Tren Leisure

Film The King’s Warden Hampir Tembus 10 Juta di Box Office

  • The King’s Warden, drama komedi sejarah tentang kudeta abad ke-15 berhasil melampaui ekspektasi box office Korea.
Film The King’s Warden.
Film The King’s Warden. (soompi.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Sebuah drama komedi sejarah tentang kudeta abad ke-15 berhasil melampaui ekspektasi box office Korea. Kesuksesan ini didorong oleh penonton yang melihat kemiripan mendalam antara tema kekuasaan absolut dalam film tersebut dengan deklarasi darurat militer yang sempat diumumkan oleh mantan Presiden Yoon Suk Yeol dalam waktu singkat.

Sebelum film The King’s Warden dirilis pada 4 Februari, sutradara Jang Hang Jun sempat meragukan potensi film tersebut menjadi blockbuster. “Jika saya menyutradarai sebaik itu, saya pasti sudah membuat film berpendapatan 10 juta. Saya bukan sutradara ulung, kan?” kata Jang Hang Jun pada akhir Januari.

Ia bahkan bercanda bahwa dirinya akan melakukan operasi plastik, mengganti nama, dan berpindah kewarganegaraan jika film tersebut berhasil menembus 10 juta penonton. Kini, dengan pencapaian itu yang hampir pasti, Jang Hang Jun mengaku sangat terharu.

“Angka ini bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya menjalani hari demi hari dengan penuh rasa syukur,” ujarnya.

Film tersebut ditonton oleh sekitar 194.000 penonton di seluruh Korea pada Selasa, 3 Maret 2026 sehingga total penontonnya mencapai sekitar 9.407.000 orang, menurut data Dewan Film Korea yang dirilis pada Rabu, 4 Maret2026. Perkiraan industri menunjukkan film ini akan melampaui angka 10 juta penonton, tolok ukur bagi film blockbuster domestic, pada Jumat atau Sabtu.

Film ini akan menjadi film ke-34 secara keseluruhan dan film Korea ke-25 yang mencapai tonggak sejarah ini di Korea. Distributor Showbox awalnya memperkirakan film ini akan mencapai angka tersebut pada pertengahan hingga akhir Maret.

Lonjakan Box Office yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

Film The King’s Warden. (soompi.com)

Film ini tidak mengalami penurunan penonton seperti yang biasanya terjadi di box office. Alih-alih kehilangan momentum, jumlah penonton justru terus meningkat. Pada akhir pekan pertama, film ini mencatat sekitar 760.000 penonton, lalu melonjak menjadi 1,75 juta beberapa pekan kemudian.

Bahkan pada Minggu, saat Korea memperingati hari jadi ke-107 Gerakan Kemerdekaan 1 Maret, film tersebut mencetak rekor penjualan tiket harian dengan sekitar 810.000 tiket terjual.

Analis industri film Kim Hyung Ho menilai lonjakan penjualan tiket ini dipicu oleh kuatnya promosi dari mulut ke mulut dan meningkatnya jumlah penonton yang kembali ke bioskop. “Jumlah penonton tampaknya meningkat pesat karena banyak orang yang sebelumnya jarang pergi ke bioskop sejak Exhuma dan The Roundup: Punishment dua tahun lalu kini mulai kembali,” kata Kim Hyung Ho.

“Fakta bahwa ini adalah film sejarah yang cocok untuk ditonton keluarga juga turut berkontribusi pada peningkatan kesuksesan box office-nya,” tambahnya.

Data dari jaringan bioskop multiplex CJ CGV menunjukkan sebaran demografi penonton yang cukup merata, menandakan daya tarik film ini mampu menjangkau berbagai generasi. Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan formula blockbuster Korea abad ke-21 yang memadukan kisah mengharukan dengan unsur komedi.

Film ini juga mengikuti jejak tematik sejumlah film sukses seperti The King and the Clown, Masquerade, serta film hit tahun 2013 The Face Reader, yang berhasil menarik sekitar 9,13 juta penonton.

Gema Trauma Politik Modern

Popularitas film ini sangat berkaitan dengan tema yang diangkat, yakni kudeta tahun 1453 ketika Pangeran Agung Suyang, yang kemudian menjadi Raja Sejo, mengasingkan keponakannya, Raja Danjong, dan merebut takhta untuk dirinya sendiri.

Konsultan sejarah film tersebut, Kim Soon Nam, profesor di Korea University mengatakan bahwa pertanyaan utama film mengenai apakah kudeta yang berhasil dapat dibenarkan terasa sangat relevan bagi penonton masa kini.

“Pertanyaan itu masih relevan hingga sekarang, bahkan terasa semakin penting sejak deklarasi darurat militer pada Desember 2024,” ujar Kim Soon Nam.

Produser Park Yoon Ho juga menilai penonton terhubung dengan konflik pribadi dan politik yang dialami para karakter dalam film. “Sepertinya mereka lebih berempati pada pilihan, keheningan, dan tanggung jawab yang dihadapi oleh seorang manusia, bukan sekadar melihat jalannya sejarah,” katanya.

‘Setiap orang pasti pernah mengalami momen keraguan di hadapan kekuasaan atau hal yang tidak masuk akal setidaknya sekali, tetapi saya pikir hal itu menggerakkan hati banyak orang untuk mempertanyakan pilihan apa yang dibuat orang dalam momen-momen seperti itu,” tambahnya.

Dampak Budaya yang Lebih Luas

Film The King’s Warden. (soompi.com)

Film ini juga memicu minat yang lebih luas terhadap sejarah periode tersebut. Toko buku Kyobo Bookstore melaporkan penjualan buku yang berkaitan dengan “Annals of the Joseon Dynasty” meningkat hampir tiga kali lipat sejak film dirilis hingga 2 Maret dibandingkan periode sebelum penayangannya.

Para penerbit pun berlomba-lomba mencetak ulang novel karya Lee Kwang Su yang berstatus domain publik, “The Tragic History of Danjong.” Sementara itu, National Changgeuk Company tengah menyiapkan pertunjukan baru yang diangkat dari peristiwa yang sama, berjudul Boheoja: The One Who Walks in the Void, yang dijadwalkan debut pada 19 Maret.

Sektor pariwisata di daerah juga mengalami peningkatan pesat. Kabupaten Yeongwol di Provinsi Gangwon, yang menjadi lokasi beberapa tempat syuting utama seperti Cheongnyeongpo dan makam Raja Danjong, melaporkan sekitar 26.000 pengunjung selama libur akhir pekan baru-baru ini, dari Jumat hingga Minggu.

Angka tiga hari tersebut setara dengan 10% dari total pengunjung situs tersebut yang mencapai 260.000 pada tahun sebelumnya.