Tren Leisure

Solusi Macet Mudik 2026 ala Akademisi: Jangan Cuma Lewat Tol

  • Cara jitu hindari macet tol saat mudik Lebaran 2026. Simak 5 peringatan penting dari akademisi, optimalkan jalur arteri hingga info rest area luar tol.
Kendaraan pemudik terjebak kemacetan sebelum memasuki pintu Tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Kendaraan pemudik terjebak kemacetan sebelum memasuki pintu Tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, pemerintah dan masyarakat diimbau untuk tidak hanya bergantung pada jaringan jalan tol. Optimalisasi perbaikan jalur arteri nasional dinilai krusial agar pemudik memiliki rute alternatif dengan tingkat kenyamanan yang setara.

Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi, pergerakan masyarakat pada libur Idulfitri tahun ini diprediksi mencapai 143,9 juta orang. Meski turun tipis dari tahun lalu, dominasi mobil pribadi yang mencapai 52,98% diyakini akan tetap memicu kepadatan ekstrem di jalan tol.

Menyikapi hal ini, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, memaparkan lima catatan penting agar manajemen rekayasa lalu lintas tahun ini berjalan aman dan lancar:

1. Optimalisasi Jalur Arteri

Meski jalan tol selalu menjadi rute primadona, kapasitasnya tidak pernah dirancang untuk menampung lonjakan kendaraan yang sangat ekstrem. Harapan bahwa jalan bebas hambatan selalu lebih cepat justru kerap berujung pada antrean panjang yang melelahkan.

Oleh karena itu, jalur arteri legendaris seperti Pantai Utara (Pantura) atau Pantai Selatan (Pansel) seharusnya menjadi rute alternatif yang rasional. "Dengan perbaikan jalan arteri yang layak, pemudik tak perlu lagi memaksakan diri masuk tol demi mencari kenyamanan yang setara," ungkap Djoko dalam keterangannya yang diterima TrenAsia.id dikutip Minggu, 22 Februari 2026. 

Sayangnya, melintasi rute arteri memang menuntut kewaspadaan ekstra dari pengemudi karena tingginya volume sepeda motor dan adanya pasar tumpah. Untuk itu, pemerintah daerah wajib turun tangan memastikan ketersediaan rambu lalu lintas serta penerangan jalan yang memadai demi keamanan pemudik.

2. Pengoperasian Tol Fungsional

Sebagai upaya mengurai kepadatan, pemerintah tahun ini resmi membuka tambahan jalan tol fungsional sepanjang 120,76 kilometer. Jalur-jalur darurat ini disebar secara strategis melintasi empat titik utama di wilayah Pulau Jawa.

Kontribusi jarak terbesar disumbangkan oleh Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (54,75 km) dan Tol Probolinggo–Banyuwangi (49,68 km). Selain itu, ada pula tambahan dua ruas tol fungsional di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk melengkapi jaringan tersebut.

Namun, Djoko mengingatkan bahwa penambahan infrastruktur ini bukan solusi tunggal. "Jalan tol maupun arteri di Jawa tidak dirancang untuk lonjakan volume ekstrem saat Lebaran. Oleh karena itu, pengaturan lalu lintas yang matang menjadi kunci utama," tegasnya.

3. Manajemen Rest Area

Selain jalan utama, fasilitas tempat istirahat di dalam tol juga kerap menjadi sumber masalah. "Saat Lebaran, area ini kewalahan menampung lonjakan pemudik hingga berubah menjadi titik penyumbat arus yang memicu kemacetan baru," sorot Djoko, mengingatkan bahwa rest area sejatinya hanya dirancang untuk situasi normal.

Untuk mengatasinya, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) diwajibkan segera menambah fasilitas sanitasi darurat, khususnya toilet bagi perempuan guna menekan antrean. Sirkulasi kendaraan juga harus dijaga ketat oleh petugas dengan membatasi waktu istirahat maksimal 30 menit.

Mengingat tren kendaraan listrik yang terus meningkat, penyediaan SPKLU di titik strategis tol juga menjadi keharusan. Di sisi lain, pemudik dilarang keras beristirahat di bahu jalan karena area tersebut harus tetap steril untuk penanganan kondisi darurat medis.

4. Sinergi Fasilitas Luar Tol

Sebagai solusi agar pengemudi tidak nekat berhenti di bahu jalan, penyediaan kantong istirahat alternatif di luar gerbang tol dinilai sangat efektif. "Penyediaan rest area di luar jalan tol yang dekat dengan pintu keluar diharapkan mampu menghentikan kebiasaan berbahaya beristirahat di bahu jalan," papar Djoko.

Kisah sukses skema pengalihan ini sudah bisa dilihat langsung di sekitar gerbang Tol Salatiga. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari pintu keluar, pemudik sudah bisa mengakses fasilitas SPBU yang luas beserta rumah makan untuk beristirahat dengan nyaman.

Agar strategi ini berjalan optimal, informasi mengenai fasilitas di luar tol harus diintegrasikan secara real-time ke dalam aplikasi digital seperti Travoy. Langkah ini diyakini ampuh meminimalisir risiko penyempitan lajur utama tol sekaligus menghidupkan ekonomi warga sekitar.

5. Keselamatan Rekayasa Lalu Lintas

Terkait penerapan rekayasa lalu lintas, Djoko meminta pemerintah mengkaji ulang dampaknya terhadap angkutan umum. "Kebijakan satu arah (one way) ini harus mempertimbangkan kelancaran armada bus yang perlu segera kembali ke Jakarta untuk menjemput gelombang pemudik berikutnya," ingatnya.

Evaluasi ketat juga wajib diterapkan pada sistem lawan arah (contraflow) agar tragedi kecelakaan maut di KM 58 pada musim mudik sebelumnya tidak terulang. Sebagai langkah antisipasi, jarak pemasangan pembatas jalan (cone) harus dirapatkan dari semula 30 meter menjadi setiap 10 meter.

Terakhir, pengemudi diwajibkan mematuhi batas kecepatan maksimal 60 km/jam serta memastikan kondisi kendaraan dan bahan bakar terisi penuh. Di lapangan, petugas juga telah menyiagakan safety car, armada pemadam kebakaran, hingga layanan derek gratis untuk merespons kondisi darurat dengan cepat.