Tren Pasar

Gen Z Wajib Paham, Ini Beda Saham Gorengan dan Valuasi Besar

  • Riset Samuel Sekuritas menegaskan valuasi tinggi bukan gorengan dan harga jatuh tak selalu manipulasi di tengah pengetatan Otoritas Jasa Keuangan.
IHSG Ditutup Menguat-3.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Di tengah langkah agresif Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tengah "bersih-bersih" pasar modal demi mempertahankan status Emerging Market dari ancaman degradasi MSCI, sebuah laporan riset terbaru dari Samuel Sekuritas muncul sebagai panduan krusial bagi investor, khususnya Generasi Z.

Lonjakan antusiasme investor muda yang sering terjebak rasa takut tertinggal tren (Fear of Missing Out/FOMO) kini dibenturkan pada realita pengawasan ketat bursa. Bukannya apa-apa, data jumlah investor saham di Indonesia terakhir menunjukkan hampir separuh populasi pasar kini dihuni oleh kalangan Gen Z.

Direktur Pelaksana Samuel Sekuritas, Harry Su, mengingatkan agar publik tidak salah kaprah dalam membedakan antara pergerakan harga yang ekstrem dengan manipulasi pasar yang sesungguhnya.

Valuasi Tinggi Bukan Berarti Gorengan

Laporan ini mematahkan anggapan bahwa valuasi super mahal pasti merupakan hasil rekayasa bandar. Riset ini melempar tanya melalui tajuk "Is High Valuation = 'Saham Gorengan'?"sambil membeberkan deretan saham raksasa global yang memang wajar dinilai mahal oleh pelaku pasar.

Rasio harga terhadap pendapatan merupakan metrik ukur membandingkan harga saham dengan pendapatan per lembarnya. Singkatnya, rasio ini adalah harga tebusan bagi setiap rupiah keuntungan perusahaan. Makin tinggi nilainya, berarti saham perusahaan memang dihargai semakin mahal oleh para pelaku pasar.

Mahalnya penilaian ini kerap ditopang oleh kinerja operasional perusahaan yang terbukti kuat. Contohnya, perusahaan teknologi raksasa bernama NVIDIA Corporation (NVDA) mencatatkan rasio pendapatan sebesar tiga puluh delapan kali. Bahkan, perusahaan mobil listrik Tesla, Inc. (TSLA) memiliki valuasi fantastis menembus dua ratus empat kali.

Di kawasan Asia, perusahaan Zomato Limited (ZOMATO) dari India memiliki valuasi sangat tinggi sebesar enam ratus tujuh puluh tiga kali. Perusahaan Rainbow Robotics (272410) asal Korea Selatan bahkan menyentuh angka valuasi ekstrem dan di luar nalar, yakni menembus level belasan ribu kali.

Di bursa domestik, perhatian pasar tertuju pada pergerakan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Laporan riset tersebut mencatat bahwa saham perusahaan ini kini diperdagangkan dengan tingkat premi jauh lebih mahal dibandingkan rata-rata penilaian valuasi rekanan bank skala global sejenis lainnya.

Angka penilaian tersebut juga tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata rekanan bank lokalnya. Menyikapi anomali valuasi super mahal ini, Harry Su menanyakan secara retoris apakah bank termahal di dunia tersebut merupakan sebuah wujud nyata dari saham gorengan.

Harga Jatuh Bukan Berarti Manipulasi

Pertanyaan tersebut menegaskan bahwa valuasi tinggi didorong kuatnya operasional fundamental, bukan karena manipulasi pasar. Selain masalah penilaian mahal, riset turut mempertanyakan sebuah persepsi keliru terkait kejatuhan nilai melalui rentetan kalimat tanya tegas mengenai apakah harga jatuh berarti saham gorengan.

Kenyataannya, saham perusahaan berfundamental jelas seperti emiten ritel barang konsumsi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pernah mencatatkan rekor penurunan harga sangat parah. Tercatat secara resmi, nilai perusahaannya hingga mencapai kejatuhan sembilan puluh persen lebih dalam periode tujuh tahun dari titik tertingginya ke harga terendah.

Kejatuhan tragis pada pergerakan harga emiten konstruksi turut diteliti lebih mendalam. Nyatanya, tekanan industri membuat saham badan usaha negara seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) anjlok sangat ekstrem sebesar sembilan puluh enam persen hingga akhirnya status pergerakannya terus dihentikan secara paksa oleh otoritas bursa.