Gapura Cinta Legendaris Italia Runtuh saat Hari Valentine
- Di tempat ini para kekasih secara tradisional melamar pernikahan, mencuri ciuman pertama, atau merayakan jadian.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID- Sebuah lokasi indah di pesisir Italia yang dikenal sebagai "Lovers' Arch" karena popularitasnya di kalangan pasangan yang sedang berpacaran, runtuh saat badai hebat pada Hari Valentine. Peristiwa yang oleh seorang pejabat setempat disebut sebagai "pukulan telak bagi hati."
Faraglioni di Sant'Andrea, lokasi sebuah lengkungan di tebing batu di pantai Salento telah menarik pengunjung yang berjiwa romantis selama berabad-abad. Di tempat ini para kekasih secara tradisional melamar pernikahan, mencuri ciuman pertama, atau merayakan jadian. Menurut legenda setempat, mereka yang berciuman di bawah lengkungan itu ditakdirkan untuk cinta abadi.
Namun, ketika badai dahsyat melanda Italia selatan pada akhir pekan, struktur lengkungan yang rapuh itu runtuh, mengubahnya menjadi tumpukan puing.
“Runtuhnya gapura itu telah memberikan pukulan telak bagi citra Salento dan pariwisata," kata Maurizio Cisternino, walikota kota Melendugno dikutip kepada CNN Selasa 17 Februari 2026. "Ini pukulan telak."
Lengkungan itu terbentuk oleh erosi angin kencang dan gelombang laut tinggi selama berabad-abad yang mengikis tebing batu kalkarenit di wilayah Puglia, Italia, di perairan biru kehijauan Laut Adriatik. Situs ini, yang dulunya merupakan pos pengawasan strategis yang digunakan untuk memperingatkan adanya bajak laut. Kemudian menjadi daya tarik bagi para pasangan kekasih pada akhir abad ke-18.
Foto-foto Instagram telah menarik ribuan pasangan lagi ke gapura tersebut dalam beberapa tahun terakhir,. Karena gratis dan terbuka untuk umum, mustahil untuk mengetahui secara pasti berapa banyak yang pernah datang.
Lorenzo Barlato, seorang warga setempat, melamar istrinya di puncak tebing yang menghadap ke lengkungan tersebut lebih dari 40 tahun yang lalu dan pasangan itu sering kembali untuk merayakan hari jadi mereka.
“Saya sudah tidak sabar untuk kembali,” tulisnya di Facebook setelah kejadian runtuhnya bangunan pada hari Sabtu. “Sekarang, sayangnya, yang tersisa hanyalah banyak foto indah yang saya ambil di tempat yang seperti surga itu.”
Baca juga: Valentine Gen Z: Saat Cokelat Sudah Ketinggalan Zaman
Daerah ini sangat populer sehingga hotel dan resor banyak yang dinamai berdasarkan lengkungan tersebut bermunculan untuk mengakomodasi pengunjung.
Tragedi Tak Terhindarkan
Peningkatan suhu air laut akibat perubahan iklim dipandang sebagai faktor pendorong cuaca ekstrem yang menghantam lengkungan tersebut. Tempat yang sebelumnya telah rusak akibat Topan Harry pada bulan Januari. Namun kekhawatiran tentang kerapuhan bangunan bersejarah itu sudah ada sejak bertahun-tahun lalu.
Menurut Cisternino pada tahun 2024, pemerintah daerah mengajukan permohonan hibah sebesar US$4,5 juta untuk mendanai proyek pelestarian guna memerangi erosi pantai, tetapi gagal mendapatkan dana tersebut.
“Ini adalah tragedi yang kami tahu tak terhindarkan, kami hanya tidak menyangka akan terjadi secepat ini,” katanya kepada media lokal pada hari Minggu.
Runtuhnya bangunan ini terjadi setelah badai dahsyat melanda Italia selatan selama beberapa minggu. Di Sisilia, tanah longsor baru-baru ini menyebabkan rumah-rumah roboh ke jurang di kota Niscemi. Banjir yang meluas telah merenggut nyawa beberapa orang, termasuk seorang pria yang meninggal ketika rumahnya runtuh di dekat Roma minggu lalu.
Kini telah hilang, sisa-sisa lengkungan tersebut akan dibiarkan hanyut di laut, kata pemerintah kota. “Ini seperti pemakaman,” kata anggota dewan pariwisata Puglia, Francesco Stella. “Ini tentang tempat yang dulunya merupakan salah satu tempat paling bahagia di Italia,” tambahnya.

Amirudin Zuhri
Editor
