Tren Pasar

Dividen BSSR Rp486 per Saham, Catat Jadwal Cum Date dan Risikonya

  • BSSR membagikan dividen final Rp486,13 per saham. Simak jadwal cum date, ex date, dividend yield, dan risiko investasinya.
Aktivitas pertambangan BSSR.jpg
Ilustrasi aktivitas pertambangan. (bssr.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) kembali menarik perhatian investor setelah membagikan dividen final jumbo sebesar Rp486,13 per saham. Dengan tambahan dividen tersebut, total dividen tahun buku 2025 yang dibagikan perseroan mencapai sekitar Rp836 per saham atau setara US$125 juta.

Besarnya nilai dividen membuat saham BSSR menjadi salah satu emiten batu bara dengan dividend yield tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI).  

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 15 Juni 2026, pemegang saham menyetujui pembagian dividen final sebesar US$70 juta atau sekitar Rp1,27 triliun.

Nilai tersebut setara Rp486,13 per saham dan berasal dari laba bersih tahun buku 2025 yang tercatat sebesar US$83,98 juta. Dengan pembagian tersebut, rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) BSSR mencapai sekitar 63,83% dari laba bersih perseroan.

Selain menyetujui pembagian dividen, RUPST juga menyetujui perubahan susunan pengurus perusahaan sebagai bagian dari langkah restrukturisasi dan penguatan manajemen.

Jadwal Dividen BSSR 2026

Bagi investor yang ingin memperoleh dividen final BSSR, terdapat sejumlah tanggal penting yang perlu diperhatikan.

  • Cum Dividen Pasar Reguler dan Negosiasi: 24 Juni 2026
  • Ex Dividen Pasar Reguler dan Negosiasi: 25 Juni 2026
  • Recording Date: 26 Juni 2026
  • Pembayaran Dividen: 8 Juli 2026

Jadwal ini menjadi krusial karena menentukan siapa saja yang berhak menerima dividen final dari emiten berkode saham BSSR tersebut.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: BBCA dan MBMA Terbang, EMTK Anjlok

Cara Mendapatkan Dividen BSSR

Salah satu pertanyaan yang paling banyak dicari investor adalah bagaimana cara memperoleh dividen BSSR.

Agar berhak menerima dividen final Rp486,13 per saham, investor harus sudah memiliki saham BSSR paling lambat pada tanggal cum dividen, yaitu 24 Juni 2026.

Jika pembelian dilakukan pada tanggal ex dividen atau setelahnya, investor tidak akan tercatat sebagai pemegang saham yang berhak menerima dividen.

Setelah saham dimiliki dan tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada recording date 26 Juni 2026, investor tidak perlu melakukan tindakan tambahan apa pun. Dana dividen akan otomatis ditransfer ke Rekening Dana Nasabah (RDN) pada 8 Juli 2026 setelah dikurangi pajak yang berlaku.

Dividend Yield BSSR Tembus 20%

Dengan total dividen tahun buku 2025 mencapai sekitar Rp836 per saham dan harga saham yang berada di kisaran Rp4.020 per lembar pada perdagangan 17 Juni 2026, dividend yield BSSR mencapai lebih dari 20%.

Angka tersebut menjadikan BSSR salah satu saham dengan tingkat pengembalian dividen tertinggi di pasar modal Indonesia saat ini.

Namun, investor juga perlu memperhatikan bahwa harga saham sering mengalami penyesuaian saat memasuki masa ex dividen. Pada periode tersebut, harga saham umumnya terkoreksi karena banyak investor melakukan aksi ambil untung setelah memperoleh hak dividen.

Baca juga : Terus Menguat, IHSG Hari Ini Dibuka Naik 0,42 Persen

Pergerakan Saham BSSR Setelah RUPST

Harga saham BSSR sempat melonjak signifikan setelah pelaksanaan RUPST pada 15 Juni 2026. Pada hari tersebut, saham BSSR ditutup di level Rp4.290 setelah menyentuh level tertinggi Rp4.350 per saham.

Namun setelah pengumuman dividen, tekanan profit taking mulai muncul sehingga harga saham terkoreksi ke area Rp4.050 pada 16 Juni dan bergerak di kisaran Rp4.300 pada perdagangan 17 Juni 2026 sesi pertama.

Pergerakan Saham BSSR,  Rabu, 17 Juni 2026. (Stockbit)

Penurunan volume transaksi dalam dua hari terakhir menunjukkan pasar mulai mencari keseimbangan harga baru setelah euforia pembagian dividen.

Meski dikenal royal dalam membagikan dividen, kinerja keuangan BSSR sepanjang 2025 sebenarnya mengalami tekanan. Perseroan mencatat penjualan sebesar US$703,77 juta, turun 25,7% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$947,77 juta.

Laba bersih juga turun menjadi US$83,99 juta dari sebelumnya US$131,55 juta atau terkoreksi sekitar 36,2% secara tahunan. Penurunan tersebut terutama dipicu oleh melemahnya harga batu bara global yang menekan pendapatan perusahaan.

Ringkasan kinerja perseroan

  • Penjualan: US$703,77 juta
  • Laba Bersih: US$83,99 juta
  • EPS: US$0,0321
  • Penjualan turun 25,7%
  • Laba bersih turun 36,2%

Baca juga : Produsen INACO (JELI) IPO Juli 2026, Cek Kelayakan Belinya

Kinerja Semester dan Kuartal Masih Tertekan

Pada semester pertama 2025, BSSR membukukan pendapatan US$326,38 juta, turun 32,35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba usaha tercatat sebesar US$56,51 juta atau turun 45,2%, sementara laba bersih mencapai US$49,67 juta, lebih rendah 38,18% dibandingkan semester pertama 2024.

Di kuartal pertama 2025, perusahaan mencatat penjualan US$153 juta dan laba bersih sekitar US$20 juta dengan margin laba bersih sebesar 13%.

Meski demikian, posisi neraca masih menunjukkan kondisi yang relatif sehat. Total aset meningkat menjadi US$419,45 juta, sementara ekuitas naik menjadi US$293,71 juta.

Secara operasional, BSSR berhasil melampaui target produksi pada 2024. Produksi batu bara mencapai 21,35 juta ton atau sekitar 103,34% dari target tahunan. Penjualan juga mencapai 20,79 juta ton atau setara 101,96% dari target yang ditetapkan perusahaan.

Namun untuk 2025, manajemen menetapkan target yang lebih konservatif dengan produksi sekitar 18,5 juta ton. Target tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi tahun sebelumnya seiring penyesuaian terhadap kondisi pasar batu bara global.

Risiko yang Perlu Dicermati Investor

Meskipun menawarkan dividend yield yang sangat tinggi, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan sebelum membeli saham BSSR.

Pertama, tingkat free float saham yang hanya sekitar 9,25% membuat likuiditas perdagangan relatif rendah dibandingkan emiten batu bara besar lainnya.

Kedua, ketergantungan terhadap harga batu bara global membuat kinerja perseroan sangat sensitif terhadap perubahan harga komoditas.

Ketiga, target produksi yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan manajemen masih berhati-hati menghadapi ketidakpastian pasar.