Kondisi Politik Bisa Berdampak ke Psikologis Gen Z
- Gejala psikologis yang bisa muncul misalnya perasaan distrust, sedih, tidak berdaya, dan malu.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID- Kaum Generasi Z lebih kritis terhadap isu sosial politik. Bahkan masalah politik bisa mempengaruhi psikologis Gen Z.
Ketertarikan anak muda pada politik ditunjukkan dengan fenomena ikutnya mereka berpartisipasi melakukan aksi protes atas kondisi bangsanya meningkat. Mereka umumnya melakukan kritik tajam seputar isu-isu sosial ekonomi, ketidaksetaraan, korupsi, dan nepotisme.
Dosen Fakultas Psikologi UGM, Dr. Wenty Marina Minza, menilai meningkatkan sikap kritis anak muda merupakan hal yang lumrah. Pasalnya perubahan besar dalam sebuah masyarakat seringkali diprakarsai oleh generasi muda. Sebab pada masa periode usia produktif ini terjadi perkembangan pesat, baik perkembangan kognitif, moral dan sosial. “Kondisi ini membuat mereka menjadi lebih sensitif terhadap isu di sekitar, sekaligus mulai mempertanyakan otoritas, keadilan, dan etika,” jelasnya, Kamis 26 Februari 2026.
Lebih lanjut Wenty menjelaskan fenomena ini terjadi karena terdapat faktor dari relasi kuasa. Secara sosial, kondisi status quo adalah kondisi yang memberi kenyamanan bagi generasi yang lebih tua, tapi belum tentu nyaman bagi generasi muda. Proses reproduksi kultural, terutama proses reproduksi yang menolak nilai-nilai atau tata cara generasi lama, menjadi alasan utama perubahan.
“Karena itulah, berbagai protes yang terjadi merupakan bagian dari upaya generasi muda untuk beraksi menolak sistem yang dibangun oleh generasi tua,” terangnya.
Wenty menilai bahwa kaum muda banyak melakukan protes disebabkan oleh adanya kondisi “krisis” yang terjadi, baik secara sosial, ekonomi, kultural dan politik, memiliki pengaruh nyata bagi kehidupan kaum muda. Menurutnya, saat ini secara jelas ada banyak isu di Indonesia yang memiliki pengaruh pada kehidupan generasi muda baik secara langsung maupun tidak langsung.
Misalnya, penggunaan anggaran negara untuk berbagai program yang masih dipertanyakan implementasi maupun hasilnya. Sebaliknya respon negara yang sering tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat, penanganan negara yang tidak jelas atas kondisi darurat kebencanaan, dan persoalan lainnya.
Wenty menjelaskan bahwa kondisi sosial politik yang mengecewakan dapat berdampak pada sisi psikologis. Ia menyebut gejala psikologis yang bisa muncul misalnya perasaan distrust, sedih, tidak berdaya, malu, dan sebagainya.
Biasanya, kekecewaan politik juga akan menghasilkan perilaku seperti menghindari sumber kekecewaannya. “Kemungkinan ia akan menghindari hal-hal menyangkut politik supaya tidak tambah kecewa, atau malah justru menjadikan seseorang marah dan secara aktif menolak sumber kekecewaannya,” tambahnya.
Masalah Kesempatan
Wenty menambahkan, salah satu isu yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan generasi muda adalah isu yang berkaitan dengan kesempatan untuk mendapatkan penghidupan atau livelihood yang memadai. Penghidupan di sini tidak hanya meliputi akses ke pasar kerja, yang memang menurutnya dewasa ini makin sulit ditembus oleh generasi muda, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan yang dipertanyakan arah dan kualitasnya.
Baca juga: Tren “Zero Post” Gen Z, Mengapa Hal Itu Terjadi?
Di luar itu, generasi muda masih mendapat banyak tekanan untuk menjalani transisi normatif, seperti soal pekerjaan dan pernikahan “tepat waktu”. “Bagaimana generasi muda dapat menjalani transisi normatif dalam kondisi seperti ini?” tanyanya.
Kemudahan akses informasi, terutama melalui sosial media mendorong publik semakin aware dengan beragam isu yang sedang terjadi. Menurut Wenty “protes kolektif” yang disampaikan generasi muda melalui media sosial dapat memicu seseorang untuk menjadi bagian dari aksi protes tersebut. Dengan sosial media, generasi muda melancarkan aktivisme politik.
“Selain lebih aman secara fisik dibandingkan dengan aksi protes seperti demonstrasi, media sosial juga memberi lebih banyak kemudahan bagi generasi muda untuk menyampaikan pendapatnya,” jelasnya.
Menurut Wenty, aktivisme politik akan berdampak positif atau tidak tergantung pada bagaimana adaptasi generasi muda terhadap proses dan dampak dari aktivisme politik tersebut. Bagi generasi muda, aktivisme politik bukan hanya tentang “protes” terhadap sebuah sistem atau kebijakan, tetapi aktivisme politik juga bisa dimaknai sebagai arena untuk belajar, berteman, dan berjejaring.
Selain itu, aktivisme politik juga bisa dilihat sebagai media untuk bersuara. Akan tetapi, menurutnya aktivisme politik juga memiliki berbagai risiko bagi kesehatan mental. “Aktivisme politik memiliki risiko, salah satunya mendapatkan tekanan dari berbagai pihak, baik dari pihak yang diprotes, atau dari sesama pengguna social media,” paparnya.
Wenty menjelaskan bahwa kondisi sosial politik yang mengecewakan dapat berdampak pada sisi psikologis. Ia menyebut gejala psikologis yang bisa muncul misalnya perasaan distrust, sedih, tidak berdaya, malu, dan sebagainya.
Biasanya, kekecewaan politik juga akan menghasilkan perilaku seperti menghindari sumber kekecewaannya. “Kemungkinan ia akan menghindari hal-hal menyangkut politik supaya tidak tambah kecewa, atau malah justru menjadikan seseorang marah dan secara aktif menolak sumber kekecewaannya,” pungkasnya.

Amirudin Zuhri
Editor
