Jins dan Polyester Jadi Fesyen Boros Air, Ini Ulasannya
- Produksi jins butuh ribuan liter air, sementara polyester tinggi emisi. Ini data lengkap dampak lingkungan industri fesyen.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Industri fesyen diketahui memiliko tingkat konsumsi sumber daya alam yang tinggi dalam proses produksinya. Berdasarkan berbagai data lingkungan, jins (celana denim) tercatat sebagai item pakaian dengan konsumsi air tertinggi.
Sementara itu, pakaian berbahan polyester dinilai menjadi penyumbang emisi karbon terbesar dalam industri tekstil global. Lonjakan produksi pakaian, terutama akibat tren fast fashion dan ultra-fast fashion, membuat tekanan terhadap lingkungan semakin besar. Air, energi, bahan bakar fosil, hingga lahan digunakan dalam skala masif untuk memenuhi permintaan pasar.
Jins, Penguasa Konsumsi Air
Dikutip data yang dipaparkan United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD), dalam laporan bertajuk “Jejak penggunaan lahan dan air dari produk-produk sehari-hari,” Kamis, 18 Februari 2026, dari sisi penggunaan air, jins menempati posisi teratas. Untuk memproduksi satu potong celana denim dibutuhkan rata-rata 16.000 hingga 18.528 liter air.
Sebagian besar konsumsi air tersebut terjadi pada tahap awal produksi, terutama dalam proses penanaman kapas sebagai bahan baku utama. Diperkirakan sekitar 16.000 liter air habis hanya untuk menumbuhkan kapas yang dibutuhkan satu celana jins.
Selain itu, proses pemintalan benang, pewarnaan dengan indigo, hingga pencucian akhir (finishing) juga menambah beban konsumsi air dan energi. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut setara dengan kebutuhan air minum satu orang selama lebih dari dua tahun.
Baca juga : Emisi, Limbah, dan Upah Rendah, Wajah Kelam Fast Fashion
Hoodie dan Polyester
Di peringkat kedua konsumsi air terdapat hoodie, dengan rata-rata kebutuhan sekitar 14.364 liter air per potong. Tingginya angka ini dipengaruhi kombinasi bahan katun dan polyester.
Namun, persoalan utama polyester bukan hanya pada air, melainkan pada jejak karbonnya. Polyester merupakan serat sintetis berbasis minyak bumi (fosil) dan kini mendominasi sekitar 59% produksi serat global.
Dari sisi emisi, polyester menyumbang sekitar 43% dari total dampak Gas Rumah Kaca (GRK) dalam produksi bahan baku fesyen. Hal ini disebabkan tingginya volume produksi serta ketergantungan pada energi fosil.
Meski kampanye penggunaan bahan daur ulang semakin digencarkan, pertumbuhan polyester baru (virgin polyester) masih jauh melampaui polyester daur ulang. Artinya, ketergantungan industri pada bahan baku fosil tetap tinggi.
Produk Kulit: Boros Air dan Lahan
Selain denim dan polyester, produk berbahan kulit juga masuk kategori sangat boros sumber daya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kulit sapi konvensional memiliki dampak lingkungan yang tinggi, dengan konsumsi air mencapai 17.000 liter per kilogram dan emisi karbon sekitar 60 kg CO₂e per kilogram.
Tidak hanya itu, produksi kulit juga membutuhkan lahan luas untuk peternakan sapi. Sebuah studi memperkirakan sepasang sepatu kulit dapat menghabiskan 25.000 liter air serta sekitar 50 meter persegi lahan.
Dengan demikian, produk kulit tidak hanya menyumbang konsumsi air besar, tetapi juga berdampak pada deforestasi dan emisi metana dari sektor peternakan.
Baca juga : Gen Z, Fast Fashion, dan Bencana Lingkungan Hidup
Perbandingan Konsumsi Air Berbagai Pakaian
Masih berdasarkan data UNCCD, selain jins dan hoodie, berikut rata-rata konsumsi air beberapa jenis pakaian lain:
- Sweater: ±13.933 liter
- Kemeja & Blus: ±12.863 liter
- Jaket: ±7.678 liter
- Celana non-denim: ±6.917 liter
- Rok: ±6.517 liter
- Mantel (coat): ±5.906 liter
- Kaos (T-shirt): ±5.665 liter
Angka tersebut menunjukkan hampir semua jenis pakaian membutuhkan ribuan liter air dalam proses produksinya. Jika dilihat dari indikator lingkungan, indikatornya sebagai berikut
- Paling boros air: Jins berbahan katun
- Penyumbang emisi karbon terbesar: Polyester sintetis
- Gabungan dampak air, lahan, dan karbon tinggi: Produk kulit
Setiap jenis bahan memiliki dampak berbeda, sehingga isu keberlanjutan fesyen tidak bisa dilihat dari satu indikator saja.

Muhammad Imam Hatami
Editor
