Tren Leisure

Virus Nipah Lemah, tapi Bisa Mematikan

  • Kebiasaan konsumsi nira segar yang diminum langsung tanpa proses pengolahan juga berisiko tinggi.
kelelawar virus nipah.jpg

JAKARTA- Infeksi virus Nipah dilaporkan merebak di sejumlah negara terutama India. Indonesia seharusnya waspada dengan situasi tersebut. Tetapi apa itu virus nipah? Dan bagaimana pencegahannya?

Nipah merupakan virus yang ditularkan melalui kelelawar buah. Infeksi virus ini umumnya ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara yang terinfeksi, seperti babi dan kuda. Penyakit ini juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan penderita. Penyakit ini dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia, mulai dari radang otak hingga gangguan pernapasan serius.

Dosen mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. M. Th. Khrisdiana Putri, M.P., Ph.D., menyampaikan bahwa penyebaran virus Nipah pada hewan seperti babi dan kuda kerap menunjukkan gejala pernapasan hingga gangguan saraf. Bahkan dapat berujung fatal. “Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” ujarnya, Jumat 6 Februari 2026.

Khrisdiana menambahkan bahwa virus Nipah bersifat musiman (seasonal). Menurutnya, kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor stres atau kelaparan pada kelelawar. Ia mencontohkan ketika sumber pakan alami, seperti nira di habitat hutan, berkurang, maka risiko penularan dapat meningkat karena virus menjadi lebih aktif.

Khrisdiana menegaskan pemerintah telah melakukan langkah pengamanan melalui regulasi, salah satunya dengan melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira. Menurutnya, kebijakan ini menjadi langkah awal dalam pencegahan. “Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” pungkasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan konsumsi nira segar yang diminum langsung tanpa proses pengolahan. Menurutnya, nira sebaiknya melalui perlakuan terlebih dahulu, seperti pasteurisasi atau pemanasan, dan tidak dikonsumsi secara langsung. “Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting,” ujarnya.

Khrisdiana menyebutkan bahwa virus Nipah tergolong lemah atau mudah rusak di lingkungan. Virus ini tidak mampu bertahan lama di luar inang sehingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan yang efektif. “Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri,” tutupnya.

Penyebaran ke Manusia

Meski virus ini berkembang dan menular antar sesama hewan, virus ini juga berpotensi menyebar ke manusia.  Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D. menuturkan secara epidemiologis, kelelawar diketahui sebagai reservoir virus Nipah. Oleh karena itu, perhatian terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis menjadi sangat penting dan perlu dicermati secara serius. 

“Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya,” ungkapnya.

Heru kemudian merunut sejarah kemunculan virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di wilayah Nipah, Malaysia. Pola penularan awalnya terjadi dari kelelawar ke babi, kemudian dari babi ke manusia, yang disebut sebagai pola klasik. Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia. Menurut Heru, hal ini dipengaruhi faktor lain, seperti konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik. “Selain itu, ada juga penularan dari manusia ke manusia. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami dari segi penyakit,” jelasnya.

Baca juga: Sedang Heboh, Inilah Asal Usul Virus Nipah

Di Indonesia, Heru menilai seharusnya sudah tersedia sistem peringatan dini (early warning system) terhadap berbagai penyakit zoonosis, termasuk Nipah. Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti. “Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Misalnya, dengan segera melaporkan jika terdapat babi yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa. “Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus,” katanya.