Pakistan Bombardir Afghanistan, Apa Akar Masalahnya?
- Serangan udara Pakistan ke Afghanistan memicu eskalasi konflik paling serius dalam beberapa tahun. Sengketa Garis Durand dan isu militan jadi akar masalah.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan kembali memanas, memasuki fase paling serius dalam beberapa tahun terakhir. Serangan udara lintas batas yang dilancarkan Pakistan ke wilayah Afghanistan pada akhir Februari 2026 memicu kekhawatiran internasional akan pecahnya perang terbuka di kawasan Asia Selatan.
Dikutip laman Reuters, Jumat, 27 Februari 2026, situasi ini bahkan disebut sebagai “perang terbuka” oleh Menteri Pertahanan Pakistan, menandai eskalasi signifikan dari konflik perbatasan yang selama ini bersifat sporadis. Bentrokan terbaru bukan sekadar insiden militer sesaat, melainkan puncak dari akumulasi masalah lama yang belum pernah benar-benar terselesaikan.
Ketegangan meningkat tajam dalam 24 jam terakhir. Pada Kamis malam, 26 Februari 2026, pasukan Afghanistan melancarkan serangan lintas batas ke posisi militer Pakistan di sepanjang perbatasan yang dikenal sebagai Garis Durand.
Serangan ini disebut sebagai balasan atas serangan udara Pakistan beberapa hari sebelumnya yang, menurut laporan PBB, menewaskan sedikitnya 13 warga sipil Afghanistan.
Tak lama berselang, Jumat dini hari, 27 Februati 2026, Pakistan membalas dengan serangan udara besar-besaran yang menargetkan apa yang mereka klaim sebagai “posisi militer” di tiga provinsi Afghanistan, yakni Kabul, Paktia, dan Kandahar. Wartawan internasional melaporkan suara jet tempur dan ledakan keras terdengar di sejumlah wilayah tersebut.
Kedua negara kemudian saling mengklaim keberhasilan militer. Pakistan menyatakan ratusan tentara Afghanistan tewas atau terluka serta puluhan pos militer hancur.
Sementara Afghanistan mengklaim berhasil menewaskan puluhan tentara Pakistan dan menangkap beberapa lainnya. Hingga kini, klaim dari kedua pihak belum dapat diverifikasi secara independen.

Luka Sejarah yang Tak Pernah Sembuh
Akar konflik Pakistan - Afghanistan tidak dapat dilepaskan dari sengketa perbatasan Garis Durand. Perbatasan sepanjang lebih dari 2.600 kilometer ini ditetapkan pada 1893 oleh pemerintah kolonial Inggris, namun hingga kini tidak pernah diakui secara resmi oleh Afghanistan sebagai batas internasional yang sah.
Garis Durand membelah wilayah suku Pashtun di kedua sisi perbatasan, memicu persoalan identitas, nasionalisme, dan klaim kedaulatan. Sengketa ini menjadi fondasi konflik berkepanjangan yang terus membayangi hubungan kedua negara hingga hari ini.
Pemicu langsung eskalasi saat ini adalah tuduhan Pakistan terhadap keberadaan kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) di wilayah Afghanistan. Islamabad menuding kelompok tersebut menggunakan Afghanistan sebagai basis untuk melancarkan serangan ke wilayah Pakistan.
Pakistan menilai pemerintah Afghanistan saat ini, yang dikuasai oleh Taliban, tidak cukup tegas dalam menindak TTP. Tuduhan ini menjadi alasan utama Pakistan melancarkan serangan udara lintas batas dengan dalih keamanan nasional.
Ironisnya, Pakistan selama bertahun-tahun dikenal sebagai aktor penting dalam kebangkitan Taliban, baik pada 1990-an maupun menjelang kembalinya kelompok tersebut ke tampuk kekuasaan Afghanistan pada 2021. Namun, setelah Taliban berkuasa, hubungan kedua pihak justru memburuk.
Taliban Afghanistan dinilai enggan tunduk pada tekanan Pakistan dan menolak sepenuhnya memerangi TTP. Situasi ini memicu krisis kepercayaan mendalam, di mana Pakistan merasa kepentingan keamanannya diabaikan, sementara Taliban menolak dicap sebagai perpanjangan tangan Islamabad.
Selain faktor keamanan, konflik ini juga dipengaruhi dimensi ekonomi dan geopolitik. Pakistan kerap menggunakan jalur perdagangan dan transit sebagai alat tekanan, termasuk menutup perbatasan yang berdampak besar pada ekonomi Afghanistan yang terkurung daratan.
Di sisi lain, Pakistan juga mencurigai meningkatnya hubungan Afghanistan dengan India, rival utamanya di kawasan. Kekhawatiran akan “terjepit” oleh India dan Afghanistan menambah kompleksitas konflik dan membuat Islamabad semakin agresif dalam menjaga pengaruh regionalnya.
Para analis menilai, meski pemicu langsungnya adalah isu militan lintas batas, konflik Pakistan - Afghanistan sejatinya merupakan api lama yang kembali menyala. Sengketa Garis Durand, hubungan penuh kecurigaan dengan Taliban, tekanan ekonomi, serta persaingan geopolitik regional menjadikan hubungan kedua negara sangat rapuh.
Selama akar-akar persoalan tersebut tidak diselesaikan secara diplomatik, bentrokan bersenjata berpotensi terus berulang. Eskalasi terbaru ini menjadi pengingat bahwa stabilitas kawasan Asia Selatan masih sangat rentan terhadap konflik lama yang belum pernah benar-benar padam.

Muhammad Imam Hatami
Editor
