Tren Leisure

Lifestyle Inflation, Penyebab Gaji Besar Tetap Terasa Kurang

  • Gaji naik tetapi tabungan tidak bertambah? Kenali fenomena lifestyle inflation yang semakin banyak dialami kelas menengah Indonesia.
Gaji Naik Gaya Hidup Jadi Meningkat, Waspadai Lifestyle Creep yang Sering Dialami Anak Muda
Gaji Naik Gaya Hidup Jadi Meningkat, Waspadai Lifestyle Creep yang Sering Dialami Anak Muda (https://www.freepik.com/artursafronovvvv)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kenaikan gaji biasanya identik dengan kehidupan yang lebih nyaman. Namun bagi banyak pekerja Indonesia, terutama di perkotaan, realitasnya justru berbeda. Pendapatan meningkat, tetapi saldo rekening tetap terasa tipis di akhir bulan.

Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup, yakni kondisi ketika kenaikan penghasilan diikuti oleh kenaikan pengeluaran yang sama besar atau bahkan lebih tinggi.

Akibatnya, seseorang merasa tidak mengalami kemajuan finansial meskipun gajinya terus bertambah. Di tengah tekanan biaya hidup, kenaikan harga energi, serta meningkatnya kebutuhan konsumsi modern, fenomena ini semakin banyak dialami oleh kelompok kelas menengah Indonesia.

Apa Itu Lifestyle Inflation?

Dilansir dari laman The Balance Money, Lifestyle inflation terjadi ketika standar hidup seseorang meningkat seiring naiknya pendapatan.

Saat gaji pertama kali naik, seseorang mungkin mulai lebih sering membeli kopi premium, mengganti ponsel lebih cepat, berlangganan lebih banyak layanan digital, hingga memilih kendaraan atau tempat tinggal yang lebih mahal.

Secara psikologis, perubahan ini terasa wajar karena dianggap sebagai "hadiah" atas kerja keras dan peningkatan karier. Masalah muncul ketika seluruh kenaikan pendapatan habis untuk membiayai gaya hidup baru tersebut.

Alih-alih meningkatkan tabungan atau investasi, pendapatan tambahan justru berubah menjadi pengeluaran rutin.

Kelas Menengah Indonesia Sedang Tertekan

Fenomena lifestyle inflation menjadi semakin relevan ketika kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan daya beli.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencapai 66,35% populasi Indonesia pada 2024 dan menyumbang 81,49% total konsumsi rumah tangga nasional. Artinya, kelompok ini menjadi tulang punggung konsumsi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Namun di sisi lain, jumlah penduduk yang benar-benar masuk kategori kelas menengah justru mengalami penyusutan dalam beberapa tahun terakhir.

BPS mencatat jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Proporsinya terhadap total penduduk juga menurun dari 21,45% menjadi 17,13%.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang sebelumnya berada di kelas menengah bergeser ke kelompok rentan atau menuju kelas menengah akibat tekanan ekonomi.

Baca juga : Emas Sentuh Harga Terendah Sejak Februari, Saatnya Beli?

Kenapa Gaji Naik Tapi Tetap Terasa Kurang?

Ada beberapa faktor yang membuat banyak pekerja merasa kondisi finansialnya tidak membaik meskipun pendapatan meningkat.

1. Pengeluaran Naik Lebih Cepat dari Pendapatan

Kenaikan gaji sering kali diikuti peningkatan biaya hidup. Seseorang yang sebelumnya menggunakan transportasi umum mungkin mulai mencicil kendaraan. Yang tadinya memasak di rumah mulai lebih sering memesan makanan secara online. Pengeluaran hiburan, langganan streaming, hingga liburan juga cenderung meningkat.

Tanpa disadari, kenaikan gaji Rp1 juta bisa langsung "habis" oleh berbagai pengeluaran baru.

2. Tekanan Inflasi dan Biaya Hidup

Biaya hidup di Indonesia juga terus mengalami penyesuaian. Pada Juni 2026 misalnya, harga Pertamax naik lebih dari 32% menjadi Rp16.250 per liter. Kenaikan biaya energi berpotensi merembet ke berbagai kebutuhan lain, mulai dari transportasi hingga logistik.

Ketika harga kebutuhan meningkat, kenaikan gaji yang diterima pekerja sering kali tidak cukup untuk menciptakan peningkatan kesejahteraan yang signifikan.

Baca juga : Membaca Tren Konsumsi Pertamax di Indonesia

3. Fenomena "Naik Kelas Sosial"

Di era media sosial, tekanan untuk mengikuti gaya hidup tertentu semakin besar. Masyarakat tidak lagi membandingkan kondisi ekonominya dengan tetangga sekitar, tetapi dengan ribuan orang yang mereka lihat setiap hari di Instagram, TikTok, atau LinkedIn.

Akibatnya, banyak orang merasa perlu meningkatkan standar hidup agar terlihat "naik kelas", meskipun kondisi keuangan sebenarnya belum siap.

4. Pendapatan Naik, Tabungan Tidak Bertambah

Inilah ciri paling jelas dari lifestyle inflation. Setiap kenaikan gaji langsung diikuti kenaikan pengeluaran sehingga tidak ada peningkatan aset atau dana darurat.

Secara nominal pendapatan memang lebih besar, tetapi kekayaan bersih (net worth) tidak bertambah secara signifikan.

Tanda-Tanda Anda Mengalami Lifestyle Inflation

Beberapa indikator yang sering muncul antara lain:

  • Gaji naik tetapi saldo tabungan tetap sama.
  • Pengeluaran bulanan terus meningkat setiap tahun.
  • Sulit menyisihkan dana investasi meskipun pendapatan bertambah.
  • Sering membeli barang karena merasa "sudah mampu".
  • Cicilan dan biaya langganan terus bertambah.

Jika sebagian besar tanda tersebut terasa familiar, bisa jadi Anda sedang mengalami lifestyle inflation.

Bagaimana Cara Menghindarinya?

Para perencana keuangan umumnya menyarankan agar setiap kenaikan pendapatan tidak seluruhnya digunakan untuk konsumsi. Misalnya, ketika menerima kenaikan gaji 10%, sebagian dapat dialokasikan untuk:

  • Menambah dana darurat.
  • Investasi jangka panjang.
  • Dana pensiun.
  • Pelunasan utang konsumtif.

Baca juga : Beralih Dari Pertamax ke Pertalite, Aman untuk Mesin?

Prinsip sederhana yang sering digunakan adalah "naikkan tabungan sebelum menaikkan gaya hidup." Dengan cara tersebut, peningkatan pendapatan benar-benar meningkatkan kondisi keuangan, bukan sekadar memperbesar pengeluaran.

Merasa miskin meskipun gaji naik bukan selalu berarti pendapatan kurang besar. Dalam banyak kasus, masalahnya terletak pada kenaikan gaya hidup yang berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan kekayaan.

Fenomena lifestyle inflation menjadi tantangan baru bagi kelas menengah Indonesia yang saat ini menghadapi tekanan biaya hidup, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi.

Karena itu, ukuran keberhasilan finansial tidak hanya terletak pada seberapa besar gaji yang diterima, tetapi juga pada seberapa banyak aset, tabungan, dan investasi yang berhasil dipertahankan ketika pendapatan terus meningkat.