Tren Global

Pasang Surut Relasi Paus Leo XIV dan Trump

  • "Saya tidak takut dengan pemerintahan Trump, atau berbicara lantang tentang pesan Injil, yang saya yakini sebagai misi saya di sini," ujar Paus Leo
Paus Leo XIV yang baru terpilih muncul di balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan, Kamis, 8 Mei 2025.
Paus Leo XIV yang baru terpilih muncul di balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan, Kamis, 8 Mei 2025. (Foto AP/Andrew Medichini (AP).)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Perseteruan antara Paus Leo XIV dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkembang dari perbedaan pandangan menjadi konflik terbuka dalam waktu kurang dari satu tahun. 

Ketegangan ini berakar pada isu geopolitik, kebijakan luar negeri, hingga perbedaan mendasar soal perang dan kemanusiaan. Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, berikut kronologi lengkap konflik Trump vs Paus Leo XIV,

Awal Ketegangan Sejak Pelantikan (Mei 2025)

Ketegangan mulai terasa sejak Paus Leo XIV dilantik pada Mei 2025. Meski dikenal lebih kalem dibanding pendahulunya, ia tetap vokal dalam isu kemanusiaan dan perdamaian.

Tak lama setelah pelantikan, pernyataan lama Paus Leo yang mengkritik Wakil Presiden AS JD Vance kembali mencuat. Namun, sehari setelah dilantik, ia sempat bertemu dengan Vance, memberi harapan hubungan Vatikan dan Gedung Putih bisa tetap terjaga.

Kritik Terhadap Kebijakan AS (November 2025 – Januari 2026)

Ketegangan meningkat pada 5 November 2025 ketika pemerintah AS melakukan operasi imigrasi di Minnesota. Paus Leo secara terbuka mengecam kebijakan tersebut sebagai tidak manusiawi.

Pada 9 Januari 2026, kritik semakin tajam setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Paus Leo menyebut langkah tersebut sebagai pelanggaran prinsip internasional.

"Prinsip yang ditetapkan setelah Perang Dunia II, yang melarang negara-negara menggunakan kekuatan untuk melanggar batas negara lain, telah sepenuhnya dirusak." ujar  Paus Leo XIV dalam sebuah kesempatan.

Pernyataan ini menandai eskalasi kritik Vatikan terhadap kebijakan luar negeri AS.

Baca juga : Penutupan LQ45 Hari Ini: BRPT dan BUMI Meroket, TLKM Anjlok

Hubungan Memburuk (Februari – Maret 2026)

Pada 18 Februari 2026, Vatikan menolak bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza yang diusulkan Trump. Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan kedua pihak semakin renggang.

Upaya meredakan ketegangan dilakukan pada 7 Maret 2026 dengan penunjukan Uskup Agung Gabriele Caccia sebagai duta besar Vatikan untuk Washington.

Namun, Paus Leo tetap konsisten menyuarakan perdamaian. Pada 15 Maret 2026, ia menyerukan gencatan senjata dalam konflik global. "ribuan orang tak bersalah telah tewas" tegas Paus.

Kritik mencapai puncaknya pada 29 Maret 2026 saat Minggu Palem. 

"Ini adalah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang... (Yesus) tidak mendengarkan doa mereka yang berperang, tetapi menolak mereka, dengan mengatakan: 'Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah.'" ungkap Paus Leo XIV

Ancaman Trump ke Iran (7 April 2026)

Konflik memuncak ketika Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran pada Minggu Paskah. Ia menyatakan akan "meluluhlantakkan seluruh peradaban" Iran jika tidak ada kesepakatan terkait Selat Hormuz.

Paus Leo langsung merespons keras pernyataan tersebut. "Saya mengundang warga dari semua negara yang terlibat untuk menghubungi otoritas, pemimpin politik, anggota kongres, untuk meminta mereka bekerja untuk perdamaian dan menolak perang selamanya."  ungkap Paus Leo XIV

Ia juga menyebut pernyataan Trump sebagai "benar-benar tidak dapat diterima".

Seruan Perdamaian (8–11 April 2026)

Pada 8 April 2026, diumumkan gencatan senjata dua minggu. Paus Leo menyambutnya sebagai harapan baru.

"Saya menyambut dengan kepuasan dan sebagai tanda harapan yang hidup pengumuman gencatan senjata segera selama dua minggu. Hanya dengan kembali ke negosiasi, perang dapat berakhir." kata Paus Leo XIV

Dalam doa di Vatikan pada 11 April 2026, Paus kembali menyampaikan kritik keras terhadap dinamika global.

"Cukup dengan penyembahan diri sendiri dan uang! Cukup dengan pamer kekuasaan! Cukup dengan perang! Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan." ungkap Paus Leo XIV.

Baca juga : IHSG Hari Ini 14 April 2026 Ditutup Naik ke 7.675,95

Serangan Terbuka Trump (12 April 2026)

Trump kemudian melancarkan serangan langsung melalui Truth Social dengan berbagai kritik terhadap Paus Leo.

"LEMAH dalam Kejahatan, dan buruk dalam Kebijakan Luar Negeri" ungkap Trump.

Trump juga mengklaim pihaknya sebagai tokoh yang berjasa menobatkan Leo sebagai seorang Paus.

"Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan. Dia tidak masuk daftar siapa pun untuk menjadi Paus, dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang Amerika, dan mereka pikir itu adalah cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J. Trump." ungkap Trump.

Trump kemudian berujar dirinya tak ingin di kritik Paus. "Saya tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat." tambah Paus.

Serangan ini menandai konflik terbuka yang jarang terjadi antara Vatikan dan Gedung Putih.

Kontroversi Gambar AI dan Respons Paus (13 April 2026)

Trump kembali memicu kontroversi dengan mengunggah gambar AI yang menggambarkan dirinya seperti figur religius. Menanggapi situasi tersebut, Paus Leo memberikan pernyataan saat perjalanan menuju Afrika.

"Saya tidak takut dengan pemerintahan Trump, atau berbicara lantang tentang pesan Injil, yang saya yakini sebagai misi saya di sini. Saya tidak melihat peran saya sebagai politik, seorang politisi. Saya tidak ingin berdebat dengannya. Saya tidak berpikir bahwa pesan Injil dimaksudkan untuk disalahgunakan seperti yang dilakukan beberapa orang." tegas Paus Leo XIV

Ia juga menyindir platform milik Trump.

"Ini ironis nama situs itu sendiri. Tidak perlu berkata lebih jauh." tulis Paus Leo XIV

"Saya akan terus berbicara lantang melawan perang, untuk mempromosikan perdamaian, mempromosikan dialog dan hubungan multilateral antarnegara untuk mencari solusi yang adil atas masalah." tambah  Paus Leo XIV

Penegasan Sikap Trump (14 April 2026)

Trump menutup rangkaian konflik dengan menegaskan tidak akan meminta maaf. "Tidak perlu kata maaf. Dia yang salah." tegas Trump

Perseteruan ini menjadi salah satu konflik paling terbuka antara pemimpin agama global dan kepala negara besar dalam sejarah modern. Para pengamat menilai situasi ini berpotensi memengaruhi dinamika politik domestik AS, terutama menjelang pemilu paruh waktu 2026.

Selain itu, konflik ini juga mencerminkan benturan antara pendekatan kekuatan militer dan diplomasi moral dalam menghadapi krisis global.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, perdebatan ini menunjukkan bahwa isu perdamaian, perang, dan kemanusiaan tetap menjadi medan tarik-menarik antara kepentingan politik dan nilai universal.