Tren Leisure

Final Piala Dunia 2026 dan Lonjakan Taruhan Judi Bola

  • Taruhan Piala Dunia 2026 diproyeksi menembus US$50 miliar. Prediction market berkembang, sementara judi ilegal ikut meningkat.
betting-rules.png
Ilustrasi judi bola. (irishfa.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Final Piala Dunia FIFA 2026 diperkirakan tidak hanya menjadi puncak pesta sepak bola dunia, tetapi juga menjadi momentum terbesar dalam industri perjudian global. 

Lonjakan taruhan terjadi seiring berkembangnya platform prediksi berbasis blockchain, semakin luasnya legalisasi taruhan olahraga di sejumlah negara, hingga maraknya operasi situs judi ilegal yang memanfaatkan euforia turnamen.

Berbagai lembaga riset dan pelaku industri memperkirakan nilai taruhan selama Piala Dunia 2026 akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen empat tahunan tersebut. 

Di sisi lain, otoritas di berbagai negara juga meningkatkan pengawasan karena meningkatnya ancaman pencucian uang, penipuan siber, hingga pengaturan skor.

Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi perhatian tersendiri. Meski perjudian dilarang berdasarkan hukum yang berlaku, aktivitas judi online diperkirakan ikut meningkat menjelang partai final melalui jaringan lintas negara yang memanfaatkan platform digital.

Baca juga : Pohon Bisnis Arsjad Rasjid: Dari Batu Bara, Properti sampai EV

Perputaran Taruhan Global Diproyeksi Lampaui US$50 Miliar

Skala ekonomi di balik Piala Dunia 2026 diperkirakan jauh melampaui edisi sebelumnya. Berdasarkan estimasi bank investasi Macquarie, total nilai taruhan global selama turnamen diproyeksikan menembus lebih dari US$50 miliar, meningkat tajam dibandingkan estimasi sekitar US$35 miliar pada Piala Dunia 2022.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa sepak bola tetap menjadi olahraga dengan daya tarik taruhan terbesar di dunia.

Setiap pertandingan diperkirakan menghasilkan nilai taruhan sekitar US$500 juta, terutama pada fase gugur ketika minat publik meningkat drastis. Partai final diperkirakan menjadi pertandingan dengan volume taruhan terbesar sepanjang turnamen.

Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah juga menjadi kontributor utama. Sejak legalisasi taruhan olahraga di berbagai negara bagian, pasar taruhan resmi berkembang sangat cepat.

Analis memperkirakan nilai taruhan legal di Amerika Serikat selama Piala Dunia 2026 mencapai lebih dari US$3 miliar, melampaui volume taruhan pada ajang Super Bowl yang selama ini dikenal sebagai salah satu peristiwa taruhan terbesar di negara tersebut.

Sementara itu di Indonesia, meskipun seluruh bentuk perjudian dilarang, pengamat memperkirakan aktivitas taruhan ilegal tetap meningkat melalui platform digital. Nilai dana yang berpotensi dipertaruhkan masyarakat Indonesia selama turnamen diperkirakan berada pada kisaran Rp30 triliun hingga Rp60 triliun.

Prediction Market Ubah Peta Industri Taruhan

Salah satu perubahan paling signifikan pada Piala Dunia 2026 adalah munculnya prediction market berbasis blockchain yang mulai bersaing dengan bandar taruhan konvensional.

Berbeda dengan sportsbook tradisional, prediction market memperdagangkan kontrak atas kemungkinan suatu peristiwa terjadi, misalnya negara mana yang akan menjadi juara dunia.

Menjelang final Piala Dunia 2026, dua platform terbesar, Polymarket dan Kalshi, mencatat lonjakan transaksi yang sangat besar. Secara gabungan, volume perdagangan kontrak bertema Piala Dunia di kedua platform tersebut telah melampaui US$5 miliar.

Di Polymarket, kontrak mengenai calon juara dunia telah membukukan volume sekitar US$4,2 miliar, bahkan melampaui volume transaksi pada pasar Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 yang sebelumnya mencapai sekitar US$3,6 miliar.

Sementara itu Kalshi mencatat transaksi lebih dari US$1,2 miliar untuk kontrak juara Piala Dunia, sekitar dua kali lipat dibandingkan perdagangan kontrak pada momentum pemilu sebelumnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa minat masyarakat tidak lagi hanya berasal dari penjudi konvensional, tetapi juga dari investor ritel yang memanfaatkan mekanisme prediction market sebagai instrumen spekulatif.

Baca juga : UOB: ORI030 Laris Rp21,9 T, Investor Pindah ke Obligasi

Tren Taruhan Berubah, Bet Builder Makin Populer

Selain meningkatnya volume taruhan, pola perilaku pemain juga mengalami perubahan. Data penyedia teknologi taruhan olahraga global Kambi menunjukkan jumlah tiket taruhan (bet slip) selama Piala Dunia 2026 telah melampaui 100 juta transaksi.

Perubahan terbesar terjadi pada meningkatnya penggunaan fitur Bet Builder, yakni taruhan kombinasi dalam satu pertandingan. Melalui fitur ini, pemain dapat menggabungkan berbagai prediksi sekaligus, seperti:

  • skor akhir pertandingan,
  • jumlah kartu kuning,
  • jumlah tendangan sudut,
  • pencetak gol pertama,
  • jumlah tembakan ke gawang,
  • hingga berbagai statistik pertandingan lainnya.

Kambi mencatat:

  • Pre-match Bet Builder meningkat sekitar 3,6 kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022.
  • Live Bet Builder, yakni taruhan yang dilakukan saat pertandingan berlangsung, melonjak hingga 10 kali lipat.

Lonjakan tersebut menunjukkan perubahan perilaku pemain yang kini lebih menyukai taruhan real-time dibandingkan hanya menebak hasil akhir pertandingan.

Sisi Gelap Piala Dunia: Judi Ilegal Semakin Canggih

Di balik pertumbuhan industri taruhan legal, aparat penegak hukum di berbagai negara justru menghadapi peningkatan aktivitas perjudian ilegal.

Di Asia, berbagai sindikat memanfaatkan antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia untuk mengembangkan jaringan perjudian lintas negara dengan teknologi yang semakin canggih.

Selama gelaran Piala Dunia 2026, kepolisian China membongkar sedikitnya 47 jaringan perjudian sepak bola ilegal. Total transaksi yang berhasil diungkap mencapai lebih dari 8 miliar yuan, atau sekitar Rp17,5 triliun.

Salah satu kasus terbesar terjadi di Provinsi Sichuan. Dalam operasi tersebut aparat membongkar sindikat lintas negara yang:

  • mengoperasikan lebih dari 180 kanal live streaming,
  • memiliki sekitar 760.000 pengguna aktif secara bersamaan,
  • mengumpulkan lebih dari 1,1 juta anggota terdaftar, dan
  • menghasilkan omzet sekitar 2 miliar yuan.

Hasil penyelidikan menunjukkan sebagian besar server perjudian ditempatkan di luar yurisdiksi negara asal pemain. Lokasi yang paling banyak digunakan antara lain:

  • Filipina,
  • Malaysia,
  • Kamboja.

Penempatan server di luar negeri membuat proses penegakan hukum menjadi jauh lebih kompleks karena melibatkan kerja sama lintas negara.

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga mulai dimanfaatkan sindikat perjudian. Berbagai situs menawarkan layanan dengan klaim menggunakan kode,

  • "Prediksi AI",
  • "Big Data Analysis",
  • "Machine Learning Prediction",
  • "Algoritma Super Komputer".

Klaim tersebut digunakan untuk meyakinkan calon pemain bahwa peluang menang menjadi lebih tinggi.

Padahal, berbagai pakar keamanan siber menilai narasi tersebut sebagian besar hanya menjadi strategi pemasaran untuk menarik korban baru.

Selain itu, aparat juga menemukan banyak situs yang menggunakan logo federasi sepak bola, klub terkenal, maupun label "Situs Bola Resmi" secara ilegal guna menciptakan kesan terpercaya.

Malaysia dan Vietnam Tingkatkan Operasi Penindakan

Lonjakan perjudian juga mendorong aparat keamanan di Asia Tenggara memperbesar operasi pemberantasan.

Di Malaysia, Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) melaksanakan 422 operasi selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Operasi tersebut menghasilkan penangkapan 554 tersangka yang diduga terlibat dalam aktivitas perjudian.

Sementara di Vietnam, dalam 20 hari pertama turnamen, kepolisian melakukan penggerebekan terhadap 73 lokasi perjudian dan menahan 346 tersangka.

Data tersebut menunjukkan bahwa lonjakan aktivitas taruhan tidak hanya terjadi di negara yang melegalkan perjudian, tetapi juga berkembang pesat melalui jaringan ilegal di kawasan Asia.

Tidak hanya perjudian ilegal, ancaman kejahatan digital juga meningkat. Center for Internet Security (CIS) memperingatkan bahwa Piala Dunia 2026 menjadi salah satu momentum dengan risiko tertinggi terhadap:

  • pencucian uang digital,
  • penipuan daring,
  • pencurian data pribadi,
  • phishing,
  • hingga praktik pengaturan skor.

Banyak kelompok kriminal memanfaatkan tingginya trafik internet selama pertandingan berlangsung untuk menyebarkan tautan palsu, aplikasi ilegal, dan situs taruhan yang berpotensi mencuri data pengguna.

Baca juga : Ketika Sawah Indonesia jadi Rebutan Investor Dunia

Indonesia Waspadai Ledakan Konten Judi Online

Di Indonesia, seluruh bentuk perjudian tetap merupakan tindak pidana berdasarkan Pasal 303 KUHP dan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan terkait transaksi elektronik.

Namun, menjelang final Piala Dunia, pemerintah tetap menghadapi tantangan besar dalam memberantas promosi perjudian digital.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan telah menemukan sekitar 126.180 konten digital yang mempromosikan situs judi online maupun permainan slot dengan memanfaatkan momentum Piala Dunia 2026.

Promosi tersebut tersebar melalui berbagai platform digital, mulai dari media sosial, aplikasi percakapan, hingga situs web.

Para ekonom juga mengingatkan bahwa maraknya perjudian online berpotensi menyebabkan kebocoran devisa serta mengurangi daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

Bagi Indonesia, meningkatnya promosi judi online menjelang final Piala Dunia menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap berbagai modus yang memanfaatkan euforia sepak bola. 

Menikmati pertandingan sebagai hiburan olahraga tanpa terlibat dalam aktivitas perjudian menjadi langkah paling aman, baik dari sisi hukum maupun perlindungan kondisi keuangan pribadi.