Tren Leisure

Anak Muda Sulit Menabung? Data Terbaru Ungkap Penyebab Sebenarnya

  • JAKARTA, TRENASIA.ID – Anggapan bahwa generasi muda Indonesia boros dan enggan menabung masih sering terdengar. Namun, sejumlah riset terbaru justru menunjukka
Ilustrasi dua orang wanita sedang memegang uang hasil tabungan.
Ilustrasi dua orang wanita sedang memegang uang hasil tabungan. (Freepik/drobotdean)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Anggapan bahwa generasi muda Indonesia boros dan enggan menabung masih sering terdengar. Namun, sejumlah riset terbaru justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. 

Sebagian besar anak muda sebenarnya telah memiliki kebiasaan menabung, tetapi tekanan biaya hidup, gaya hidup, hingga kemudahan akses kredit membuat mereka kesulitan membangun kondisi keuangan yang sehat.

Berbagai survei dari lembaga riset dan institusi keuangan menunjukkan adanya paradoks. Di satu sisi, mayoritas generasi muda mengaku rutin menyisihkan sebagian pendapatannya. Di sisi lain, kualitas kesehatan finansial mereka justru mengalami penurunan.

Survei Populix 2025 yang melibatkan 1.100 responden menemukan sebanyak 77% anak muda mengaku menabung secara rutin.

Sementara itu, hasil OCBC Financial Fitness Index (FFI) 2025 bahkan menunjukkan angka yang lebih tinggi. Sebanyak 89% anak muda menyatakan memiliki kebiasaan menabung secara rutin.

Temuan Populix juga menggambarkan pola menabung yang cukup beragam. Sebanyak 23% responden menyisihkan nominal tetap setiap bulan, 46% menabung dengan nominal yang fleksibel, 8% menabung setiap minggu, sedangkan 17% memilih menyimpan sisa uang pada akhir bulan.

Hampir separuh responden mengaku langsung membagi penghasilannya ke dalam pos kebutuhan dan tabungan segera setelah menerima gaji. Bagi mereka yang belum mampu menabung secara rutin, sebagian tetap berusaha menyisihkan sisa pendapatan pada akhir bulan.

Data tersebut menunjukkan bahwa kesadaran menabung di kalangan generasi muda sebenarnya sudah cukup tinggi.

Baca juga : Alarm Bahaya OJK, Anak Muda Indonesia jadi Generasi Pengutang

Skor Kesehatan Finansial Justru Menurun

Di balik tingginya angka kebiasaan menabung, kondisi kesehatan finansial anak muda justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan OCBC Financial Fitness Index (FFI), skor kesehatan finansial generasi muda turun dari 41,25 pada 2024 menjadi 40,60 pada 2025.

Penurunan juga terlihat pada kepemilikan dana darurat. Jika pada 2024 terdapat 25% anak muda yang memiliki dana darurat, pada 2025 angkanya turun menjadi 19%.

Kemampuan mengelola utang tanpa jaminan juga mengalami penurunan, dari 97,28 pada 2024 menjadi 93,97 pada 2025. Survei tersebut juga menemukan bahwa hanya sekitar 40% generasi muda yang secara konsisten mengalokasikan dana khusus untuk ditabung. 

Dari kelompok tersebut, sekitar separuh hanya mampu menyisihkan 1-20% dari penghasilannya, jumlah yang umumnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar tiga bulan apabila kehilangan sumber pendapatan.

Kelompok usia 25-29 tahun yang belum menikah menjadi kelompok dengan skor kesehatan finansial terendah, yakni hanya 37,94, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional.

Menariknya, penurunan kesehatan finansial tersebut terjadi ketika tingkat literasi keuangan anak muda sebenarnya sudah cukup tinggi. Indeks literasi keuangan kelompok usia 18-25 tahun mencapai 73,22%, sedangkan kelompok usia 26-35 tahun mencapai 74,04%.

Namun, pemahaman mengenai keuangan belum sepenuhnya diterapkan dalam pengelolaan uang sehari-hari.

Lebih dari 50% generasi Z dan milenial diketahui menggunakan layanan bank digital hanya untuk kebutuhan transaksi, sementara hanya sekitar 36% yang memanfaatkannya sebagai tempat menabung.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan finansial dengan praktik pengelolaan keuangan.

Baca juga : Cara Bikin Username di WA, Nomor HP Kamu Bisa Tetap Privat

Mengapa Anak Muda Sulit Menabung?

Meski memiliki kesadaran finansial yang cukup baik, terdapat sejumlah faktor yang membuat generasi muda kesulitan mempertahankan tabungan mereka.

1. Tekanan Biaya Hidup Terus Meningkat

Survei menunjukkan 74% anak muda mengaku sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, serta berbagai tagihan bulanan.

Kenaikan harga pangan, biaya transportasi, hingga harga hunian membuat ruang untuk menabung menjadi semakin sempit.

2. FOMO dan Tekanan Gaya Hidup

Fenomena fear of missing out (FOMO) masih menjadi tantangan besar. Data OCBC Financial Fitness Index 2025 menunjukkan 76% anak muda mengaku pernah mengeluarkan uang untuk mengikuti gaya hidup teman.

Meski angka tersebut turun dibandingkan 80% pada 2024, proporsinya masih tergolong tinggi. Selain itu, sekitar 39% generasi muda menyatakan tujuan utama mereka menabung justru untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup seperti liburan, membeli gawai terbaru, maupun barang-barang konsumtif lainnya.

3. Kredit Konsumtif dan Paylater

Kemudahan memperoleh pembiayaan digital turut memengaruhi kondisi keuangan anak muda. Layanan buy now pay later (BNPL), kartu kredit digital, hingga pinjaman online membuat masyarakat semakin mudah memenuhi kebutuhan konsumsi tanpa harus memiliki dana tunai terlebih dahulu.

Di sisi lain, kemudahan tersebut juga meningkatkan risiko penumpukan utang apabila tidak disertai kemampuan mengelola pengeluaran secara disiplin.

4. Literasi Digital Masih Relatif Rendah

Selain literasi keuangan, kemampuan literasi digital juga menjadi tantangan. Tingkat literasi digital Gen Z Indonesia baru mencapai sekitar 62%, menjadi salah satu yang terendah di kawasan ASEAN.

Kondisi ini membuat sebagian generasi muda lebih rentan terhadap penipuan digital, investasi ilegal, hingga penyalahgunaan layanan fintech.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, sejumlah indikator menunjukkan perkembangan yang cukup positif.

Persentase masyarakat yang tidak mencatat pengeluaran keuangan turun dari 81% menjadi 77%, menunjukkan semakin banyak orang mulai melakukan pencatatan keuangan.

Kepemilikan dana pensiun meningkat dari 25% menjadi 29%. Minat terhadap investasi juga mulai tumbuh. Kepemilikan instrumen investasi seperti reksa dana, saham, dan aset kripto naik dari 2% menjadi 4%.

Sementara itu, kepemilikan emas batangan meningkat dari 2% menjadi 6%. Perilaku konsumtif akibat mengikuti gaya hidup teman juga mulai membaik meski masih tinggi, turun dari 80% pada 2024 menjadi 76% pada 2025.

Berbagai data tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama generasi muda bukanlah tidak memiliki kesadaran untuk menabung.

Mayoritas anak muda Indonesia justru telah memahami pentingnya menyisihkan pendapatan dan sebagian besar mengaku melakukannya secara rutin. Namun, tekanan biaya hidup, meningkatnya kebutuhan sehari-hari, pengaruh media sosial terhadap gaya hidup, serta kemudahan memperoleh kredit konsumtif membuat tabungan mereka sulit bertahan dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan terletak pada rendahnya niat untuk menabung, melainkan pada kemampuan mempertahankan kesehatan finansial di tengah kondisi ekonomi yang semakin menekan. 

Kesadaran finansial yang tinggi perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin agar tabungan, dana darurat, dan investasi dapat terus bertumbuh.