Review Film Hoppers, Animasi Keluarga Bertema Alam
- Pixar Animation Studios kembali dengan produksi orisinal terbarunya, Hoppers, sebuah angin segar di dunia animasi.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pixar Animation Studios kembali dengan produksi orisinal terbarunya, Hoppers, sebuah angin segar di dunia animasi. Sutradara Daniel Chong dikenal karena menciptakan dunia animasi yang menyeimbangkan komedi dengan tema-tema yang menyentuh hati.
Tokoh utamanya adalah seorang gadis 19 tahun yang memiliki kecintaan besar terhadap dunia satwa. Ketertarikannya bukan sekadar rasa kagum biasa, ia ingin memahami hewan bukan sebagai pengamat dari kejauhan, melainkan langsung dari dalam dunia mereka.
Dilansir dari filmstime.in, melalui teknologi eksperimental, ia berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa, memasuki tubuh seekor berang-berang robotik yang dirancang agar menyatu sempurna dengan alam. Pilihan naratif ini menjadi perangkat penceritaan yang kuat.
Alih-alih memanusiakan hewan dengan cara konvensional, film ini menempatkan kesadaran manusia ke dalam tubuh mekanis, sehingga memungkinkan eksplorasi kerajaan hewan melalui perpaduan nalar manusia dan pengalaman instingtif hewan. Hasilnya adalah sudut pandang hibrida yang memunculkan humor, rasa takjub, sekaligus pertumbuhan emosional.
Gaya berceritanya sering menekankan persahabatan, identitas, dan pertumbuhan pribadi. Dengan Hoppers, Daniel Chong memperluas cakupan kreatifnya ke genre fiksi ilmiah, dan tetap mempertahankan kehangatan yang menjadi ciri khas karyanya.
Penyutradaraan Chong diharapkan dapat memadukan animasi yang penuh warna dengan alur cerita yang sarat makna. Premis teknologinya tidak hanya dianggap sebagai gimmick, melainkan berfungsi sebagai pemicu perubahan karakter.
Dengan memberi sang tokoh utama kesempatan merasakan hidup dari sudut pandang non-manusia, kisah ini menantang anggapan tentang dominasi, empati, dan cara hidup berdampingan. Film animasi ini juga akan tayang di bioskop Indonesia dan dijadwalkan tayang mulai 4 Maret 2026.
Review Film Animasi Hoppers

Penulis sekaligus sutradara Daniel Chong menghadirkan film animasi keluarga yang cerdas dan lincah. Film ini diproduseri bersama oleh veteran Pixar, Pete Docter, dan ditulis bersama Jesse Andrews, mungkin telah menyumbangkan cukup banyak dialog lucu dan selingan humor.
Dilansir dari The Guardian, dengan caranya yang sederhana dan santai, film ini mengangkat tema tentang melindungi lingkungan. Ceritanya juga secara menghibur memainkan referensi dari sejumlah film populer seperti Avatar, Inception, The Lion King, hingga Dr Dolittle.
Selain itu, film ini juga menyinggung tradisi antropomorfisme khas Disney, yakni kecenderungan menggambarkan hewan dengan sifat dan emosi manusia. Di dalamnya tersimpan rasa ingin tahu besar tentang bagaimana rasanya menjadi seekor hewan, sekaligus kerinduan manusia untuk bisa berkomunikasi dan berempati dengan makhluk-makhluk tersebut.
Mabel, yang disuarakan oleh Piper Curda, adalah seorang remaja yang tinggal bersama neneknya. Dari sosok nenek yang bijak itu, Mabel belajar tentang pentingnya mencintai alam, khususnya hutan kecil yang damai di dekat rumah mereka. Ia juga diajarkan nilai menerima dan memaafkan, bahkan terhadap orang-orang yang sulit akur dengannya.
Namun situasi berubah ketika Wali Kota Jerry yang jahat, disuarakan oleh Jon Hamm, mengumumkan rencananya untuk menggusur hutan tersebut untuk pembangunan jalan bebas hambatan.
Dilansir dari The Korea Times, tindakan Mabel sebagai seorang pencinta alam dan aktivis lingkungan yang berdedikasi mungkin mengingatkan penonton pada mahakarya Studio Ghibli tahun 1994, “Pom Poko,” yang disutradarai oleh Isao Takahata.
Dalam film animasi Jepang tersebut, sekelompok anjing rakun menggunakan teknik mistis yang disebut perubahan bentuk untuk melindungi rumah hutan mereka dari pembangunan perkotaan yang agresif oleh manusia.
Mirip dengan karakter dalam film Ghibli, Mabel akhirnya mendapati dirinya berjuang untuk melindungi padang rumput, area alami yang tak terganggu yang telah ia dan neneknya sayangi selama bertahun-tahun.
Lanskap damai ini menghadapi ancaman langsung dari proyek pembangunan jalan raya baru, yang memaksa Mabel untuk menggunakan identitasnya sebagai berang-berang untuk menghalangi proyek pembangunan manusia tersebut.
Meskipun tema melindungi alam adalah hal yang umum, Hoppers menonjol berkat pesona dan humor khas yang menjadi ciri khas Pixar. Alih-alih pesan sosial yang sedikit lebih gelap seperti yang ditemukan dalam “Pom Poko,” film ini menyajikan cerita yang ringan dan bertempo cepat yang dengan cepat menarik perhatian penonton.
Mabel menyadari bahwa satu-satunya cara menghentikan proyek itu secara hukum adalah dengan menghidupkan kembali ekosistem di sana, mengembalikan para berang-berang dan hewan-hewan lain yang secara misterius telah menghilang dari kawasan tersebut.
Setelah membongkar sebuah konspirasi luar biasa yang terjadi di lingkaran dalam universitas tempatnya berkuliah, Mabel harus mencari cara untuk berkomunikasi dengan para hewan dan meyakinkan mereka bahwa mengikuti rencananya adalah demi kepentingan bersama.
Namun, ia segera menyadari bahwa hewan-hewan karnivora bisa tampak mengintimidasi dengan naluri buasnya yang nyata, dan seorang ratu serangga yang disuarakan oleh Meryl Streep ternyata sama sekali tidak menunjukkan simpati.
Film ini mungkin terasa sedikit kurang berani dalam menentukan seberapa jahatnya tokoh antagonisnya ingin digambarkan. Meski begitu, alurnya tetap melaju dan menghibur, ditambah kemunculan singkat yang kocak dari seekor hiu yang tetap bersikap agresif meski berada di daratan.
Film ini mengusung semangat gembira dan kecemerlangan kreatif yang sama seperti karya-karya masterpiece sebelumnya seperti “Ratatouille” (2007) dan “WALL-E” (2008) dengan memadukan lelucon visual yang cerdas dengan pesan yang menyentuh hati.
Film ini dengan ahli menyeimbangkan momen-momen tawa murni dengan resonansi emosional yang mendalam, memungkinkan penonton dari segala usia untuk dengan cepat terhanyut dalam dunia yang penuh warna ini.

Distika Safara Setianda
Editor
