Review Drakor Still Shining, Sajikan Kisah Hidup yang Realistis
- Still Shining adalah drama Korea (drakor) romantis coming-of-age yang lembut dan digambarkan dengan indah.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Still Shining adalah drama Korea (drakor) romantis coming-of-age yang lembut dan digambarkan dengan indah, bukan hanya tentang kehidupan kampus, melainkan pada perjalanan dua remaja hingga usia mereka memasuki 30-an.
Dalam rentang lebih dari satu dekade, cinta, pekerjaan, dan keluarga secara perlahan membentuk dan mengubah hati mereka melalui berbagai perubahan yang halus.
Di usia 19 tahun, Tae Seo (Park Jinyoung) datang ke pedesaan setelah kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan mobil. Ia dibesarkan dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang selalu kekurangan, hingga orang tuanya hanya berharap ia bisa menjalani hidup yang “aman dan tenang, tanpa kesulitan.”
Kini, dengan adik laki-laki yang mengalami cacat permanen pada kakinya dan kakek-nenek yang harus ia tanggung, Tae Seo menghabiskan seluruh musim panas sendirian di perpustakaan sekolah yang kosong, belajar seolah-olah masa depan keluarganya bergantung pada setiap halaman yang ia baca.
Di permukaan, Tae Seo tampak kuat dan tak mudah goyah, namun ketenangan itu sebenarnya menutupi tekanan yang terus-menerus ia rasakan. Dia adalah seorang anak laki-laki yang terlalu cepat menyadari bahwa tidak ada jaring pengaman.
Ke dalam kehidupan yang serba terkendali itu, hadir Mo Eun Ah (Kim Min Ju). Ceria, banyak bicara, dan sedikit ceroboh, ia menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat Tae Seo melepaskan ketegangan dan bernapas lebih lega.
Eun Ah juga menyimpan luka batinnya sendiri. Depresi sang ayah dan percobaan bunuh diri yang pernah terjadi membuatnya harus menjadi sosok perawat bagi ayahnya selama bertahun-tahun. Meski kini kondisi ayahnya telah membaik, kecemasan dalam dirinya belum benar-benar hilang. Segalanya terasa tidak pasti, bahkan ia sendiri belum memahami apa yang sebenarnya ia inginkan dari hidup.
Ketenangan dan keteguhan Tae Seo menjadi penopang bagi Eun Ah. Ia tetap berdiri kuat apa pun yang dihadapi, dan kehadirannya saja sudah cukup untuk meredakan kegelisahan Eun Ah. Bagi Eun Ah, Tae Seo bukan sekadar orang yang disukai, ia adalah satu-satunya hal yang terasa pasti ketika segala sesuatu di sekitarnya terasa kacau.
Review Drakor Still Shining

Disutradarai oleh Kim Yoon Jin, yang sebelumnya dipuji atas sentuhan lembut dan puitis dalam Our Beloved Summer (2021), drakor ini lebih menonjolkan emosi yang tenang dibandingkan alur cerita penuh kejutan. Secara visual, tayangan ini terasa seperti membuka album foto, cahaya matahari yang mengisi ruang kelas kosong, buram lembut dari jendela bus, hingga cahaya redup kereta di malam hari.
Kisahnya mengikuti perjalanan Tae Seo dan Eun Ah sejak pertemuan pertama mereka, hingga perlahan-lahan menyadari perasaan mereka, dan akhirnya sampai pada saat mereka mengaku dan menjadi sepasang kekasih, menelusuri hubungan mereka selama empat musim yang berbeda.
Hasilnya adalah kisah romantis yang terasa segar sekaligus nostalgia, penuh dengan detail-detail kecil dan tajam khas masa muda.
Alih-alih mengandalkan konflik besar, drama ini berfokus pada dunia yang mereka bangun bersama, bahkan di tengah kesulitan. Hubungan mereka terbentuk dari ruang-ruang yang mereka bagi.
Sesi belajar sunyi di perpustakaan, perjalanan ke sekolah dengan bus dan sepeda, momen pertama melihat Sungai Han dari Stasiun Dongjak di Seoul, perjalanan kereta setelah ujian, liburan ke tepi laut, kamar Eun Ah, serta kode rahasia dan playlist yang membuat mereka bersama meskipun terpisah jarak Seoul-Gangneung.
Episode 3 dan 4 menguji hubungan mereka saat berhadapan dengan realitas hidup. Tae Seo sibuk mengajar tanpa henti demi keluarganya, sementara Eun Ah memulai magang di sebuah hotel di kampung halamannya dan menjalani kehidupan asrama. Jadwal mereka pun semakin tidak sejalan.
Akhirnya, Eun Ah menelepon dan berkata, “Luangkan waktu untuk dirimu sendiri. Jangan sia-siakan sedetik pun.”
Tae seo menjawab dengan suara bergetar, “Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan… tapi kenapa aku paham? Kenapa terasa masuk akal?” Air matanya menggenang, tangannya gemetar menahan isak.
Di usia 30 tahun, Tae Seo menjadi masinis kereta bawah tanah yang melintasi jalur berulang di Seoul. Hari-harinya terasa seperti rel kereta, terus bergerak, tanpa benar-benar memiliki jalan keluar.
Ia menolak pekerjaan tetap sebagai programmer di perusahaan besar, bahkan kesempatan pindah ke luar negeri, tetap memilih tanggung jawab daripada keinginan pribadi. Sebuah telepon dari rumah dan sekilas melihat masinis lain yang mengingatkannya pada mendiang ibunya semakin menguatkan pilihannya.
Kini, Eun Ah mengelola sebuah guesthouse yang telah direnovasi, setelah mimpinya sendiri runtuh. Ia langsung mengenali suara Tae Seo dari pengumuman di kereta. Keduanya masih saling mengingat, perpaduan antara rasa nyaman dan luka, namun memilih menjaga jarak karena takut membuka kembali kenangan lama.
Suatu malam, Eun Ah menunggu di Stasiun Dongjak setelah shift Tae Seo berakhir. Setelah sempat ragu, Tae Seo akhirnya menghampiri dan dengan tenang berkata, “Sudah lama ya.” Setelah 10 tahun berpisah, kalimat sederhana itu terasa seperti tanda bahwa kisah mereka belum benar-benar usai.
Adegan keseharian seperti perjalanan pulang-pergi, shift malam, hingga menghadapi pelanggan yang sulit, menyatu dengan alur romansa mereka. Ditambah suasana gang yang diterangi matahari, kereta malam, dan perpustakaan sekolah lama, penonton seolah ikut tumbuh bersama mereka, musim demi musim.
Yang benar-benar memikat adalah penampilan para aktor yang terkendali, di mana emosi dipendam hingga akhirnya meluap perlahan, dipadukan dengan penceritaan yang halus.
Hal ini perlahan membangun keterlibatan penonton, menarik kita sepenuhnya ke dalam dunia dan waktu mereka. Kita tak bisa tidak bertanya-tanya: Bagaimana jiwa-jiwa muda yang lembut ini akan terus bertemu sebagai alasan satu sama lain untuk bertahan, dan terus bersinar?

Distika Safara Setianda
Editor
