Tren Leisure

Comeback di Depan Mata, ke Mana Perjalanan BTS Selanjutnya?

  • Grup K-pop BTS siap kembali mencetak sejarah lewat album penuh terbaru mereka, “Arirang,”
Boy group asal Korea Selatan, BTS.
Boy group asal Korea Selatan, BTS. (Kevin Winter/Getty Images for MRC)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Grup K-pop BTS siap kembali mencetak sejarah lewat album penuh terbaru mereka, “Arirang,” rilisan pertama dari grup beranggotakan tujuh orang ini setelah hampir tiga tahun. Agensi mereka, BigHit Music atau sekarang HYBE, menyebut album tersebut sebagai sebuah perjalanan untuk menggali kembali “akar dan identitas” BTS.

Lalu, seperti apa wujud eksplorasi itu dari sisi musik, mengingat warna musik BTS terus berevolusi?

Sejak debut pada Juni 2013, BTS telah mengalami evolusi suara yang konstan, mulai dari hip-hop old-school yang mentah, kemudian beralih ke gaya yang lebih pop pada pertengahan 2010-an, hingga meraih puncak tangga lagu global lewat single berbahasa Inggris seperti “Dynamite” (2020), “Butter” (2021), dan “Permission to Dance” (2021) di era pandemi.

Dilansir dari Korea JoongAng Daily, di tengah antusiasme besar terhadap album yang diprediksi menjadi salah satu rilisan K-pop terbesar sepanjang sejarah, Arirang hadir bukan sekadar sebagai comeback, melainkan sebagai momen refleksi diri bagi BTS.

Untuk memahami apa yang mungkin terjadi di masa depan, berikut adalah ulasan lebih mendalam tentang bagaimana identitas musik BTS telah berkembang dari waktu ke waktu, dan bagaimana setiap era menjadi fondasi bagi era selanjutnya.

Awal Mula Hip-hop

Album-album awal BTS, yang sering disebut secara kolektif sebagai trilogi “Skool,” mungkin sudah tidak begitu dikenal oleh pendengar kasual saat ini.

Namun, karya-karya tersebut menyimpan DNA yang kelak mendorong BTS menuju panggung global. Sejak awal, warna musik BTS dibentuk oleh para arsitek utama seperti produser utama Pdogg, bersama Supreme Boi dan Slow Rabbit, dan kontribusi langsung dari para member RM dan Suga.

Pada fase awal ini, pendiri BigHit Music atau HYBE, Bang Sihyuk, membayangkan BTS bukan sebagai grup idola konvensional, melainkan sebagai sebuah kru hip-hop, terinspirasi oleh grup seperti 1TYM, dengan RM sebagai rapper sekaligus pemimpin yang menjadi poros utama grup.

Single debut BTS “2 Cool 4 Skool” (2013), disusul EP pertama “O!RUL8,2?” (2013) dan EP kedua “Skool Luv Affair” (2014), membangun nuansa yang lantang dan konfrontatif. Lagu-lagu seperti “No More Dream” (2013) dan “N.O” (2013) secara gamblang mengkritik sistem pendidikan Korea yang kaku serta tekanan sosial yang mencekik kaum muda, sejalan dengan pengalaman nyata para anggotanya.

Lirik seperti “Why are you forcing me to go in a different direction? Mind your own business, please don't force me” dari lagu debut “No More Dream” menjadi cerminan kuat dari semangat perlawanan pada era tersebut.

Secara musikal, diskografi awal BTS sangat kental dengan nuansa hip-hop old-school yang agresif, pendekatan yang masih berlanjut hingga album penuh pertama mereka, Dark & Wild (2014).

Album ini menjadi penutup dari era BTS yang sangat dipengaruhi hip-hop, menampilkan karakter yang mentah sekaligus memperluas tema lagu ke ranah kisah romansa melalui “Danger” (2014) dan “War of Hormone” (2014).

Di sisi lain, lagu-lagu B-side seperti “Paldogangsan” (2013) menonjolkan latar belakang daerah para member lewat penggunaan dialek yang kuat. Hal ini menjadi bukti awal komitmen BTS terhadap penceritaan yang personal, sebuah benang merah yang terus berlanjut dalam lagu-lagu berikutnya seperti “Ma City” (2015).

“Debut BTS dengan identitas segar sebagai grup idola hip-hop membantu membedakannya dari grup-grup yang sudah ada, namun tidak dapat dilihat sebagai strategi yang rumit untuk menarik perhatian publik secara luas,” kata mendiang kritikus musik Kim Young-dae dalam bukunya “BTS: The Review” (2019).

“Namun demikian, hal itu tak dapat disangkal telah menjadi pendorong utama di balik ekspansi signifikan BTS ke luar negeri,” Kim menjelaskan, seraya mencatat bahwa penekanan grup pada otentisitas dan kebebasan kreatif sangat beresonansi dengan audiens AS. Transformasi Sonik

Perubahan Total dalam Hal Suara

Boy group K-pop BTS. (Big Hit Music)

Titik balik besar pertama dalam perjalanan BTS hadir lewat EP ketiga mereka, The Most Beautiful Moment in Life PT. 1 (2015), awal dari sebuah trilogi yang mendefinisikan kembali cakupan musik dan naratif grup tersebut.

Meski tema utama tentang masa muda dan kritik tersirat terhadap realitas sosial Korea tetap utuh, warna musiknya mulai melunak dari agresivitas hip-hop di era awal. BTS perlahan mengadopsi pendekatan yang lebih pop, seiring penutupan fase akhir remaja dan memasuki babak baru menuju awal masa dewasa.

Perubahan ini, diperkuat oleh penceritaan visual yang semakin kompleks di sepanjang diskografi mereka, mencerminkan perkembangan naratif, dari sosok remaja pemberontak menjadi individu muda yang bergulat dengan ketidakpastian hidup.

Lagu utama “I Need U” (2015) menandai pergeseran menuju ekspresi emosi yang lebih rapuh dan terbuka, menggambarkan masa muda sebagai fase yang penuh luka alih-alih perlawanan. Lirik seperti “Because the sky is blue and the sunshine is stunning, my tears are more visible / Why does it have to be you? Why can't I leave you?” menangkap rasa rindu dan kepedihan yang mendalam.

Video musiknya menjadi karya BTS pertama yang menembus 100 juta penayangan, dan keberhasilan ini berlanjut lewat rilisan berikutnya seperti “Run” (2015) dan “Save Me” (2016).

Era ini menandai awal kebangkitan global BTS, ditandai dengan masuknya mereka untuk pertama kalinya ke tangga album Billboard 200 melalui The Most Beautiful Moment in Life PT. 2 (2015).

Momentum tersebut berlanjut ke “Wings” (2016), album penuh kedua BTS yang memperluas ambisi tematik mereka. Terinspirasi dari novel klasik Demian (1919) karya Hermann Hesse, album ini menandai pergeseran ke arah yang lebih gelap dan luas, dengan “Blood, Sweat & Tears” sebagai lagu utama serta deretan lagu solo dari masing-masing member.

Album repackage “You Never Walk Alone” (2017) kemudian mengarahkan narasi BTS ke tema kebersamaan dan penyembuhan, sebuah benang merah yang terus terasa kuat dalam karya-karya mereka selanjutnya.

Lagu utama “Spring Day” (2017), yang kerap dianggap sebagai salah satu lagu paling ikonis BTS, membuka dengan rap RM, “I miss you, when I say it aloud, I miss you more,” yang membangkitkan nuansa rindu dan melankolia yang menyelimuti keseluruhan lagu.

Video musiknya, yang konon terinspirasi dari cerpen The Ones Who Walk Away From Omelas (1973) karya Ursula K. Le Guin, menampilkan visual penuh kesedihan yang oleh sebagian penonton ditafsirkan sebagai simbolisasi tragedi kapal feri Sewol pada 2014.

Narasi Semakin Kompleks

Saat memasuki era “Love Yourself,” BTS telah berkembang pesat dari sekadar bintang pendatang baru menjadi fenomena global.

Rangkaian rilisan yang dimulai dari EP kelima “Love Yourself: Her” (2017), hingga ke album penuh ketiga Tear (2018), yang mencatat sejarah sebagai album K-pop pertama yang memuncaki Billboard 200, hingga album repackage Answer (2018), mengupas tema cinta dalam berbagai bentuk.

Pendengar diajak menelusuri perjalanan emosional, dari euforia cinta pada “DNA” (2017), patah hati dalam “Fake Love” (2018), hingga penerimaan diri yang kuat melalui “Idol” (2018).

“Idol” secara khusus menonjol sebagai pernyataan diri yang berani dan eksperimental, memadukan ritme Afrika dengan elemen tradisional Korea, baik dari sisi musik maupun visual. Lirik seperti “You can call me artist / You can call me idol / Or whatever you might wanna call me / I don't care,” mencerminkan sikap tegas BTS dalam merayakan jati diri tanpa kompromi.

“Musik idola K-pop telah berkembang maju terlepas dari penolakan generasi yang lebih tua dan cemoohan para kritikus selama seperempat abad terakhir,” ujar kritikus musik Hyun Ji-woon dalam komentarnya pada ajang Korean Music Awards ke-16.

“Lewat ‘Idol,’ perkembangan tersebut mencapai titik istimewa, baik melalui pesannya maupun kebangkitan kembali ritme tradisional yang lama terabaikan.”

Setelah meraih kesuksesan global yang belum pernah terjadi sebelumnya, BTS memasuki fase refleksi diri. EP berikutnya, “Map of the Soul: Persona” (2019), membuka rangkaian dua album yang diwarnai rasa syukur dan optimisme, tercermin dalam lagu “Boy With Luv”, yang menurut RM dipersembahkan untuk para penggemar BTS, ARMY.

Namun, suasana menjadi lebih gelap lewat “Map of the Soul: 7” (2020), album penuh keempat BTS yang dirilis untuk memperingati tujuh tahun debut mereka.

Terinspirasi secara longgar oleh teori psikologi Carl Jung, album ini mengangkat tema-tema seperti ambisi, ketakutan, dan pencarian identitas.

Nuansa reflektif tersebut berlanjut dalam “Interlude: Shadow” (2020), yang menyoroti beban emosional dari ketenaran global BTS melalui lirik yang jujur seperti “I'm afraid, flying high scares me / Nobody told me how lonely it is here / My leap might be a fall.”

Lagu pra-rilis “Black Swan” (2020) menggambarkan pergulatan artistik, terinspirasi dari kutipan penari Martha Graham, “A dancer dies twice, once when they stop dancing, and this first death is the most painful,” yang turut disertakan dalam video penampilan lagu tersebut.

Sementara itu, lagu utama “On” (2020) menyalurkan ketegangan itu menjadi tekad kuat, didorong oleh aransemen marching band dan paduan suara gospel yang intens, serta penampilan yang penuh wibawa.

Meraih Kesuksesan di Amerika Serikat

Kemudian datang pandemi Covid-19, bersamaan dengan perilisan “Dynamite” (2020), single disco-pop yang sepenuhnya dinyanyikan dalam bahasa Inggris.

Lagu ini menjadi terobosan besar kedua bagi BTS, setelah berhasil menduduki puncak tangga lagu Billboard Hot 100, sekaligus menghadirkan keceriaan dan pelarian emosional di tengah situasi pandemi global.

“Dynamite milik BTS berperan sebagai lagu pop yang mencerahkan suasana hati publik yang didominasi oleh keputusasaan, depresi, dan kecemasan, serta melindungi aset emosional masyarakat,” kata Park Hyun-joon, seorang musisi rock dan juri Korean Music Awards.  

Kesuksesan tersebut berlanjut melalui “Butter” dan “Permission to Dance,” dua lagu dance bernuansa ceria dan mudah dinikmati, yang semakin mengukuhkan dominasi BTS di arus utama musik global.

Selama era ini, BTS juga tetap memperkaya warisan musikal mereka lewat album edisi deluxe BE (2020) yang diproduseri oleh Pdogg. Lagu utama “Life Goes On” (2020) langsung memuncaki Billboard Hot 100 setelah “Dynamite,” menjadi lagu pertama yang sebagian besar berbahasa Korea yang berhasil meraih posisi tersebut, sebelum kemudian disusul oleh “Butter.”

Meski demikian, tiga hit pop terbesar BTS yaitu “Dynamite,” “Butter,” dan “Permission to Dance,” juga menandai perubahan gaya yang cukup mencolok. Diproduksi oleh komposer pop Barat alih-alih kolaborator lama seperti Pdogg, lagu-lagu ini lebih menitikberatkan pada aksesibilitas dibandingkan eksplorasi reflektif yang mendalam.

Kembali ke Akar?

Selama masa jeda wajib militer yang dimulai dengan pendaftaran Jin pada 2022, fokus BTS pun secara alami bergeser ke aktivitas solo, dengan tiap anggota mengeksplorasi identitas musiknya masing-masing.

Menjauh sejenak dari identitas besar bernama BTS, beserta tekanan publik yang tak terelakkan terkait performa tangga lagu dan sorotan media, gaya artistik yang sebelumnya dituangkan lewat lagu solo dan mixtape berkembang menjadi album penuh serta berbagai kolaborasi.

Album solo Jungkook, “Golden” (2023), kuat dipengaruhi R&B, sementara V bereksperimen dengan tempo lambat dan nuansa jazz yang menonjolkan warna vokalnya yang dalam.

Album penuh kedua RM, “Right Place, Wrong Person” (2024), mengeksplorasi rasa keterasingan dan ketidaknyamanan lewat tekstur musik yang emosional dan modern serta lirik yang lugas, tanpa membatasi diri pada hip-hop semata.

Kini, setelah hiatus panjang, “Arirang’ hadir bukan hanya sebagai ajang reuni, melainkan sebagai titik redefinisi identitas BTS pasca-kesuksesan pop global mereka.

Sejauh ini, “Arirang” diketahui akan menggali akar budaya Korea BTS, yang disebut akan menjadi “tema emosional” utama album tersebut.

BTS telah mengeksplorasi tema serupa sebelumnya, terutama lewat “Idol,” namun “Arirang” tampaknya akan bersifat lebih mendasar dalam menentukan arah musikal mereka ke depan. Apakah ini berarti kembali ke hip-hop, memperbarui kolaborasi dengan produser lama seperti Pdogg, atau justru melahirkan bentuk hibrida yang sama sekali baru, masih menjadi tanda tanya.

Spekulasi menunjukkan bahwa produser AS pemenang Grammy, Diplo, yang sebelumnya telah bekerja dengan Big Bang dan Blackpink, mungkin telah berpartisipasi dalam proyek ini, karena ia baru-baru ini membuat unggahan di media sosial dengan gambar sampul “Arirang” dan keterangan yang berbunyi, “let’s go.”

“BTS mengandalkan suara retropop dengan ‘Dynamite’ dan ‘Butter’ sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisinya di tangga lagu Billboard Hot 100, tetapi lanskapnya telah banyak berubah sekarang, sebagian karena kesuksesan KPop Demon Hunters,” kata kritikus budaya pop Kim Hern-sik, merujuk pada film animasi terbesar tahun 2025 dan dampaknya secara global dalam mempromosikan merek nasional Korea dan motif tradisionalnya. 

Ia menambahkan bahwa, mengingat fokus K-pop sejak era Covid-19 semakin mengarah ke pasar global ketimbang domestik, menempatkan Korea sebagai jantung K-pop memiliki makna penting baik di dalam maupun luar negeri.

“Root” BTS sendiri tidak ditentukan oleh satu genre musik tertentu, melainkan oleh penceritaan yang berakar pada pengalaman muda, kendali artistik, kesadaran sosial, dan kemauan untuk terus berkembang.

Jika “Arirang” benar-benar menjadi eksplorasi identitas, maka kembali ke akar justru bisa dimaknai sebagai kelanjutan dari transformasi tersebut, sebuah titik awal baru untuk era BTS berikutnya.