Tren Leisure

Digemari Gen Z, Bagaimana Asal Mula Kopi Ditemukan?

  • Dari Ethiopia hingga Nusantara, inilah sejarah panjang kopi yang kini menjadi bagian gaya hidup Gen Z Indonesia.
Kopi Kenangang.
Kopi Kenangang. (kopikenangan.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Kopi kini bukan sekadar minuman pengusir kantuk. Bagi Generasi Z, kopi sudag menjadi bagian dari gaya hidup. Mulai dari teman nugas, konten media sosial, sampai ruang ngobrol yang hangat di coffee shop. 

Tapi jauh sebelum latte art dan cold brew viral di Instagram, kopi punya sejarah panjang yang membentuk budaya dunia. Lalu, bagaimana sebenarnya asal mula budaya kopi yang kini digandrungi Gen Z?

Dilansir Ensiklopedia Britanica, Jumat, 6 Februari 2026, sejarah kopi diyakini bermula di Ethiopia, Afrika Timur, sekitar abad ke-9. Menurut legenda populer, seorang penggembala bernama Kaldi menyadari kambing-kambingnya menjadi lebih energik setelah memakan buah merah dari sebuah pohon. 

Rasa penasaran membawa buah itu ke para biarawan setempat, yang kemudian mengolahnya menjadi minuman untuk membantu tetap terjaga saat beribadah malam.

Dari sinilah kopi mulai dikenal sebagai minuman yang memberi energi, fungsi yang masih relevan hingga sekarang, terutama bagi Gen Z yang akrab dengan deadline dan multitasking.

Pada abad ke-15, kopi menyebar ke Yaman dan berkembang pesat di dunia Arab. Kota-kota seperti Mekah, Kairo, dan Istanbul menjadi pusat budaya kopi. Di sinilah muncul qahveh khaneh, kedai kopi pertama di dunia.

Kedai kopi saat itu bukan sekadar tempat minum, tapi ruang diskusi, berbagi kabar, musik, hingga debat politik. Tak heran, kopi dijuluki sebagai “minuman para pemikir”. Konsep ini mirip dengan coffee shop masa kini yang jadi tempat brainstorming, kerja remote, dan diskusi santai—versi modern dari ruang publik.

Kopi masuk ke Eropa pada abad ke-17 dan langsung mengubah kebiasaan sosial. Di Inggris, Prancis, dan Belanda, coffee house menjadi tempat berkumpulnya penulis, pedagang, hingga ilmuwan. Bahkan, beberapa institusi besar seperti Lloyd’s of London berawal dari kedai kopi.

Di era ini, kopi mulai menggantikan alkohol sebagai minuman pagi. Efeknya signifikan, masyarakat menjadi lebih produktif, rasional, dan fokus. Inilah awal kopi sebagai “bahan bakar” aktivitas intelektual, peran yang kini diambil alih oleh espresso dan americano di kalangan anak muda.

Kopi Datang ke Nusantara

Indonesia mengenal kopi sejak abad ke-17, ketika VOC Belanda membawa bibit kopi Arabika ke Nusantara sebagai bagian dari komoditas dagang kolonial. Tanaman kopi pertama kali dibudidayakan secara sistematis di Pulau Jawa, terutama di wilayah Priangan, sebelum kemudian menyebar ke berbagai daerah lain seperti Sumatra, Sulawesi, Bali, hingga Flores. 

Kondisi geografis Indonesia yang berada di cincin vulkanik, dengan tanah subur dan iklim tropis, membuat kopi berkembang pesat dan memiliki karakter rasa yang sangat beragam. 

Dari proses panjang inilah lahir kopi-kopi khas Nusantara seperti Gayo dari Aceh, Toraja dari Sulawesi, Kintamani dari Bali, hingga Java Coffee yang sejak era kolonial sudah dikenal dan diperdagangkan di pasar Eropa.

Seiring waktu, kopi tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga menyatu dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Budaya ngopi tumbuh secara organik di berbagai daerah dengan ciri khas masing-masing. 

Di banyak daerah, kopi tubruk, kopi hitam yang diseduh langsung tanpa disaring, menjadi simbol kesederhanaan dan kebersamaan, terutama di warung kopi tradisional.

Di Yogyakarta, muncul kopi joss, kopi panas yang dicelupkan arang membara, mencerminkan kreativitas lokal sekaligus filosofi “rasa bukan segalanya, pengalaman juga penting”.

Memasuki era modern, budaya ngopi Indonesia terus bertransformasi tanpa meninggalkan akarnya. Generasi muda, khususnya Gen Z, menghidupkan kembali kopi Nusantara dalam bentuk yang lebih kekinian. 

Kopi susu gula aren menjadi ikon baru, perpaduan espresso modern dengan rasa tradisional gula aren lokal. Minuman ini bukan sekadar tren, melainkan bukti bahwa kopi Indonesia mampu beradaptasi dengan selera zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Kini, kopi di Indonesia tidak hanya soal minuman, tetapi juga identitas budaya, ruang sosial, dan ekspresi gaya hidup. Dari warung kopi pinggir jalan hingga coffee shop estetik di kota besar, kopi menjadi medium bertemu, berdiskusi, bekerja, bahkan membangun komunitas. 

Bagi Gen Z, kopi bukan cuma soal rasa, tapi juga identitas dan pengalaman. Coffee shop menjadi ruang ekspresi diri, tempat kerja fleksibel, sekaligus latar konten digital. Gen Z juga lebih peduli pada isu sustainability, asal biji kopi, hingga cerita di balik petani dan proses seduh.

Perjalanan kopi dari Ethiopia hingga ke genggaman Gen Z membuktikan satu hal, kopi selalu relevan dengan zamannya. Dulu, kopi membantu para biarawan tetap terjaga. Kini, kopi menemani Gen Z mengejar mimpi, ide, dan kreativitas.