Kuartal 1 2019, Real Estate di Asia Tumbuh
- Colliers International (NASDAQ: CIGI; TSX; CIGI) perusahaan real estate mengeluarkan laporan Asia Market Snaphot pada Kuartal 1 2019. Perusahaan tersebut...

emylmaulana
Author
TrenAsia (TA) - Colliers International (NASDAQ: CIGI; TSX; CIGI) perusahaan real estate mengeluarkan laporan Asia Market Snaphot pada Kuartal 1 2019. Perusahaan tersebut meneliti kinerja 15 pasar real estat Asia di segmen perumahan dan komersial yang menunjukkan prospek.
Infrastruktur yang muncul, tren investasi dan insentif pemerintah telah menempatkan sektor industri real estate dengan kuat di seluruh wilayah. Di Hong Kong, pengembang meluncurkan produk yang polpuler dengan skema yang besar-besaran. Ini tentu mengangkat kinerja dari sisi industri.
Terence Tang, Managing Director of Capital and Investment Services, Asia mengatakan bahwa real estate di Asia tercatat positif. Adapun beberapa faktornya adalah kebijakan pemerintah yang pro investasi, pajak dan infrastuktur yang berkembang.
“Kuartal pertama ini, investor melihat diversifikasi dari sektor kantor tradisional dan kantor rumahan ke segmen data center dan warehouse,” katanya, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (24/4).
Sementara itu di Indonesia, investor lebih cenderung merubah investasi mereka yang memiliki risiko lebih rendah. Banyak pengembang asing yang lebih fokus menggarap perumahan dan apartemen.
Sementara itu di India, kejelasan yang lebih besar pada struktur pajak dan
pengenalan persetujuan ‘one window’ telah memicu minat dalam pengembangan kota-kota industri kelas internasional.
Sektor ini juga diharapkan mendapat manfaat dari peningkatan konektivitas di sepanjang Koridor Ekonomi Timur (EEC) Thailand, Sementara di Vietnam, minat orang-orang kembali melonjak setelah mereka menghadapi ketegangan perdagangan AS-Cina mendorong pertumbuhan fasilitas pabrik dan logistik di bagian barat negara itu.
Sementara itu di Singapura diharapkan tetap menarik bagi investor dan pengembang mengingat sewa perkantoran terus berlanjut di negara itu. Jumlah pengunjung negara ‘Singa’ dengan kapasitas wilayah yang terbatas juga diarapkan dapat mengangkat kinerja okupansi perhotelan. Aktivitas dalam ruang hunian diperkirakan akan relatif stagnan pada kuartal kedua.
