Tren Global

Pemimpinnya Banyak Dibunuh, Mengapa Iran Tak Runtuh?

  • Kepemimpinan Iran bukan bertumpu pada siapa yang memimpin, melainkan pada bagaimana sistem itu dirancang.
2026-02-28T212442Z_1835106429_RC28VJAYD5L9_RTRMADP_3_IRAN-CRISIS-GULF-IRAQ-1024x675.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - Dalam dua dekade terakhir, Iran kehilangan deretan pemimpin dan komandannya yang paling berpengaruh melalui pembunuhan terencana. 

Jenderal Qasem Soleimani tewas dalam serangan drone AS di Baghdad pada 2020. Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas yang bernaung di Teheran, dibunuh Israel pada 2024. Baru-baru ini, dalam konflik militer yang meletus sejak awal Maret 2026, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam gelombang serangan udara gabungan AS-Israel.

Kemudian disusul oleh Ali Larijani kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan salah satu arsitek strategi terlama Republik Islam. Namun, di luar dugaan banyak pihak, pemerintahan Iran terus berfungsi. Mengapa?

Bukan Kepala, Melainkan Sistem

Jawabannya terletak bukan pada siapa yang memimpin, melainkan pada bagaimana sistem itu dirancang. Dilansir dari The New Arab, pejabat Iran sendiri menegaskan keberlangsungan rezim terletak pada struktur sistem itu sendiri, di mana kekuasaan tertanam dalam institusi, bukan terkonsentrasi pada individu. 

Prinsip ini tercermin dari kecepatan pengisian posisi-posisi kunci yang dikosongkan dan tampaknya kesinambungan pemerintahan yang tetap berjalan meski mengalami kehilangan besar-besaran.

Inilah paradoks besar Iran, negara ini bisa kehilangan pemimpin puncaknya, namun radarnya tidak padam, operasi militer terus berjalan, jalur diplomatik tetap aktif, tidak ada kerusakan nyata dalam otoritas negara.

Fondasi arsitektur politik Iran adalah doktrin velayat-e faqih atau perwalian ahli hukum Islam. Dilansir dari jurnal Discover Global Society, dalam artikel Political Challenges and Crisis Management in the Islamic Republic of Iran, sistem politik Republik Islam Iran berpijak pada konsep velayat-e faqih.

Velayat-e faqih menempatkan Pemimpin Tertinggi di puncak otoritas politik dan agama. Doktrin ini diformalisasi oleh Ayatollah Khomeini dan dilembagakan dalam Konstitusi 1979. 

Selama tiga dekade, apa yang muncul adalah sistem hibrida yang oleh para ilmuwan disebut sebagai "praetorian theocracy", di mana legitimasi klerus memberikan selubung ideologis bagi apa yang semakin menjadi pemerintahan militer-birokratis, dan kepentingan institusional IRGC menjadi pusat gravitasi sesungguhnya dari sistem ini.

Artinya, kepergian seorang Pemimpin Tertinggi sekalipun tidak menghancurkan mesin, karena mesin itu sudah lama berjalan atas inertia institusional dan kebiasaan kekuasaan, bukan semata atas karisma pemimpin tunggal.

IRGC, Tulang Punggung yang Tak Tampak

Elemen paling kritis dari ketahanan Iran adalah Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Sejak Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi pada 1989, lima presiden Iran silih berganti, namun tak satu pun membawa perubahan bermakna pada struktur kekuasaan Iran. 

Khamenei dan Garda Revolusi yang ia pimpin justru semakin kuat dari dekade ke dekade dan mendominasi institusi-institusi politik Iran yang rumit, termasuk peradilan, media, dan negara pengawasan.

Ketahanan ini berakar pada struktur militer ganda Iran. Pemerintah dilindungi tidak hanya oleh tentara reguler, tetapi juga oleh IRGC, sebuah kekuatan militer paralel yang secara konstitusional bertugas melindungi sistem velayat-e faqih. 

Dalam struktur tersebut terdapat Basij, milisi sukarela paramiliter yang tertanam di setiap lingkungan, yang secara khusus dilatih untuk menghancurkan perbedaan pendapat internal dan memobilisasi loyalis ideologis.

 IRGC menuntut pejabatnya untuk mengadopsi identitas korporat yang memfasilitasi tujuan kelangsungan rezim, dan secara aktif mendidik keluar ideologi apa pun yang dapat mengancam tujuan tersebut.

Lembaga ini bukan semata struktur militer, melainkan sebuah mesin ideologis yang mereproduksi loyalitas secara sistematis.

Doktrin militer Iran sejak Perang Iran-Irak (1980–1988) dibangun di atas filosofi redundansi strategis. IRGC dan angkatan bersenjata reguler beroperasi sebagai struktur komando paralel yang semi-independen. 

Redundansi institusional ini sengaja dirancang untuk mencegah kegagalan pada satu titik dan memastikan kesinambungan komando bahkan di bawah kehilangan kepemimpinan yang bersifat katastrofik. 

Inilah yang membedakan Iran dari rezim otoriter biasa. Ketika pemimpin di Libya atau Irak jatuh, seluruh sistem ikut runtuh. Dalam kasus Iran, setiap lapisan memiliki cadangan lapis berikutnya.

Dengan pembunuhan Ali Larijani dan komandan senior Basij, lebih dari separuh kepemimpinan senior Republik Islam telah tumbang. Pertanyaannya kini, apakah pengganti-pengganti yang kurang berpengalaman itu mampu bertahan di bawah tekanan perang?

Jawabannya, menurut berbagai analis, bergantung bukan pada kualitas individu pengganti, melainkan pada apakah institusi masih berdiri. Dan di sanalah letak keistimewaan Iran.