat 105,2% YoY menjadi Rp1,39 triliun, didorong oleh perbaikan take rate di level 18,66%.
Ambisi Cuan Ekstra GOTO di 2026
Berbekal dua mesin utama (ODS dan Fintech) yang kini sudah mampu mencetak nilai positif, manajemen GOTO menatap tahun anggaran 2026 dengan ambisi yang jauh lebih besar. Strategi optimalisasi fitur pencarian dan rekomendasi berbasis kecerdasan buatan (AI) disiapkan untuk menyasar pengguna premium maupun pasar massal.
Aditya Prayoga dan Lizmay mencatat, target perseroan ke depan sangat jelas. "Manajemen menargetkan peningkatan profitabilitas lebih lanjut pada tahun penuh 2026, dengan panduan Adjusted EBITDA Grup di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun, naik dari sekitar Rp2,0 triliun pada 2025," urai mereka.
Beban pencapaian target fantastis tersebut akan dibagi rata pada dua segmen jawara perseroan. Lini ODS diinstruksikan menyumbang EBITDA sebesar Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun, sementara lini fintech dibidik mampu mengakselerasi sumbangsihnya menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Alvin Bagaskara
Editor
