Tren Global

Satelit Nusantara 5 Beroperasi, PSN Bidik RI Jadi Kekuatan Antariksa Asia

  • Satelit Nusantara 5 milik PSN memiliki cakupan layanan Indonesia, Malaysia, dan Filipina serta disebut mendukung sovereign capability nasional.
WhatsApp Image 2026-05-12 at 14.46.49.jpeg
Sejumlah pejabat termasuk Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid luncurkan operasional Satelit Nusantara 5 (TrenAsia)

JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN Group) meresmikan operasional Satelit Nusantara 5 di Karet Kuningan, Jakarta. Satelit ini disebut menjadi bagian penting dalam membangun sovereign capability Indonesia di sektor komunikasi dan infrastruktur digital.

Presiden Direktur PSN Group, Adi Rahman Adimoso, mengatakan Nusantara 5 bukan sekadar proyek bisnis satelit, melainkan bagian dari strategi besar Indonesia menjaga kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

“Hari ini merupakan hari untuk mempercepat Indonesia sebagai sebuah bangsa yang terus berkembang di industri luar angkasa,” ujar Adi dalam acara peluncuran operasional Nusantara 5, di Jakarta, Senin, 12 Mei 2026.

Menurutnya, teknologi satelit kini tidak lagi menjadi pilihan tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan strategis bagi setiap negara. Infrastruktur komunikasi dan konektivitas digital dinilai memiliki kaitan erat dengan pertahanan, keamanan nasional, hingga stabilitas ekonomi digital suatu negara.

“Space is no longer an option. Teknologi satelit dan kegiatan antariksa kini menjadi kebutuhan,” katanya.

Baca juga : Apakah BREN Masih Seksi Usai Dicoret MSCI?

Layani Tiga Negara

Adi menjelaskan Nusantara 5 memiliki cakupan layanan Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Bahkan, Filipina disebut telah menyetujui penggunaan kapasitas Nusantara 5 sebagai bagian dari kapasitas nasional mereka. Sementara Malaysia juga sedang melakukan pembicaraan intensif untuk memanfaatkan kapasitas satelit tersebut.

Menurut Adi, kondisi tersebut menunjukkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara mulai melihat pentingnya kemandirian konektivitas di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.

PSN juga mengklaim Indonesia kini memiliki kapasitas satelit terbesar di Asia Pasifik. Bersama satelit nasional lainnya, kapasitas Indonesia disebut mencapai sekitar 403 Gbps, melampaui sejumlah negara besar di kawasan.

“Kita memiliki kapasitas satelit terbesar di Asia Pasifik. Lebih besar daripada China dan lebih besar daripada Jepang,” kata Adi.

Ia menilai kemampuan satelit nasional menjadi bagian penting dalam menjaga sovereign capability atau kemampuan mandiri Indonesia di sektor strategis. Menurutnya, ketergantungan berlebihan terhadap pihak asing dapat menimbulkan risiko besar, terutama ketika terjadi konflik geopolitik atau gangguan layanan global.

Dalam satu dekade terakhir, PSN Group telah menjalankan tiga program satelit geo dengan total investasi mencapai lebih dari Rp23 triliun. Investasi tersebut disebut menjadi bukti keseriusan perusahaan dalam membangun industri antariksa nasional secara berkelanjutan.

“Kami ingin laporkan bahwa kita telah mengadakan investasi lebih daripada Rp23 triliun di tanah antariksa untuk Indonesia,” terang Adi.

Baca juga : Apa yang Terjadi Jika Pertamax Tembus Rp17.000?

Dukung Kreativitas Lokal

Selain fokus pada bisnis satelit komunikasi, PSN juga mulai membangun ekosistem industri antariksa nasional melalui pengembangan talenta muda dan teknologi lokal. 

Perusahaan mendukung peluncuran roket amatir siswa SMK Negeri 4 Pontianak serta pengembangan CubeSat SS1 bersama Universitas Surya dan BRIN.

Adi menilai Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi antariksa, tetapi harus mulai menjadi pemain utama di industri tersebut. “Kita tidak bisa tetap menjadi pengguna namun harus menjadi pemain,” tegasnya.

PSN juga mengembangkan terminal pengguna bernama Cedrik yang dirancang oleh tim riset dan pengembangan lokal. Produk tersebut menjadi bagian dari strategi peningkatan TKDN dan penguatan industri nasional.

Di sisi lain, perusahaan juga tengah mengembangkan satelit penginderaan optik untuk kebutuhan mitigasi bencana, ketahanan pangan, hingga pertahanan nasional. Proyek tersebut dikerjakan bersama BRIN dan ditargetkan dapat diluncurkan pada akhir 2027 atau awal 2028.

Dalam kesempatan itu, Adi juga menyinggung persaingan dengan layanan satelit global seperti Starlink. Meski mengakui persaingan tersebut tidak mudah, PSN optimistis mampu menghadirkan layanan nasional yang lebih sesuai dengan kepentingan Indonesia.

“Kapasitasnya kita jaga dengan baik dan tidak akan dihentikan servisnya walaupun ada masalah geopolitik lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan industri antariksa nasional membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi, hingga lembaga pertahanan.

Melalui Nusantara 5 dan berbagai proyek antariksa lainnya, PSN berharap Indonesia mampu memperkuat posisi sebagai pemain utama industri satelit di kawasan sekaligus menjaga kedaulatan digital nasional di era transformasi teknologi global.