Menilik Fundamental HUMI, Masih Layak Dibeli?
- Saham HUMI melonjak 276% dalam setahun, pendapatan dan laba justru melemah. Apakah reli ini didukung fundamental atau sekadar euforia pasar?

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Saham PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) mencatat kenaikan ekstrem dalam dua tahun terakhir. Dari Rp50 pada Februari 2024, harga sempat menyentuh Rp390 pada Januari 2026, lonjakan hampir delapan kali lipat.
Setelah IHSG mengalami tekanan akibat sederet kebijakan MSCI, saham HUMI melemah ke level 181 pada sesi kedua perdagangan, 28 April 2026. Namun di balik reli yang fluktuatif tersebut, muncul pertanyaan krusial, apakah kinerja bisnisnya benar-benar ikut tumbuh?
Lonjakan Harga: Cepat, Tinggi, dan Volatil
Dalam satu tahun terakhir, saham HUMI naik sekitar 276%. Bahkan, dalam periode tertentu di 2025-2026, kenaikan terjadi sangat agresif:
- +48% dalam sepekan
- +90% dalam sebulan
- +368% sejak awal 2025 (YTD)
Puncaknya terjadi pada 21 Januari 2026 di Rp390 sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran Rp181 pada sesi pedagangan 2, 28 April 2026. Pola ini bukan hal baru di saham berkapitalisasi kecil, reli cepat diikuti koreksi tajam. Yang membedakan adalah skala kenaikannya dan minimnya dukungan fundamental.
Siapa di Balik HUMI?
HUMI merupakan perusahaan pelayaran dan logistik energi yang beroperasi di sektor strategis seperti LNG, minyak, bahan kimia, dan batubara.
Pemegang saham utamanya adalah PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk dengan kepemilikan sekitar 76,5%. Grup ini berada di bawah kendali Tommy Soeharto melalui jaringan bisnis Humpuss Group.
Selain itu, HUMI juga mengoperasikan fasilitas energi seperti FSRU (Floating Storage Regasification Unit), yang membuatnya berada di jalur strategis distribusi energi nasional.
Masalahnya: koneksi dan sektor strategis tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan laba.
Baca juga : Indeks LQ45 Dibuka Menguat, GOTO dan BBCA Melesat
Fundamental: Di Sini Letak Kontradiksinya
Di saat harga saham melonjak, kinerja keuangan HUMI justru menunjukkan tanda-tanda stagnasi.
- Pendapatan Q3-2025: Rp520 miliar (turun dari Q1-2025: Rp539 miliar)
- Laba bersih
- Sepanjang 2024 (full year), HUMI membukukan laba bersih USD11,5 juta, naik 10,6% secara year-on-year.
- Masuk Q1-2025, laba bersih tercatat USD3,16 juta, naik 36% dibanding Q1-2024 sebesar USD2,32 juta. Pendapatan usaha juga tumbuh 20,72% menjadi USD32,97 juta.
- Pada semester I-2025 (Januari–Juni), laba bersih yang diatribusikan ke pemilik induk sebesar USD4,96 juta, turun 3,15% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dipicu kenaikan beban pokok pendapatan dan biaya keuangan.
- Kumulatif hingga Q3-2025 (Januari–September), laba bersih tercatat USD7,63 juta, turun 12,9% secara year-on-year dari USD8,76 juta pada Q3-2024. Penurunan dipengaruhi kenaikan biaya keuangan dan operasional, meski laba bruto masih terjaga.
- Secara kuartalan, laba sebelum pajak di Q3-2025 turun signifikan menjadi Rp34 miliar, dari Rp57 miliar di Q1-2025 dan Rp70 miliar di Q4-2024. Laba bersih tahun berjalan Q3-2025 juga sebesar Rp34 miliar.
- Secara kumulatif 9 bulan (3Q-2025), laba bersih tercatat Rp121 miliar, turun dibanding periode yang sama 2024 sebesar Rp124 miliar.
- Earnings per share (EPS) tercatat Rp6,72 per lembar saham.
- PER : sekitar 33–54 kali (tinggi)
- EBITDA: Rp647 miliar (margin 27,43%)
- Free Cash Flow: negatif Rp25,97 miliar
Valuasi menjadi sorotan utama. Kenaikan PER atau Price to Earnings Ratio (Rasio Harga terhadap Laba) bukan didorong oleh pertumbuhan laba, melainkan oleh lonjakan harga saham. Dengan estimasi harga wajar di kisaran Rp172–173, posisi harga Rp188 masih tergolong premium.
Manajemen Baru, Harapan Baru?
Pada awal 2026, HUMI menunjuk I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra sebagai CEO. Sosok yang dikenal sebagai Ari Askhara ini membawa dua sisi sekaligus: reputasi agresif dalam mendorong ekspansi bisnis, namun juga catatan kontroversi saat memimpin Garuda Indonesia.
Manajemen menyampaikan ambisi besar untuk mentransformasi HUMI menjadi pemain logistik energi terintegrasi, bukan sekadar operator kapal. Namun hingga saat ini, arah tersebut masih sebatas narasi.
Belum terlihat realisasi aksi korporasi besar, belum ada akuisisi signifikan, dan belum tampak perubahan material pada model bisnis. Dengan kata lain, cerita sudah dibangun, tetapi eksekusinya masih dinantikan pasar.
Baca juga : IHSG Hari Ini 28 April 2026 Dibuka Naik Tipis, Cek Data Lengkapnya
Apa yang Mendorong Reli?
Kenaikan saham HUMI lebih mencerminkan:
- Ekspektasi sektor energi dan maritim
- Sentimen terhadap grup usaha besar
- Spekulasi pasar (high beta: 1,86)
Dengan volatilitas hampir dua kali IHSG, saham ini bergerak cepat—baik naik maupun turun.
Layak Dibeli atau Tidak? Tidak ada jawaban sederhana. Tapi ada beberapa poin objektif:
Positif:
- Sektor bisnis strategis (energi & logistik laut)
- Margin EBITDA relatif sehat
- Koneksi bisnis kuat
Risiko:
- Valuasi sudah tinggi
- Free cash flow negatif
- Pertumbuhan belum terbukti
- Volatilitas tinggi (beta 1,86)
Insight
Saham HUMI adalah contoh klasik gap antara harga dan fundamental. Reli 276% dalam setahun lebih mencerminkan ekspektasi dan sentimen pasar, bukan pertumbuhan bisnis yang nyata.
Untuk investor:
- Trader jangka pendek: volatilitas = peluang
- Investor jangka panjang: tunggu bukti kinerja
Karena pada akhirnya, harga bisa naik karena cerita—tapi bertahan hanya jika didukung kinerja.

Muhammad Imam Hatami
Editor
