Valentine Gen Z: Saat Cokelat Sudah Ketinggalan Zaman
- Bagi Gen Z , cokelat, bunga mawar, dan makan malam romantis tak lagi jadi simbol Valentine. Mereka lebih menekankan pengalaman dan hubungan yang bermakna.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Hari Valentine selama ini identik dengan pasangan, cokelat, bunga mawar, dan makan malam romantis. Semakin sedikit orang yang merayakan Hari Valentine seiring berubahnya pandangan modern tentang cinta, hubungan, dan budaya konsumerisme.
Dilansir dari Party Alibaba, bagi sebagian kalangan, perayaan ini dianggap terlalu dikomersialkan, dengan tuntutan untuk mengeluarkan uang demi hadiah, makan malam, atau pengalaman tertentu yang terasa lebih sebagai kewajiban daripada ungkapan kasih sayang yang tulus.
Pergeseran ini mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas, terutama di kalangan generasi mudayang mulai mendefinisikan ulang makna romansa, mengutamakan keaslian dibanding tradisi, dan mempertanyakan apakah perayaan tahunan semacam ini benar-benar mampu memperkuat ikatan emosional.
Namun, Generasi Z (Gen Z) memberi sentuhan baru pada perayaan ini. Meski masih banyak yang merayakannya, cara mereka berbeda, lebih menekankan keaslian, pengalaman, dan hubungan yang bermakna dibandingkan simbol klise dan gestur mahal.
Menjauh dari Romantisme yang Dikomersialkan

Dilansir dari India Times, banyak Gen Z memandang Hari Valentine sebagai perayaan yang terlalu sarat unsur komersial dan terasa klise. Hadiah-hadiah tradisional serta tindakan besar kerap dianggap dipaksakan, sementara produk massal dinilai kurang memiliki makna personal.
Sebagai gantinya, generasi muda lebih memilih bentuk perhatian yang sederhana namun penuh makna, bersifat personal, atau ramah lingkungan, termasuk hadiah bekas pakai yang berkelanjutan. Pilihan ini mencerminkan keinginan akan keaslian sekaligus penolakan terhadap ekspektasi konsumtif yang selama ini melekat pada Valentine.
Merayakan Persahabatan lewat Galentine’s Day
Salah satu tren yang menonjol di kalangan Gen Z adalah Galentine’s Day yang dirayakan setiap 13 Februari. Terinspirasi dari serial Parks and Recreation, perayaan ini berfokus pada apresiasi terhadap persahabatan, bukan hubungan romantis.
Banyak yang menggunakannya untuk mengadakan acara makan siang bersama, pesta kecil, atau saling bertukar hadiah dengan teman. Bagi generasi yang sangat menjunjung tinggi ikatan pertemanan, Galentine’s Day menjadi cara bermakna untuk merayakan cinta dalam bentuk yang lebih luas.
Sebagai Momen Mencintai Diri Sendiri dan Koneksi Personal
Bagi Gen Z, Hari Valentine bukan hanya tentang hubungan romantis atau persahabatan, tetapi juga menjadi momen untuk mencintai diri sendiri. Banyak yang memanfaatkan hari ini untuk melakukan aktivitas secara mandiri, memberi hadiah untuk diri sendiri, atau menjalani rutinitas perawatan diri.
Pergeseran makna ini membuat Valentine terasa lebih inklusif, terutama bagi mereka yang lajang atau tidak tertarik pada pola romansa konvensional, sehingga setiap orang tetap bisa merayakannya dengan cara yang bermakna dan personal.
Perayaan Kreatif yang Hemat Biaya
Kondisi ekonomi turut memengaruhi cara Gen Z merayakan Hari Valentine. Meningkatnya biaya hidup dan sikap yang lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan membuat banyak dari mereka mengurangi pengeluaran untuk hadiah atau kencan mewah.
Sebagai gantinya, generasi muda lebih memilih perayaan yang kreatif dan terjangkau, seperti makan bersama, jalan-jalan sederhana, atau gestur personal yang sederhana namun memiliki nilai emosional lebih besar dibandingkan hadiah mahal.
Mendefinisikan Ulang Makna Cinta dengan Cara Mereka Sendiri
- Baca Juga: Dari Menyematkan Nama Hingga Menghias Rumah, Berikut Tradisi Unik Valentine Berbagai Negara
Pada akhirnya, Gen Z tidak meninggalkan Hari Valentine, melainkan memperluas maknanya. Bagi generasi ini, cinta tidak terbatas pada hubungan romantis semata, tetapi juga mencakup persahabatan dan hubungan dengan diri sendiri.
Valentine kini dimaknai sebagai perayaan apresiasi terhadap teman, menghargai diri sendiri, dan hubungan yang tulus dan bermakna. Dengan mengedepankan keaslian, inklusivitas, dan kreativitas, Gen Z berhasil mengubah Hari Valentine menjadi perayaan yang selaras dengan nilai dan gaya hidup mereka.

Distika Safara Setianda
Editor
