Harta Rp93 T, Siapa Han Arming Hanafia Pemegang Saham DCII?
- Han Arming Hanafia merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia versi Forbes berkat saham DCII. Taipan senyap ini memiliki portofolio bernilai fantastis.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Di tengah hingar bingar panggung teknologi nasional, nama Han Arming Hanafia justru lebih sering berada di balik layar. Namun sosok pendiri PT DCI Indonesia Tbk (DCII) ini sejatinya merupakan sebuah kekuatan senyap penopang utama ekosistem infrastruktur digital negara.
Lantai bursa mencatat pergerakan saham perusahaan penyedia pusat data tersebut tertahan stagnan pada level Rp215.800 per lembar pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Dinamika pasar ini sama sekali tidak menggoyahkan posisi fundamental perseroan sebagai tulang punggung utama penyimpanan aset.
Status kepemilikan portofolio saham sang konglomerat di dalam emiten raksasa ini tercatat sangat masif menyentuh porsi 14,11%. Jumlah fantastis yang tidak berubah sejak Juli 2025 tersebut nyatanya setara dengan kepemilikan mutlak atas 336.352.227 lembar saham yang mengukuhkan dominasinya.
1. Awal Kolaborasi Trio Visioner
Perjalanan gemilang tokoh penting ini bermula dari kemitraan strategis yang terjalin erat sejak masa tahun 1985 silam. Ia mulai merintis kolaborasi bisnis bersama dua figur legendaris yakni Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman saat masih berkarier di Bank Bali.
Pertemuan ketiga visioner tersebut nyatanya menjadi tonggak sejarah yang melahirkan kemitraan berdurasi sangat panjang di sektor teknologi. Pengalaman menangani sistem keuangan korporasi besar perlahan membentuk dasar keahlian teknis mereka untuk memahami secara mendalam kebutuhan transformasi infrastruktur digital perusahaan nasional.
Kerja sama solid ini kemudian terus berlanjut saat mereka bersama membangun entitas bisnis bernama Sigma Cipta Caraka. Di perusahaan pelopor layanan teknologi informasi tersebut, mereka semakin tajam memperkuat visi bersama mengenai arah kemajuan industri komputasi masa depan negara kita.
2. Pionir Akses Jaringan Internet
Momen paling bersejarah dalam lintasan karier sang miliarder ini terjadi tepat pada masa operasional tahun 1994 silam. Trio pengusaha tangguh ini menciptakan sebuah langkah revolusioner dengan secara resmi mendirikan perusahaan penyedia layanan jaringan internet komersial pertama di Republik Indonesia.
Entitas korporasi yang diberi nama PT Indointernet atau akrab dikenal dengan sandi emiten EDGE tersebut sukses besar. Mereka secara brilian berhasil membuka gerbang konektivitas digital bagi seluruh masyarakat nasional jauh sebelum tren teknologi ponsel pintar menguasai pasar tingkat global.
Namun dinamika strategi bisnis memaksa sang tokoh untuk mengambil sebuah keputusan sangat besar pada penghujung Desember 2023. Ia tercatat secara resmi telah melepaskan seluruh porsi kepemilikan sahamnya pada perusahaan pelopor internet tersebut demi fokus menggarap sektor pusat penyimpanan data.
3. Lahirnya Raksasa Pusat Data
Visi besar mereka akhirnya mencapai titik puncak perwujudan dengan lahirnya PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pada 2011. Perusahaan infrastruktur digital ini sengaja dibangun secara matang untuk menjawab proyeksi ledakan kebutuhan sistem penyimpanan data elektronik komersial yang amat sangat masif.
Lompatan eksponensial industri E-Commerce beserta lonjakan angka pengguna ponsel pintar di tanah air menciptakan sebuah peluang emas. Fenomena tersebut melahirkan kebutuhan sangat mendesak akan hadirnya sebuah rumah pelindung yang menjamin tingkat keamanan tertinggi bagi seluruh aset digital milik negara.
Di bawah kendali strategis kepemimpinan ketiganya, perseroan sukses menjelma menjadi penyedia pusat data berstandar fasilitas Tier IV. Sertifikasi tingkat Asia Tenggara ini memberikan kepastian jaminan perlindungan operasional yang sangat maksimal tanpa henti bagi para raksasa teknologi skala tingkat global.
4. Valuasi Portofolio Saham Fantastis
Peran krusial sang figur sentral ini jelas terlihat dari besaran porsi kepemilikan saham yang dikuasainya di perseroan. Dengan menggenggam 336.352.227 lembar saham, ia memiliki ruang kendali strategis yang sangat besar untuk terus mengarahkan laju ekspansi bisnis perusahaan lantai bursa.
Meskipun pergerakan harga saham perusahaan sedang melandai di posisi Rp215.800 per lembar, nilai kekayaan portofolionya tetap mencengangkan. Kepemilikan porsi belasan persen tersebut memastikan posisi sang investor kakap tetap berdiri sangat kokoh di dalam daftar jajaran konglomerat papan atas nasional.
Bahkan mengacu pada pencapaian rekor harga tertinggi atau All Time High/ATH pada Agustus 2025 di level Rp359.000, nilai portofolionya meroket. Evaluasi kapitalisasi aset saham pribadinya tersebut secara menakjubkan sanggup menembus angka yang sangat fantastis yakni mencapai besaran nominal Rp120,75 triliun.
5. Kekuatan Senyap Kedaulatan Digital
Gelombang akumulasi kekayaan fantastis ini secara konsisten mengantarkannya ke dalam daftar tokoh paling tajir versi lembaga Forbes. Berdasarkan data per 24 Oktober 2025, valuasi bersih kekayaannya ditaksir sanggup menyentuh level Dolar AS 5,6 miliar atau setara besaran Rp93,07 triliun.
Angka kekayaan super jumbo tersebut menempatkannya pada urutan ketiga belas orang terkaya nasional per 25 Oktober 2025. Padahal pada tanggal 24 September 2025, ia sempat sukses menduduki posisi kesepuluh sebelum akhirnya turun satu tingkat pada akhir bulan yang sama.
Sang tokoh memang merupakan personifikasi nyata dari frasa kekuatan senyap yang menjaga tegaknya fondasi kedaulatan digital bangsa. Melalui infrastruktur berkelas dunia miliknya, segala aset penting negara berhasil diamankan secara mandiri tanpa harus menggantungkan nasib mutlak pada server perusahaan asing.

Alvin Bagaskara
Editor
