Tren Global

Insinyur Jerman: Orang Indonesia Suka Ngaret, Tapi Humoris dan Kreatif

  • HUT ke-81 RI menjadi momentum melihat Indonesia dari mata dunia. Horst Henry Geerken mengungkap kesannya tentang jam karet, humor, dan keramahan masyarakat.
hut ri.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID - 17 Agustus 2026 jadi hari istimewa untuk Indonesia. Ditanggal tersebut tepat 81 tahun Indonesia Merayakan Kemerdekaan. Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya yang unik.

Bagi sebagian warga asing, beradaptasi dengan kebiasaan masyarakat Indonesia bukanlah perkara mudah.  Namun, pengalaman itu justru menjadi pelajaran berharga bagi Horst Henry Geerken, seorang insinyur asal Jerman yang menghabiskan hampir dua dekade hidupnya di Tanah Air.

Geerken tinggal di Indonesia selama 18 tahun, tepatnya pada 1963 hingga 1981, sebagai perwakilan perusahaan telekomunikasi Jerman Telefunken, yang kemudian bergabung menjadi AEG-Telefunken. 

Selama berada di Indonesia, ia tidak hanya menjalankan tugas profesional, tetapi juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting, termasuk pergantian kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto.

Pengalaman panjang tersebut kemudian ia tuangkan dalam sejumlah buku tentang Indonesia, salah satunya Der Ruf des Geckos atau edisi Indonesianya A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno.

Namun, di balik catatan sejarah yang ditulisnya, Geerken juga menyimpan kesan mendalam mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Baca juga : 81 Tahun Indonesia Merdeka, Warga Naik dari 70 Juta Jadi 290 Juta

"Jam Karet" Jadi Culture Shock Terbesar

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Geerken adalah budaya "jam karet" atau kebiasaan tidak tepat waktu.

Sebagai orang Jerman yang dibesarkan dalam budaya disiplin dan ketepatan waktu, ia mengaku sempat kesulitan memahami kebiasaan tersebut. 

Dalam pandangannya saat pertama kali datang ke Indonesia, keterlambatan dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian yang membuat pekerjaan menjadi lebih lambat dan kurang efisien.

Perbedaan budaya itu menjadi salah satu tantangan terbesar selama masa adaptasinya di Indonesia. Namun, setelah bertahun-tahun tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat lokal, pandangannya mulai berubah.

Menurut Geerken, di balik kebiasaan "jam karet" terdapat nilai yang jarang ia temukan di negaranya, yaitu kelenturan atau fleksibilitas.

Ia menilai masyarakat Indonesia cenderung lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan situasi dan lebih lentur dalam mencari solusi ketika menghadapi persoalan sehari-hari. Bagi Geerken, fleksibilitas tersebut justru menjadi salah satu kekuatan budaya Indonesia yang tidak dimiliki banyak negara Barat.

Baca juga : Perputaran Uang HUT RI Capai Puluhan Triliun, Siapa Panen Cuan?

Terpesona oleh Keramahan Orang Indonesia

Selain budaya waktu, Geerken juga mengaku terkesan dengan karakter masyarakat Indonesia.

Selama tinggal di berbagai daerah, ia melihat orang Indonesia dikenal ramah, sopan, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap keluarga maupun lingkungan sekitar.

Hal lain yang menurutnya sangat khas adalah selera humor masyarakat Indonesia. Geerken pernah mengatakan bahwa hampir di setiap tempat yang ia kunjungi, selalu ada orang yang mampu mencairkan suasana dengan candaan. Baginya, sulit menemukan orang Indonesia yang tidak memiliki selera humor.

“Di mana-mana di negara kepulauan ini, baik di kota besar maupun kota kecil, kita selalu berjumpa dengan orang-orang yang selalu punya bahan tertawaan. Sulit mencari orang Indonesia yang tidak punya selera humor,” tulisnya dalam buku tersebut.

Menurutnya, kebiasaan tersebut membuat hubungan sosial masyarakat Indonesia terasa lebih hangat dibandingkan di banyak negara Eropa.

Kagum pada Kreativitas Masyarakat

Pengalaman sehari-hari juga membuat Geerken mengagumi kreativitas masyarakat Indonesia.

Ia mencontohkan pengalaman bersama asisten rumah tangganya yang mampu memasak berbagai hidangan tanpa pernah membaca buku resep. Ketika diajarkan menu baru, proses belajarnya berlangsung cepat dan hasilnya tidak kalah baik.

Bagi Geerken, kemampuan belajar secara langsung melalui pengalaman menjadi salah satu kekuatan masyarakat Indonesia yang patut diapresiasi.

Pengalaman dengan Pengobatan Tradisional

Hal lain yang menarik perhatian Geerken adalah kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional dan praktik spiritual.

Dalam salah satu pengalamannya, ia menceritakan kisah seorang dokter di Kedutaan Besar Jerman yang disebut mengalami kesembuhan setelah mendapatkan pengobatan dari seorang dukun.

Pengalaman-pengalaman semacam itu membuat Geerken semakin memahami bahwa masyarakat Indonesia memiliki cara pandang yang berbeda terhadap hubungan antara kehidupan, alam, dan kepercayaan.

Meski dibesarkan dalam tradisi berpikir yang rasional, ia mengaku mulai menghormati berbagai praktik budaya tersebut sebagai bagian dari kekayaan tradisi Indonesia.

Baca juga : Peta Persaingan Minimarket 2026: Indomaret Unggul, Pemain Baru Muncul

Indonesia Menjadi Rumah Kedua

Setelah tinggal selama hampir dua dekade, hubungan Geerken dengan Indonesia berkembang jauh melampaui urusan pekerjaan.

Ia menyebut Indonesia sebagai rumah keduanya. Kecintaannya terhadap negeri ini membuatnya terus menulis berbagai buku yang mengangkat sejarah, budaya, hingga pengalaman pribadinya selama tinggal di Indonesia, bahkan setelah kembali ke Jerman.

Sebagai saksi langsung perubahan politik dari Orde Lama menuju Orde Baru, Geerken juga menjadi salah satu penulis asing yang banyak mendokumentasikan dinamika Indonesia pada periode tersebut.

Perjalanan Horst Henry Geerken menunjukkan bahwa perbedaan budaya tidak selalu menjadi penghalang. Hal-hal yang semula membuatnya terkejut seperti budaya "jam karet" justru membawanya memahami nilai lain yang menurutnya tidak kalah penting, yakni fleksibilitas, kehangatan, dan kemampuan masyarakat Indonesia dalam membangun hubungan sosial.

Pengalaman itu membuat Geerken berubah dari seorang insinyur Jerman yang terbiasa dengan disiplin tinggi menjadi sosok yang mengagumi keramahan, kreativitas, dan keberagaman budaya Indonesia.

Hingga kini, kisahnya masih sering menjadi rujukan ketika membahas bagaimana Indonesia dipandang oleh orang asing yang pernah tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakatnya selama bertahun-tahun.