Tren Global

Harga HP Akan Naik pada 2026, Segmen Ini Paling Terdampak

  • Lonjakan harga HP pada 2026 sebagai konsekuensi langsung dari krisis pasokan memori global yang dipicu oleh ledakan permintaan infrastruktur AI.
Ponsel atau HP Samsung.
Ponsel atau HP Samsung. (PCMag/Michael Kan)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Konsumen diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga smartphone (HP) pada tahun 2026. Sejumlah laporan industri  menunjukkan tekanan pada rantai pasok komponen utama, terutama memori RAM, yang berpotensi mendorong harga ponsel naik di hampir semua segmen pasar, dari kelas entry-level hingga flagship.

Kenaikan tersebut bukan sekadar spekulasi. Analis industri menilai lonjakan harga HP pada 2026 sebagai konsekuensi langsung dari krisis pasokan memori global yang dipicu oleh ledakan permintaan infrastruktur Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).

Menurut laporan lembaga riset pasar global, Counterpoint Research, dikutip Rabu, 31 Desember 2025, akar persoalan terletak pada pergeseran prioritas produksi industri semikonduktor global. Perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Meta, Microsoft, dan Nvidia tengah membangun pusat data AI dalam skala masif. 

Proyek-proyek ini menyerap DRAM dan High Bandwidth Memory (HBM) dalam jumlah besar, yang menawarkan margin keuntungan jauh lebih tinggi bagi produsen chip.

Akibatnya, produsen memori seperti Samsung Electronics dan SK Hynix mengalihkan sebagian kapasitas produksinya ke segmen data center dan AI, sehingga alokasi memori untuk smartphone, khususnya LPDDR menjadi terbatas. Kelangkaan ini kemudian memicu kenaikan harga bahan baku, yang pada akhirnya dibebankan ke produsen ponsel.

Dampak Berbeda di Setiap Segmen HP

Kenaikan harga HP pada 2026 diperkirakan tidak terjadi secara merata. Segmen dengan margin tipis akan paling terdampak. HP entry-level atau budget diprediksi mengalami kenaikan biaya material (Bill of Materials/BoM) hingga 25–30%. Namun, karena daya beli konsumen sangat sensitif, harga jual kemungkinan naik terbatas di kisaran 5-10%.

Segmen mid-range menghadapi dilema terbesar. Kenaikan biaya sekitar 15% memaksa produsen memilih antara menaikkan harga atau menurunkan spesifikasi agar tetap kompetitif. HP flagship atau premium relatif lebih tahan karena margin lebih besar, meski harga jual tetap diperkirakan naik. Rata-rata kenaikan harga jual smartphone global (ASP) diproyeksikan sekitar 6,9% pada 2026.

Untuk menghadapi tekanan biaya, produsen smartphone diperkirakan menempuh dua strategi utama. Pertama, menyesuaikan harga jual secara bertahap agar kenaikan tidak terlalu terasa bagi konsumen.

Kedua, memangkas spesifikasi RAM, khususnya di segmen entry-level dan mid-range. Ponsel yang sebelumnya hadir dengan RAM 12 GB berpotensi turun ke 6-8 GB, sementara ponsel murah bisa kembali ke konfigurasi RAM 4 GB. Langkah ini dilakukan agar harga tetap terjangkau meski biaya komponen naik.

Sejumlah produsen besar, termasuk Samsung di pasar Indonesia, mengakui adanya tantangan ini dan menyatakan tengah mengkaji opsi untuk menyerap sebagian kenaikan biaya agar tidak sepenuhnya dibebankan ke konsumen.

Kapan Kenaikan Harga Paling Terasa?

Tekanan harga diperkirakan mulai terasa sejak awal 2026 dan berlanjut hingga kuartal pertama dan kedua. Puncak dampak kemungkinan terjadi pada pertengahan tahun, seiring kontrak pasokan memori baru ditandatangani dengan harga yang lebih tinggi.

Jika permintaan AI tetap agresif dan kapasitas produksi memori tidak bertambah signifikan, kondisi ini bisa bertahan lebih lama dan memengaruhi siklus peluncuran produk smartphone global.

Bagi konsumen, 2026 berpotensi menjadi tahun yang kurang ideal untuk mengganti ponsel, terutama di kelas menengah ke bawah. Namun peluang masih terbuka untuk menyiasati situasi ini, seperti membeli ponsel lebih awal sebelum kenaikan penuh diterapkan, atau memilih model dengan spesifikasi yang lebih sederhana.