Tren Pasar

IHSG Anjlok Dalam: Ketika Pasar Digerakkan Ketakutan

  • Kejatuhan IHSG dinilai bukan sekadar koreksi harian biasa, melainkan sebuah fase kehancuran psikologis pasar yang terjadi secara cepat dan serentak.
<p>Awak media mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22 pada akhir sesi Senin (3/8/2020), setelah bergerak di rentang 4.928,47 &#8211; 5.157,27. Artinya, indeks sempat anjlok 4 persen dan terlempar dari zona 5.000. Risiko penurunan data perekonomian kawasan Asean termasuk Indonesia menjadi penyebab (IHSG) terkoreksi cukup dalam hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Awak media mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22 pada akhir sesi Senin (3/8/2020), setelah bergerak di rentang 4.928,47 – 5.157,27. Artinya, indeks sempat anjlok 4 persen dan terlempar dari zona 5.000. Risiko penurunan data perekonomian kawasan Asean termasuk Indonesia menjadi penyebab (IHSG) terkoreksi cukup dalam hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pasar modal Indonesia mengalami guncangan serius setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk lebih dari 7% pada pembukaan perdagangan, Kamis, 29 Januari, 2025.

Padahal Rabu, 28 Januari 2025 IHSG sudah anjlok di kisaran 8%. Kondisi tersebut mencerminkan kejatuhan tajam yang langsung memicu kepanikan massal di kalangan investor. 

Tekanan jual yang sangat besar membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung menerapkan trading halt pasca pembukaan pasar, menandai betapa ekstremnya kondisi pasar pada sesi tersebut.

Kejatuhan ini dinilai bukan sekadar koreksi harian biasa, melainkan sebuah fase kehancuran psikologis pasar yang terjadi secara cepat dan serentak. Banyak investor ritel panik dan melepas saham tanpa mempertimbangkan fundamental, sehingga tekanan jual menyebar ke hampir seluruh sektor.

Founder Astronacci International, Prof. Dr. Gema Goeyardi, menegaskan bahwa anjloknya IHSG sejatinya telah masuk dalam proyeksi analisisnya sejak akhir tahun lalu. Menurutnya, pasar sudah berada di zona rawan koreksi besar setelah reli panjang. “Sejak Desember 2025, kami memproyeksikan IHSG berpotensi terkoreksi setelah menyentuh area 9.150, dengan target pelemahan hingga kisaran 8.200,” ujar Gema.

Baca juga : Efek MSCI Masih Terasa, Cuma ISAT yang Menguat di Saham LQ45

Ia menjelaskan tekanan yang terjadi kali ini diperparah oleh kondisi yang disebutnya sebagai Defect System, yakni situasi ketika sistem pasar tidak lagi bekerja secara rasional akibat tekanan psikologis kolektif.

Dalam kondisi tersebut, saham-saham berkapitalisasi besar dan valuasi tinggi menjadi sasaran utama penjualan, meskipun secara fundamental tidak mengalami perubahan signifikan. Dampaknya, kejatuhan IHSG berlangsung cepat dan merata, menyeret indeks ke zona merah terdalam.

Mirip Tariff War 2025

Gema juga menilai situasi pasar saat ini memiliki kemiripan dengan fase krisis sentimen sebelumnya, seperti saat Tariff War 2025, ketika sentimen negatif menyebar luas meskipun tidak sepenuhnya ditopang oleh data fundamental yang memburuk.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan  pasar digerakkan oleh ketakutan, bukan oleh rasionalitas ekonomi. Selain faktor teknikal dan psikologis, Astronacci juga mengaitkan anjloknya IHSG dengan siklus ekstrem yang terjadi pada akhir Januari 2026. 

Dalam analisisnya, kejatuhan pasar bertepatan dengan fenomena astrologi Mars Conjunction Pluto pada 28 Januari 2026, yang disebut sering muncul di titik-titik ekstrem pasar global. “Mars Conjunction Pluto sering menjadi sinyal tekanan puncak pasar. Dalam banyak kasus, fase ini justru menandai proses bottoming atau akhir dari penurunan besar,” ujar Gema.

Baca juga : IHSG Terus Berdarah, AGAR dan SURE jadi Anomali

Mars Conjunction Pluto merupakan istilah dalam astrologi yang merujuk pada posisi planet Mars dan Pluto berada pada derajat yang sama atau sangat berdekatan dalam satu garis edar, sehingga secara simbolik dianggap memperkuat pengaruh satu sama lain. 

Dalam kerangka astrologi finansial yang digunakan Astronacci, Mars melambangkan aksi agresif, konflik, dan tekanan, sementara Pluto merepresentasikan krisis, kehancuran, dan transformasi besar. 

Ketika kedua planet ini berada dalam posisi konjungsi, fase tersebut diyakini sering bertepatan dengan lonjakan emosi kolektif, keputusan ekstrem, serta volatilitas tinggi di pasar keuangan global.

Dalam konteks pasar saham, Mars Conjunction Pluto tidak dipandang sebagai penyebab langsung kejatuhan harga, melainkan sebagai penanda momentum psikologis ekstrem, ketika ketakutan atau euforia investor mencapai titik puncak. 

Karena itu, dalam banyak kajian astrologi pasar, fase ini kerap dikaitkan dengan titik balik penting, baik berupa awal kejatuhan tajam maupun fase bottoming setelah tekanan besar terjadi.

Tekanan MSCI

Di luar analisis Astronacci, tekanan terhadap IHSG juga diperkuat oleh sentimen eksternal, khususnya terkait peninjauan dan rebalancing indeks global oleh MSCI. Keputusan tersebut memicu aksi jual dari investor institusi dan asing, yang kemudian memperparah panic selling di pasar domestik.

Akibat kombinasi tekanan internal dan eksternal tersebut, hampir seluruh sektor di IHSG mengalami pelemahan tajam dalam waktu singkat. Namun demikian, Gema menilai kejatuhan ini lebih mencerminkan kehancuran psikologis pasar dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Meski menggambarkan kondisi pasar sebagai fase kehancuran jangka pendek, Astronacci menilai IHSG mulai mendekati area support penting, sehingga peluang pemantulan teknikal masih terbuka. Namun, investor diimbau untuk tidak terburu-buru masuk ke pasar tanpa konfirmasi yang jelas.

Menurutnya, pendekatan yang lebih rasional diperlukan setelah fase kepanikan mereda, dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat yang telah turun ke level harga yang lebih wajar, serta menghindari saham-saham yang masih berada di zona valuasi mahal dan rentan tekanan lanjutan.

Kejatuhan IHSG lebih dari 7% ini pun menjadi peringatan keras bahwa pasar modal sangat rentan terhadap tekanan psikologis dan sentimen global. 

Apakah fase ini akan menjadi titik balik atau justru awal tekanan lanjutan, akan sangat ditentukan oleh respons pelaku pasar dan perkembangan sentimen dalam beberapa hari perdagangan ke depan.