Hemat Listrik Rumah dengan Panel Surya, Ini Hitungannya
- Panel surya rumah tangga kian diminati karena mampu menghemat tagihan listrik hingga Rp600 ribu per bulan. Simak hitungan biaya dan jenis sistemnya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemanfaatan panel surya atap (PLTS rooftop) untuk rumah tangga makin menarik. Selain ramah lingkungan, panel surya juga dinilai mampu menghemat tagihan listrik rumah tangga hingga Rp500 - 600 ribu per bulan, khususnya untuk sistem berskala menengah.
Panel surya rumah dapat menghasilkan listrik mulai dari ratusan watt hingga belasan kilowatt per hari, tergantung pada kapasitas sistem, lokasi pemasangan, serta pola konsumsi listrik pemilik rumah.
Dengan intensitas matahari yang memadai dan penggunaan listrik yang dominan pada siang hari, penghematan biaya listrik dapat dirasakan secara signifikan.
Saat ini terdapat dua sistem panel surya rumah tangga yang banyak digunakan, yaitu sistem on-grid dan hybrid atau off-grid. Sistem on-grid bekerja dengan terhubung langsung ke jaringan PLN, di mana listrik dari panel surya digunakan secara langsung oleh rumah tangga, sementara kelebihan daya dapat diekspor ke jaringan PLN.
Apabila produksi listrik dari panel tidak mencukupi, pasokan listrik otomatis diambil dari PLN. Keunggulan utama sistem ini adalah biaya investasi awal yang relatif lebih rendah karena tidak memerlukan baterai penyimpanan.
Namun, kelemahannya sistem ini tidak dapat menyuplai listrik ketika terjadi pemadaman PLN karena inverter akan otomatis mati demi menjaga keamanan jaringan.
Sementara itu, sistem hybrid atau off-grid dilengkapi dengan baterai penyimpanan energi. Listrik yang dihasilkan panel surya dapat disimpan dan digunakan pada malam hari atau saat terjadi pemadaman listrik.
Sistem ini menawarkan tingkat kemandirian energi yang lebih tinggi dibandingkan sistem on-grid. Meski demikian, sistem hybrid membutuhkan biaya investasi awal yang lebih besar serta perawatan yang lebih kompleks.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, untuk sistem hybrid dengan kapasitas sekitar 900 hingga 3.000 watt, biaya investasi awal diperkirakan berada di kisaran Rp18 juta hingga Rp75 juta, tergantung pada kapasitas panel, jenis baterai, umumnya lithium, serta merek dan kualitas komponen yang digunakan.
Potensi Penghematan
Penghematan biaya listrik dari panel surya dapat dihitung secara nyata. Berdasarkan simulasi dengan asumsi penggunaan satu panel surya berkapasitas 310 Watt Peak (Wp), radiasi matahari efektif di wilayah Jakarta sekitar 3,5 jam per hari, serta tarif listrik PLN sebesar Rp1.467 per kWh, maka potensi penghematan listrik mencapai sekitar Rp1.592 per hari, atau setara Rp47.760 per bulan dan Rp573.120 per tahun.
Jika sebuah rumah memiliki luas atap yang memungkinkan pemasangan hingga 12 panel atau setara dengan kapasitas sekitar 3,72 kWp, maka potensi penghematan bulanan dapat mencapai sekitar Rp573 ribu.
Besaran penghematan tersebut tentu dapat bervariasi tergantung pada lokasi pemasangan, intensitas paparan sinar matahari, efisiensi panel, serta kebiasaan penggunaan listrik di siang hari.
Baca juga : UpScrolled, Alternatif TikTok Bikinan Pengusaha Palestina
Jenis Panel Surya untuk Rumah
Dalam memilih panel surya, masyarakat perlu mempertimbangkan faktor efisiensi, anggaran, serta luas atap yang tersedia. Panel surya secara umum terbagi menjadi tiga jenis utama, yakni monocrystalline, polycrystalline, dan thin-film.
Panel monocrystalline memiliki tingkat efisiensi tertinggi, berkisar antara 17 hingga 22 persen, sehingga mampu menghasilkan daya besar dengan ukuran panel yang relatif lebih kecil. Jenis ini cocok untuk rumah dengan luas atap terbatas, meskipun harganya tergolong paling mahal.
Panel polycrystalline memiliki efisiensi menengah, sekitar 15 hingga 17 persen, dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, panel ini membutuhkan area pemasangan yang lebih luas dan efisiensinya cenderung menurun pada suhu tinggi.
Sementara itu, panel thin-film memiliki efisiensi paling rendah, yakni sekitar 10 hingga 13 persen, tetapi memiliki keunggulan berupa bobot yang ringan dan fleksibel.
Panel ini cocok untuk kebutuhan khusus atau atap dengan struktur yang tidak terlalu kuat, meski memerlukan ruang pemasangan yang jauh lebih luas.
Untuk kondisi rumah tangga di Indonesia, panel monocrystalline kerap menjadi pilihan utama karena mampu memaksimalkan produksi listrik pada keterbatasan luas atap. Panel polycrystalline dapat menjadi alternatif ekonomis bagi rumah dengan atap yang lebih luas dan anggaran terbatas.
Baca juga : Dirut BEI Mundur, IHSG Langsung Menguat 1,18 Persen
Langkah Awal Memasang Panel Surya
Bagi masyarakat yang tertarik memasang panel surya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghitung kebutuhan listrik rumah tangga.
Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis tagihan listrik selama tiga hingga enam bulan terakhir untuk mengetahui rata-rata konsumsi listrik bulanan dalam satuan kilowatt hour (kWh). Alternatif lainnya adalah menghitung secara manual dengan menjumlahkan daya dan durasi penggunaan seluruh peralatan listrik di rumah.
Langkah selanjutnya adalah menentukan kapasitas sistem panel surya yang sesuai dengan kebutuhan listrik tersebut. Konsultasi dengan penyedia jasa panel surya yang berpengalaman sangat disarankan agar kapasitas sistem yang dipasang tidak terlalu kecil maupun berlebihan.
Setelah itu, survei lapangan perlu dilakukan untuk memastikan atap rumah memiliki arah, kemiringan, dan kekuatan struktur yang memadai, serta bebas dari bayangan bangunan atau pepohonan sepanjang hari.
Dengan perencanaan yang tepat, panel surya tidak hanya menjadi solusi penghematan biaya listrik jangka panjang, tetapi juga langkah konkret rumah tangga dalam mendukung transisi menuju energi bersih di Indonesia.

Amirudin Zuhri
Editor
