Modal Guyur Singapura, Startup RI Sepi Dana
- Regulasi yang matang serta status pusat keuangan regional menjadi penyebab utama investor global lebih memilih mendanai startup Singapura ketimbang Indonesia.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pendanaan bagi perusahaan rintisan atau startup di Indonesia kini mengalami penurunan sangat drastis sepanjang tahun 2025. Fenomena ini disinyalir terjadi karena memudarnya tingkat kepercayaan investor global terhadap ekosistem bisnis digital dalam negeri jika dibandingkan dengan negara tetangga.
Para pemodal asing rupanya lebih memilih untuk menempatkan dana segar mereka di negara Singapura. Laporan dari riset Southeast Asia Startup Funding Report 2025 yang dirilis oleh DealStreetAsia secara resmi mengonfirmasi adanya ketimpangan penyaluran investasi tersebut secara regional.
Sepanjang periode tersebut, total pendanaan startup di Indonesia hanya mampu mencapai angka US$340 juta. Nilai ini setara dengan Rp5,72 triliun atau sekadar 6,3% dari total keseluruhan nilai investasi perusahaan rintisan di seluruh kawasan Asia Tenggara saat ini.
1. Dominasi Mutlak Pendanaan Singapura
Angka investasi di Indonesia tersebut terbukti masih tertinggal sangat jauh apabila dibandingkan pencapaian Singapura. Negara singa tersebut sukses mendominasi aliran pendanaan perusahaan rintisan di kawasan Asia Tenggara secara mutlak sepanjang tahun kalender 2025 yang lalu di bursa.
Laporan tersebut secara rinci mencatat bahwa bursa Singapura sukses membukukan sebanyak 283 transaksi pendanaan startup. Total nilai pendanaan yang berhasil dihimpun mencapai angka fantastis sekitar US$4,20 miliar atau setara dengan nominal uang Rp70,75 triliun selama periode tersebut.
Perbedaan mencolok pada perolehan kucuran dana segar ini memberikan sebuah sinyal kuat bagi pemerintah nasional. Indonesia membutuhkan perbaikan regulasi secara komprehensif agar iklim investasi teknologi kembali mampu menarik minat para pengelola dana ventura dari seluruh penjuru dunia.
2. Pusat Ekosistem Finansial Regional
Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memaparkan analisisnya terkait fenomena ini. Menurutnya, secara regional Singapura telah resmi menjadi pusat keuangan utama di wilayah Asia Tenggara bagi sangat banyak perusahaan digital multinasional berskala global.
Ekosistem keuangan yang sangat matang membuat perusahaan teknologi besar nyaman menempatkan markas besar mereka disana. "Perusahaan-perusahaan bonafide misal Meta ataupun Google, memiliki kantor perwakilan Asia Tenggara dan menempatkannya di Singapura," kata Nailul Huda dalam keterangannya pada Rabu, 25 Februari 2026.
Selain korporasi teknologi besar, banyak perusahaan Venture Capital/VC global juga memilih Singapura sebagai pusatnya sekarang. Regulasi yang dinilai menguntungkan membuat para pemodal ventura ini merasa jauh lebih aman dan nyaman menjalankan operasional bisnis mereka di negara tersebut.
3. Strategi Akses Pendanaan Global
Kepercayaan investor yang lebih tinggi terhadap Singapura pada akhirnya memaksa perusahaan rintisan memutar otak. Banyak startup asal Indonesia terpaksa harus mendirikan perusahaan gabungan yang secara hukum ditempatkan di Singapura demi mempermudah akses kuat mereka mendapatkan pendanaan asing.
Aliran dana ventura sering kali harus singgah di negara tetangga sebelum masuk pasar domestik. "Ada beberapa aturan dan insentif di Singapura yang membuat pengembangan di sana jauh lebih maju dibandingkan negara lain," ujar Nailul Huda menjelaskan situasi.
Secara keuangan, iklim bisnis Singapura menawarkan kepastian regulasi yang didambakan oleh para investor kelas kakap. Arus investasi dari pemodal ventura umumnya akan mampir terlebih dahulu ke sana sebelum akhirnya mengalir masuk ke Indonesia ataupun Malaysia secara bertahap.
4. Pergeseran Tren Pendanaan Akhir
Dari sisi tahapan injeksi modal, pemulihan transaksi pada paruh kedua tahun 2025 ternyata berubah drastis. Mayoritas suntikan modal kini lebih banyak ditopang oleh pendanaan tahap lanjut atau Late Stage/LS yang biasanya membutuhkan stabilitas fundamental bisnis jauh lebih matang.
Sebaliknya, volume transaksi pendanaan tahap awal atau Early Stage/ES justru cenderung menurun secara bertahap. Penurunan tajam pada semester kedua ini tentu sangat memukul ekosistem startup Indonesia yang selama ini masih sangat bergantung pada kucuran pendanaan tahap awal.
Faktor pergeseran selera risiko investor global ini menjadi sebuah tantangan berat bagi para pendiri lokal. Perusahaan rintisan domestik dituntut untuk segera mencetak profitabilitas yang jelas agar mampu bertahan menghadapi ancaman kekeringan likuiditas pendanaan di masa depan nanti.
5. Prospek Kebangkitan Layanan Finansial
Sepanjang tahun 2025, kawasan Asia Tenggara tercatat hanya melahirkan empat startup berstatus unicorn baru saja. Mayoritas perusahaan dengan tingkat valuasi di atas US$1 miliar tersebut memiliki basis operasional utama di Singapura, bukan berasal dari negara Indonesia tercinta.
Keempat unicorn baru tersebut adalah startup Ultragrn.ai, Synut, Thunes, serta entitas bisnis Ashita Group. Mereka secara individu bergerak sangat agresif pada sektor strategis utama seperti teknologi hijau, layanan pembayaran lintas batas negara, serta lini industri manufaktur dan perdagangan terintegrasi.
Meski tanpa unicorn baru, ada harapan besar pada sektor layanan keuangan digital domestik di masa depan. "Sektor keuangan seperti bank digital, Buy Now Pay Later/BNPL, hingga pinjaman daring masih bisa menjadi penopang bagi ekosistem digital kita," tandasnya lugas.

Chrisna Chanis Cara
Editor
