Tren Inspirasi

Iman Zanatul Haeri, Guru Sejarah yang Masuk 22 Tokoh Reset Indonesia

  • Profil Iman Zanatul Haeri, guru sejarah dan aktivis pendidikan yang masuk daftar 22 Sosok Reset Indonesia berkat advokasi kesejahteraan guru.
iman.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Nama Iman Zanatul Haeri menjadi salah satu figur yang masuk dalam daftar 22 Sosok Reset Indonesia, sebagaimana dimuat dalam buku Reset Indonesia

Ia dipilih karena dinilai konsisten memperjuangkan reformasi pendidikan melalui advokasi kesejahteraan guru, tata kelola pendidikan, serta penguatan gagasan Trisentra Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara.  

Iman dianggap sebagai sosok yang mendorong perubahan mendasar di sektor pendidikan melalui jalur advokasi, kebijakan, dan gerakan masyarakat.

Kiprah Iman Zanatul Haeri

Iman Zanatul Haeri merupakan seorang guru sejarah yang menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia mengajar di Madrasah Aliyah (MA) Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan. 

Selain mengajar, ia aktif dalam berbagai organisasi pendidikan, di antaranya sebagai Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Wakil Sekretaris Himpunan Sekolah dan Madrasah Islam Nusantara (HISMINU), serta Direktur Program MSP Scholence.

Di P2G, Iman dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan persoalan kesejahteraan guru di Indonesia. Ia kerap menerima laporan langsung dari para guru mengenai persoalan upah, status kepegawaian, hingga beban administrasi yang dinilai semakin berat. 

Berbagai kajian dan advokasinya menyoroti rendahnya penghasilan guru honorer, ketimpangan perlakuan antara guru PNS, PPPK, dan honorer, serta berbagai kebijakan pendidikan yang dinilai belum berpihak kepada tenaga pendidik.

Baca juga : Profil Virdian, Eks Ketua BEM Unpad Masuk 22 Sosok Reset Indonesia

Selain isu kesejahteraan, Iman juga aktif mengkritisi implementasi kebijakan pendidikan nasional. Ia beberapa kali menyampaikan pandangan mengenai penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), implementasi kurikulum, hingga pentingnya penyusunan kebijakan pendidikan berbasis data. 

Menurutnya, reformasi pendidikan harus dilakukan secara komprehensif agar mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperbaiki kondisi para guru sebagai ujung tombak pendidikan.

Namanya semakin dikenal secara nasional ketika menjadi Saksi Pemohon dalam sidang uji materi Undang-Undang APBN 2026 di Mahkamah Konstitusi terkait penggunaan anggaran pendidikan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Baca juga : Kembali Tertekan, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?

Dalam persidangan tersebut, Iman menyampaikan berbagai temuan lapangan P2G mengenai dampak kebijakan terhadap guru, termasuk persoalan pemutusan kontrak guru, ketidakpastian pendapatan, serta bertambahnya beban kerja akibat pelaksanaan program tersebut. Kesaksiannya menjadi salah satu sorotan dalam proses pengujian konstitusional tersebut.

Dalam pemikirannya, Iman mendorong revitalisasi konsep Trisentra Pendidikan yang diperkenalkan Ki Hadjar Dewantara, yakni sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai fondasi pendidikan nasional. 

Ia meyakini ruang kelas bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang perjuangan keadilan sosial melalui pendidikan yang berkualitas, berpihak kepada guru, dan mampu menciptakan perubahan jangka panjang bagi Indonesia.