Ramai Isu Krisis Air, Bagaimana Aturan Amdal Data Center AI?
- Data center AI membutuhkan air untuk sistem pendinginan. Simak aturan Amdal, kasus Batam, serta fakta konsumsi air data center di berbagai negara.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pertumbuhan data center berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai memunculkan perhatian terhadap penggunaan air, terutama karena fasilitas tersebut membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga suhu server tetap stabil.
Di Indonesia, belum terdapat regulasi yang secara khusus mengatur dampak lingkungan data center AI, sehingga proyek masih mengacu pada ketentuan lingkungan yang berlaku secara umum, termasuk kewajiban Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) atau UKL-UPL sesuai skala dan karakteristik kegiatannya.
Persoalan penggunaan air menjadi semakin penting ketika data center dibangun di wilayah yang sudah menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air. Sejumlah kasus di Indonesia maupun berbagai negara menunjukkan bahwa kebutuhan air untuk pendinginan data center dapat menjadi persoalan lingkungan apabila tidak disesuaikan dengan kondisi neraca air wilayah.
Baca juga : Anak Muda Solo Diajak Jadi Inspirator Keselamatan Jalan
Apakah Data Center AI Wajib Memiliki Amdal?
Data center AI di Indonesia saat ini belum memiliki aturan Amdal khusus. Pengelolaan dampak lingkungannya masih mengacu pada regulasi umum, termasuk Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta ketentuan perizinan berbasis risiko.
Kewajiban Amdal atau UKL-UPL bergantung pada skala dan karakteristik kegiatan serta potensi dampaknya terhadap lingkungan. Karena itu, pembangunan pusat data berskala besar perlu memperhatikan aspek penggunaan energi, kebutuhan air, limbah, hingga dampak terhadap lingkungan sekitar dalam dokumen lingkungan yang dipersyaratkan.
Kajian tersebut menjadi semakin penting apabila kebutuhan air data center berpotensi memengaruhi ketersediaan air untuk masyarakat, pertanian maupun ekosistem di sekitar lokasi proyek.
Selain dokumen lingkungan, terdapat pula acuan teknis terkait efisiensi penggunaan air. Salah satunya adalah Water Usage Effectiveness (WUE), yakni indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan air pada fasilitas pusat data.
Dalam kriteria Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan (TKB) atau Taxonomy for Sustainable Finance (TSC) untuk klasifikasi hijau, pusat data memiliki batas WUE maksimal 2,3 meter kubik per megawatt hour (m³/MWh) per tahun.
Artinya, efisiensi penggunaan air menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan dalam pengembangan pusat data, terutama ketika proyek berada di wilayah dengan ketersediaan air terbatas.
Mengapa Kebutuhan Air Data Center AI Menjadi Perhatian?
Data center membutuhkan sistem pendingin untuk membuang panas yang dihasilkan oleh ribuan hingga jutaan komponen komputasi. Beban komputasi AI yang besar dapat meningkatkan kebutuhan energi sekaligus kebutuhan sistem pendinginan.
Besarnya kebutuhan air sangat bergantung pada desain fasilitas, teknologi pendinginan, kapasitas komputasi, iklim, dan sumber air yang digunakan. Karena itu, konsumsi air antara satu data center dengan data center lainnya tidak selalu sama.
Salah satu teknologi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap air adalah sistem pendingin tertutup atau closed-loop cooling system. Sistem ini memungkinkan air digunakan secara berulang dalam sirkulasi pendinginan sehingga kebutuhan air baru dapat ditekan secara signifikan.
Dalam sejumlah desain sistem, teknologi tersebut disebut dapat mengurangi kebutuhan air hingga 80%-90% dibandingkan sistem yang lebih bergantung pada konsumsi air secara terus-menerus. Namun, besarnya penghematan tetap bergantung pada teknologi dan konfigurasi fasilitas yang digunakan.
Baca juga : Menilik Perubahan Beleid Soal Pesangon di UU Baru Ketenagakerjaan
Data Center di Batam Menyebabkan Krisis Air?
Kekhawatiran akan krisis Air muncul di Batam. Warga di Sambau dan Bakau Serip, Kecamatan Nongsa, sempat mengeluhkan gangguan pasokan air bersih yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan berkembangnya aktivitas data center di kawasan Nongsa Digital Park (NDP).
Namun, Badan Pengusahaan (BP) Batam membantah bahwa gangguan air tersebut disebabkan oleh kebutuhan data center. BP Batam menyebut persoalan utama berasal dari kemarau panjang yang menyebabkan produksi air di kawasan Nongsa turun drastis. Produksi yang dalam kondisi normal berada di sekitar 90 liter per detik disebut turun menjadi sekitar 25 liter per detik.
Penurunan volume air juga dikaitkan dengan menyusutnya Waduk Nongsa sekitar 4,5 meter akibat minimnya curah hujan dan kondisi El Nino.
Persoalan penggunaan air oleh data center bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara telah menghadapi perdebatan mengenai kebutuhan air fasilitas pusat data, khususnya ketika pembangunan berlangsung di wilayah yang mengalami water stress atau tekanan ketersediaan air.
Di India, lebih dari separuh data center disebut berada di wilayah yang mengalami tekanan air. Di Ghaziabad, tingkat pengambilan air tanah dilaporkan mencapai 272% dari rekomendasi yang ditetapkan.
Di Desa Tusiana, Uttar Pradesh, warga juga melaporkan penurunan muka air tanah setelah berkembangnya klaster data center hyperscale. Sejumlah sumur harus diperdalam hingga sekitar 180 meter, bahkan lebih dari 250 meter.
Baca juga : CHT Naik, Penerimaan Negara Malah Turun: INDEF Ungkap Ancaman Rokok Ilegal
Sebuah data center dengan kapasitas 100 megawatt di India juga diperkirakan dapat membutuhkan sekitar 2 juta liter air per hari atau sekitar 20 lakh liter. Angka tersebut setara dengan kebutuhan air harian ribuan rumah tangga.
Di Amerika Serikat, penggunaan air oleh data center juga meningkat. Data center di Virginia diperkirakan menggunakan sekitar 2,1 miliar galon air pada 2023, atau meningkat 86% dibandingkan 2019.
Sementara di Belanda, penggunaan air oleh data center juga menjadi perhatian. Salah satu fasilitas data center Microsoft di Amsterdam dilaporkan memiliki kebutuhan air industri sekitar 420 juta liter per tahun untuk kebutuhan pendinginan server dan generator darurat.
Kasus lain terjadi di Chile. Proyek data center Google di Cerrillos, Santiago, pernah mendapatkan izin untuk mengekstraksi air tanah hingga 228 liter per detik. Izin tersebut kemudian menuai kontroversi karena wilayah tersebut tengah menghadapi kekeringan dan pada 2024 dibatalkan oleh pengadilan lingkungan Chile.
Di Irlandia, persoalan penggunaan air data center juga menjadi perdebatan seiring pertumbuhan industri pusat data. Jejak air yang berkaitan dengan konsumsi listrik data center bahkan diperkirakan mencapai ratusan juta liter per hari pada 2025.
Apa yang Harus Dikaji Sebelum Data Center Dibangun?
Pembangunan data center AI berskala besar perlu memperhitungkan neraca air secara menyeluruh, terutama untuk kondisi musim kemarau.
Kajian juga perlu menjawab dari mana sumber air diperoleh, berapa kebutuhan air harian, bagaimana pola penggunaan pada kondisi operasional penuh, serta apakah pengambilan air berpotensi mengganggu kebutuhan masyarakat dan sektor lain.
Selain itu, teknologi pendinginan menjadi faktor penting. Penggunaan sistem yang memungkinkan air bersirkulasi kembali dapat mengurangi kebutuhan air baru.
Pemerintah juga perlu memastikan pengelolaan limbah elektronik dan baterai, kebutuhan energi, serta dampak sosial-ekonomi proyek menjadi bagian dari perencanaan.
Dengan semakin berkembangnya AI dan kebutuhan komputasi, pembangunan data center diperkirakan akan terus meningkat. Tantangannya adalah memastikan ekspansi infrastruktur digital tersebut tidak menimbulkan tekanan baru terhadap sumber daya alam.
Di Indonesia, Amdal dan UKL-UPL menjadi salah satu instrumen penting untuk menilai dampak lingkungan proyek. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas kajian, keterbukaan data, pengawasan, serta kesesuaian antara kebutuhan industri dan daya dukung lingkungan di lokasi pembangunan.
Dengan demikian, pertumbuhan data center AI dan ancaman krisis air tidak dapat dilihat sebagai hubungan sebab-akibat yang sederhana. Risiko terbesar muncul ketika fasilitas berkapasitas besar dibangun di wilayah yang sudah mengalami tekanan air tanpa perhitungan neraca air, teknologi pendinginan yang efisien, dan mekanisme perlindungan terhadap kebutuhan masyarakat.

Chrisna Chanis Cara
Editor
