Tren Pasar

5 Saham LQ45 yang Potensi Diburu Asing Usai Review MSCI

  • JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi salah satu momen paling menentukan pada tahun ini. MSCI dijadwalkan merilis Global Market Access
IHSG Ditutup Menguat-5.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi salah satu momen paling menentukan pada tahun ini. MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review 2026 pada 19 Juni 2026 dini hari WIB, sebelum kemudian mengumumkan hasil Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026.

Dua agenda tersebut menjadi perhatian utama investor karena berpotensi menentukan arah arus dana asing, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga status Indonesia dalam klasifikasi pasar global.

Sejak awal tahun, investor asing tercatat telah melakukan aksi jual bersih atau net foreign sell sekitar Rp67,45 triliun di pasar saham Indonesia. Tekanan tersebut muncul setelah MSCI membekukan perubahan indeks saham Indonesia pada Januari 2026 akibat persoalan transparansi data kepemilikan saham.

Meski demikian, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru masih konsisten mencatatkan pembelian asing di tengah tekanan pasar. 

Jika MSCI memberikan sinyal positif terhadap reformasi pasar modal Indonesia, saham-saham tersebut berpotensi menjadi tujuan utama arus modal asing berikutnya.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun 1,24 Persen, Cek Data Lengkapnya

Mengapa Review MSCI Sangat Penting?

MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan bagi triliunan dolar dana investasi di seluruh dunia.

Ketika suatu negara mendapatkan penilaian positif dari MSCI, dana investasi global yang mengikuti indeks MSCI cenderung meningkatkan eksposurnya terhadap negara tersebut. Sebaliknya, jika status pasar memburuk, arus keluar dana asing dapat terjadi dalam jumlah besar.

Untuk Indonesia, skenario yang paling banyak diperkirakan analis saat ini adalah status tetap sebagai Emerging Market dengan masa pengawasan (under observation) yang masih berlanjut.

Meski bukan skenario paling optimistis, hasil tersebut tetap dapat menjadi sentimen positif apabila MSCI mengakui kemajuan reformasi yang telah dilakukan regulator Indonesia.

Apalagi, Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah melakukan berbagai pembenahan, mulai dari peningkatan transparansi kepemilikan saham hingga pengetatan aturan free float.

Dalam kondisi tersebut, investor asing biasanya akan kembali masuk ke saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, tata kelola yang baik, dan bobot signifikan dalam indeks.

Lalu, saham apa saja yang paling berpeluang diburu investor asing?, Berikut sederet saham yang direview TrenAsia, dan berpotensi diburu asing pasca pengumuman MSCI

Baca juga : SABH Bikin Khawatir Pengusaha, Apindo: Kaji Ulang!

1. Bank Mandiri (BMRI), Favorit Investor Asing di Sektor Perbankan BUMN

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi salah satu kandidat utama penerima arus dana asing jika sentimen MSCI membaik.

Dalam perdagangan Februari 2026, BMRI mencatat pembelian bersih asing mencapai Rp668,2 miliar hanya dalam satu bulan. Bahkan pada periode 4–6 Februari 2026, investor asing membukukan pembelian bersih sekitar Rp1,38 triliun.

Meski secara tahunan masih mencatat jual bersih sekitar Rp10,86 triliun, pola transaksi terbaru menunjukkan investor asing mulai kembali mengakumulasi saham ini.

Sebagai bank BUMN terbesar di Indonesia, BMRI memiliki likuiditas tinggi, free float yang sehat, serta fundamental yang kuat. Karakteristik tersebut menjadikan BMRI salah satu saham yang paling mudah menyerap aliran dana institusional dalam jumlah besar.

Jika MSCI memberikan sinyal positif terhadap Indonesia, BMRI berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat terbesar.

2. BCA (BBCA), Kandidat Rebound Terkuat

PT Bank Central Asia Tbk menjadi salah satu saham yang paling terdampak oleh sentimen negatif MSCI pada awal tahun.

Saat pembekuan indeks diumumkan Januari 2026, harga BBCA sempat terkoreksi sekitar 6,33% hingga menyentuh level Rp7.025 per saham. Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual dengan nilai mencapai Rp4,1 triliun.

Namun kondisi tersebut justru menciptakan ruang pemulihan yang besar apabila sentimen berubah menjadi positif.

Sepanjang Juni 2026, BBCA mulai kembali mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp86,3 miliar.

Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia dengan kualitas aset dan tata kelola yang sangat baik, BBCA sering menjadi pilihan utama investor institusional global yang mencari eksposur jangka panjang terhadap ekonomi Indonesia.

Karena sebelumnya mengalami tekanan paling besar, banyak analis menilai BBCA memiliki potensi rebound paling kuat apabila hasil review MSCI lebih baik dari ekspektasi pasar.

3. Telkom Indonesia (TLKM), Saham Defensif yang Terus Dikoleksi Asing

Di tengah volatilitas pasar sepanjang 2026, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menjadi salah satu saham yang menunjukkan daya tahan luar biasa.

Pada Mei 2026 saja, TLKM mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp53,8 miliar. Sebelumnya pada Januari 2026, akumulasi pembelian asing bahkan mencapai Rp572,7 miliar.

Yang menarik, saham ini terus muncul dalam daftar pembelian asing harian meskipun pasar secara keseluruhan sedang mengalami tekanan jual.

Selain faktor valuasi yang menarik, TLKM juga memiliki sejumlah katalis korporasi seperti potensi monetisasi dan divestasi aset pusat data (data center) yang dinilai dapat membuka nilai tambah bagi pemegang saham.

Dengan karakter defensif dan free float yang besar, TLKM berpotensi menjadi salah satu tujuan utama dana asing apabila ketidakpastian MSCI mulai mereda.

Baca juga : Hanya 4 Saham yang Naik di Pembukaan Indeks LQ45 18 Juni 2026

4. United Tractors (UNTR), Raja Pembelian Asing di 2026

Jika diukur dari besarnya pembelian asing, PT United Tractors Tbk merupakan salah satu pemenang terbesar sejak awal tahun. Pada Februari 2026, saham UNTR mencatat pembelian bersih asing mencapai Rp788,44 miliar, tertinggi di antara saham-saham anggota LQ45.

Harga sahamnya juga merespons positif dengan kenaikan sekitar 11,39% pada periode yang sama.

UNTR menarik karena menawarkan kombinasi unik antara likuiditas tinggi, eksposur terhadap sektor komoditas, serta model bisnis yang relatif stabil melalui alat berat, kontraktor tambang, dan pertambangan.

Ketika investor asing mencari saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat di luar sektor perbankan, UNTR sering menjadi pilihan utama.

5. Astra International (ASII), Saham Likuiditas Tinggi yang Sulit Diabaikan

PT Astra International Tbk merupakan salah satu saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia. Pada Februari 2026, saham ini mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp499,6 miliar dengan kenaikan harga berkisar antara 2,18% hingga 9,67%.

Keunggulan utama ASII terletak pada diversifikasi bisnisnya yang mencakup otomotif, jasa keuangan, alat berat, agribisnis, hingga infrastruktur. Diversifikasi tersebut membuat ASII sering dianggap sebagai representasi ekonomi domestik Indonesia secara keseluruhan.

Karena bobotnya yang besar dalam berbagai indeks, setiap kali dana pasif global meningkatkan eksposur ke Indonesia, ASII hampir selalu menjadi salah satu saham yang ikut dibeli.

Mengapa Dana Asing Bisa Mengalir ke Saham-Saham Ini?

Ada beberapa faktor yang mendukung potensi masuknya dana asing ke saham-saham tersebut.

Pertama, mulai 1 Juni 2026 sebanyak 18 saham dengan kategori konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) telah dikeluarkan dari indeks MSCI. Saham seperti BREN, DSSA, hingga sejumlah emiten lain kehilangan statusnya dalam indeks global.

Akibatnya, dana yang sebelumnya ditempatkan pada saham-saham tersebut berpotensi beralih ke saham berkapitalisasi besar dengan free float yang lebih sehat seperti BBCA, BMRI, dan TLKM.

Kedua, terdapat peluang MSCI melakukan penyesuaian terhadap Foreign Inclusion Factor (FIF). Jika hal itu terjadi, saham dengan likuiditas dan kapitalisasi besar akan menjadi penerima manfaat utama.

Ketiga, valuasi pasar Indonesia saat ini dinilai relatif murah. Price to Earnings Ratio (PER) rata-rata saham LQ45 berada di kisaran 10 kali atau bahkan lebih rendah, level yang dianggap menarik oleh banyak investor global.

Investor Tetap Perlu Waspada

Meskipun peluang arus masuk dana asing terbuka, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko.

Pertama, sebagian pergerakan dana kemungkinan hanya berupa rotasi dari saham-saham yang dikeluarkan MSCI menuju saham berkapitalisasi besar, bukan arus dana baru dari luar negeri.

Kedua, pasar berpotensi mengalami fenomena sell on news. Jika hasil review MSCI sesuai ekspektasi pasar, IHSG dapat melonjak dalam jangka pendek sebelum kembali mengalami koreksi akibat aksi ambil untung.

Ketiga, faktor makroekonomi seperti pelemahan rupiah, kondisi fiskal pemerintah, dan perkembangan ekonomi global tetap menjadi variabel yang dapat memengaruhi arah pasar.

Karena itu, keputusan MSCI memang dapat menjadi katalis penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kinerja saham dalam jangka panjang.

Bagi investor, saham-saham seperti BMRI, BBCA, TLKM, UNTR, dan ASII layak masuk radar pengamatan karena memiliki kombinasi likuiditas tinggi, fundamental kuat, serta rekam jejak pembelian asing yang konsisten sepanjang periode ketidakpastian MSCI.