Perbandingan IPO JELI dan PRDL, Mana Lebih Menarik?
- IPO JELI dan PRDL resmi dibuka 1 Juli 2026. Simak profil emiten, harga IPO, penggunaan dana, kinerja keuangan, serta perbandingan prospek kedua saham baru di BEI.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali diramaikan oleh penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Mulai Rabu, 1 Juli 2026, dua calon emiten, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), resmi memasuki masa penawaran umum bersama PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX).
Meski sama-sama melantai di pasar modal pada periode yang sama, JELI dan PRDL menawarkan cerita yang berbeda. JELI menetapkan harga IPO di batas bawah kisaran penawaran awal, sedangkan PRDL justru berada di batas atas.
IPO JELI: Produsen INACO Bidik Dana Rp239,4 Miliar
PT Niramas Utama Tbk merupakan produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Perseroan bergerak di industri makanan olahan, khususnya produk jeli dan gummy candy.
Dalam IPO kali ini, JELI menawarkan 266 juta saham baru atau sekitar 19,7% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum.
Perseroan menetapkan harga IPO Rp900 per saham, sehingga berpotensi menghimpun dana sekitar Rp239,4 miliar. Masa penawaran umum berlangsung pada 1–3 Juli 2026, sedangkan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 7 Juli 2026.
Menariknya, harga tersebut berada di batas bawah rentang book building Rp900–Rp1.120 per saham.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: INCO dan BRPT Ngebut, CPIN Turun
Selain itu, jumlah saham yang dilepas juga dikurangi dari rencana awal 350 juta saham menjadi 266 juta saham. Dengan demikian, nilai dana yang dihimpun turun dibanding target awal yang diperkirakan mencapai Rp315 miliar hingga Rp392 miliar.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa minat investor selama masa penawaran awal tidak sekuat ekspektasi perusahaan sehingga strategi harga dan jumlah saham harus disesuaikan.
Sebagian besar dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat ekspansi bisnis. Sekitar 51,04% dialokasikan sebagai penyertaan modal kepada anak usaha, PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS), untuk meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jeli.
Selanjutnya, 18,36% digunakan sebagai belanja modal berupa pembelian mesin produksi, instalasi peralatan, hingga perlengkapan gudang.
Perseroan juga mengalokasikan 10,63% dana IPO untuk melunasi pokok utang fasilitas kredit modal kerja kepada Bank Mandiri senilai Rp25 miliar, sementara 19,97% sisanya digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya operasional, dan pemasaran.
Salah satu hal yang paling menarik dari JELI adalah kinerja keuangannya. Dalam dua tahun terakhir, penjualan perusahaan justru mengalami penurunan. Pada 2024 penjualan turun sekitar 6,02%, kemudian kembali turun 4,49% pada 2025.
Namun di sisi lain, laba bersih justru meningkat sangat tajam. Pada 2024 laba bersih melonjak sekitar 592,51%, kemudian kembali meningkat sekitar 235,50% pada 2025.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena kenaikan laba terjadi ketika penjualan mengalami kontraksi selama dua tahun berturut-turut. Investor perlu mencermati prospektus untuk mengetahui apakah lonjakan laba tersebut berasal dari efisiensi operasional yang berkelanjutan atau dipengaruhi pendapatan non-operasional maupun faktor satu kali (one-off).
IPO PRDL : Anak Usaha Prodia Pasang Harga Tertinggi
Sementara itu, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) merupakan anak usaha PT Prodia Widyahusada Tbk yang bergerak di bidang produksi alat kesehatan diagnostik atau in vitro diagnostics (IVD).
Perusahaan memiliki fasilitas produksi di Kawasan Industri Jababeka III, Cikarang, Jawa Barat. Dalam IPO, PRDL menawarkan 522,9 juta saham baru atau sekitar 30% dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum.
Harga IPO ditetapkan sebesar Rp120 per saham, atau berada di batas atas kisaran book building Rp100–Rp120 per saham. Dengan harga tersebut, perseroan berpotensi menghimpun dana sekitar Rp62,75 miliar.
Masa penawaran umum berlangsung pada 1–3 Juli 2026, sementara pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 9 Juli 2026. Berbeda dengan JELI, kemampuan PRDL menetapkan harga di batas atas menunjukkan permintaan investor yang relatif lebih kuat selama proses penawaran awal.
Baca juga : IHSG Dibuka Naik 0,84 Persen Hari Ini, Cek Data Lengkapnya
Dana hasil IPO PRDL sebagian besar akan digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan. Sekitar Rp35,66 miliar atau hampir 57% dari total dana akan digunakan untuk melunasi pinjaman kepada Bank Central Asia (BCA) dan Bank Panin.
Selain itu, sekitar 28,92% dana akan digunakan sebagai belanja modal, meliputi pembelian mesin, alat kalibrasi, kendaraan operasional, pengembangan perangkat lunak, serta penambahan air handling unit (AHU) pada Laboratorium Biomolekuler.
Sisanya sekitar 8,51% akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, kegiatan riset dan pengembangan (R&D), serta aktivitas pemasaran.
Perseroan juga menyediakan Employee Stock Allocation (ESA) sebanyak 36,6 juta saham, setara sekitar 7% dari total saham yang ditawarkan kepada publik.
Berbeda dengan JELI, PRDL justru menunjukkan laba yang berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 perusahaan membukukan laba bersih sekitar Rp35,8 miliar. Angka tersebut kemudian turun tajam menjadi sekitar Rp10 miliar pada 2024 atau menyusut sekitar 72%.
Pada 2025 kondisi mulai membaik dengan laba bersih meningkat menjadi sekitar Rp17 miliar, meskipun masih berada di bawah capaian tahun 2023.
Investor perlu mencermati penyebab penurunan laba pada 2024 sekaligus menilai apakah tren pemulihan yang terjadi pada 2025 dapat berlanjut setelah perusahaan resmi menjadi emiten.
Perbandingan IPO JELI dan PRDL
Meski sama-sama memasuki masa penawaran umum pada hari yang sama dan menggunakan penjamin pelaksana emisi yang sama, yakni PT Sucor Sekuritas, kedua perusahaan memiliki karakteristik yang berbeda.
JELI berasal dari sektor makanan dan minuman dengan merek INACO, menghimpun dana lebih besar sekitar Rp239,4 miliar, tetapi harus menetapkan harga IPO di batas bawah setelah mengurangi jumlah saham yang ditawarkan.
Sebaliknya, PRDL bergerak di sektor alat kesehatan diagnostik dengan dana IPO sekitar Rp62,75 miliar, namun mampu menetapkan harga di batas atas rentang penawaran awal.
Dari sisi penggunaan dana, JELI lebih banyak mengalokasikan hasil IPO untuk penyertaan modal ke anak usaha dan ekspansi kapasitas produksi. Sementara PRDL memprioritaskan pelunasan utang sebelum melanjutkan investasi pada fasilitas produksi dan pengembangan bisnis.

Muhammad Imam Hatami
Editor
