Tren Pasar

Membaca Pola Panic Selling IHSG di Awal Prabowo Menjabat

  • IHSG berulang kali mengalami panic selling di awal era Prabowo. Tekanan global, fiskal, dan isu struktural pasar modal memukul sentimen investor.
RATZWZOEG5DHVAU3TBGGIQJW3U.jpg
Ilustrasi saham gorengan. (Ajaib)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Sepanjang 2025 hingga awal 2026, atau pada fase awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pasar saham Indonesia sempat beberapa kali berada dalam tekanan berat. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berulang kali mengalami pelemahan tajam yang kerap berkembang menjadi panic selling, mencerminkan rapuhnya sentimen investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Tekanan tersebut diperparah oleh tantangan fiskal domestik dan persoalan struktural pasar modal, mulai dari isu transparansi, likuiditas, hingga konsentrasi kepemilikan saham. 

Kombinasi faktor global dan domestik ini membuat pergerakan IHSG sangat volatil, sekaligus menjadi ujian awal bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia pada masa transisi dan konsolidasi kebijakan di awal pemerintahan Prabowo

Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, berikut beberapa kejadian panic selling IHSG Selama prabowo menjabat,

7 Februari 2025

Periode tekanan dimulai pada 7 Februari 2025 ketika IHSG melemah 1,708%. Pelemahan terutama terjadi pada sektor energi dan infrastruktur yang selama ini menjadi tulang punggung indeks. 

Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan proyek-proyek besar dan ruang fiskal pemerintah, di tengah sinyal perlambatan daya beli domestik yang mulai terlihat.

4 Maret 2025

Tekanan meningkat pada 4 Maret 2025, IHSG turun 1,445%setelah saham-saham konglomerasi besar seperti AMMN, BREN, dan TPIA mengalami koreksi tajam.

Aksi jual pada saham berkapitalisasi besar ini langsung menyeret indeks dan memicu kekhawatiran bahwa pelemahan tidak lagi bersifat sektoral, melainkan mulai menyentuh fondasi pasar.

18 Maret 2025

Situasi memburuk pada 18 Maret 2025 ketika IHSG sempat anjlok hingga 1,950% dan berlanjut melemah 1,443% dalam satu hari perdagangan. Tekanan tersebut memaksa Bursa Efek Indonesia memberlakukan trading halt selama 30 menit. 

Pasar bereaksi terhadap akumulasi krisis kepercayaan, mulai dari defisit APBN yang melebar, pelemahan daya beli, hingga aksi jual agresif saham-saham blue chip oleh investor asing.

24 Maret 2025

Belum ada pemulihan berarti, pada 24 Maret 2025 IHSG kembali turun 1,298%. Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi sepanjang Maret, seiring minimnya katalis positif dan dominasi sikap wait and see di kalangan pelaku pasar.

Baca juga : Direktur BEI Iman Rachman Mundur di Tengah Gejolak Pasar

8 April 2025

Tekanan mencapai puncaknya pada 8 April 2025. Usai libur panjang Lebaran, IHSG langsung ambruk 9,159% dalam waktu singkat hingga memicu trading halt selama 30 menit. 

Aksi jual berlangsung masif di hampir seluruh sektor, dipicu akumulasi sentimen negatif selama libur bursa, tekanan pasar global, serta kembali mencuatnya isu tarif dagang Amerika Serikat di era Donald Trump.

1 September 2025

Setelah periode relatif stabil, gejolak kembali muncul pada 1 September 2025. IHSG merosot 2,687% di awal sesi perdagangan seiring kekhawatiran terhadap aksi demonstrasi di Jakarta dan sikap wait and see investor global menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat.

8 September 2025

Tekanan berlanjut pada 8 September 2025 ketika IHSG turun 1,317 persen. Tidak ada satu katalis dominan, namun pelemahan mencerminkan kelanjutan tren bearish dan rapuhnya sentimen pasar yang belum pulih sepenuhnya.

Baca juga : Direktur BEI Iman Rachman Mundur di Tengah Gejolak Pasar

14 Oktober 2025

Memasuki Oktober, tekanan meningkat signifikan. Pada 14 Oktober 2025, IHSG melemah 2,310% akibat eskalasi perang dagang Amerika Serikat dan China serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap defisit APBN yang melebar.

15 Oktober 2025

Sehari berselang, 15 Oktober 2025, IHSG kembali turun 1,169%. Pelemahan rupiah dan berlanjutnya aksi jual investor asing mendorong pergeseran dana ke aset aman, terutama emas yang mencetak rekor harga baru pada periode tersebut.

27 Oktober 2025

Ketidakpastian pasar memasuki babak baru pada 27 Oktober 2025 ketika IHSG melemah 1,964%. Pasar merespons isu perubahan metodologi MSCI dan potensi pengetatan kebijakan free float, yang dinilai menyentuh aspek struktural pasar modal Indonesia.

28 Januari 2026

Gejolak mencapai puncaknya pada 28 Januari 2026. IHSG runtuh hingga sekitar 7% di awal sesi perdagangan dan kembali dikenai trading halt di sesi kedua.

Tekanan dipicu keputusan MSCI membekukan indeks review serta sorotan terhadap transparansi free float emiten, memunculkan risiko penurunan status Indonesia ke kategori Frontier Market.

Baca juga : Direktur BEI Iman Rachman Mundur di Tengah Gejolak Pasar

29 Januari 2026

Krisis berlanjut ke 29 Januari 2026, IHSG kembali anjlok sekitar 8% di awal perdagangan setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. 

Meski sempat terjadi rebound teknikal, IHSG tetap ditutup melemah 1,06% di level 8.232,20, menegaskan pemulihan belum diiringi kembalinya kepercayaan investor.

Rangkaian kejadian dari awal 2025 hingga Januari 2026 menunjukkan pola panic selling yang berulang dan semakin dalam. Tekanan pasar tidak hanya bersumber dari sentimen global, tetapi juga dari persoalan fiskal, sosial, dan struktural domestik. 

Ketergantungan tinggi terhadap arus modal asing serta isu MSCI dan free float menjadi faktor utama yang memperparah volatilitas IHSG di era awal pemerintahan Prabowo.