Tren Global

Dokumen Epstein Sebut Nama Indonesia, Tak Terkait Kasus

  • Nama Indonesia dan sejumlah tokoh tercantum dalam Epstein Files, namun konteksnya laporan ekonomi, bisnis, dan dokumen administratif, bukan kejahatan seksual.
images (29).jpg
Epstain (CBS News)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Indonesia tercatat dalam ratusan dokumen yang termasuk dalam Epstein Files, kumpulan arsip kasus predator seksual Jeffrey Epstein yang dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) dan dibuka untuk akses publik.

Berdasarkan penelusuran dalam basis data tersebut, nama Indonesia muncul dalam 902 dokumen dari jutaan arsip yang dipublikasikan. Namun, isi dokumen-dokumen tersebut sebagian besar tidak berkaitan langsung dengan kejahatan seksual Epstein.

Mayoritas dokumen yang mencantumkan Indonesia bersifat administratif dan logistik, seperti pengiriman barang, bukti invoice, hingga lampiran pendukung ke Amerika Serikat. Dokumen-dokumen tersebut ikut terunggah sebagai bagian dari rilis besar arsip perkara Epstein.

Selain itu, Indonesia juga kerap dirujuk sebagai bahan briefing ekonomi dan politik. Sejumlah file memuat artikel berita dan laporan ekonomi global, termasuk laporan JP Morgan tahun 2014.

Baca juga : Investor Ragu, Transisi Energi Indonesia di Persimpangan

Dalam salah satu dokumen JP Morgan tersebut tertulis, “Di pasar negara berkembang, peristiwa politik penting adalah pemilihan presiden di Indonesia.” kutip TrenAsia dari dokumen tersebut, Selasa, 3 Februari 2026.

Laporan itu menyinggung Pemilu Presiden Indonesia 2014, saat Komisi Pemilihan Umum menetapkan Joko Widodo sebagai pemenang. JP Morgan juga menyoroti prospek reformasi pasca-pemilu.

“Kami tetap optimistis terhadap prospek peningkatan tata kelola pemerintahan dan reformasi struktural… bagi pasar saham Indonesia.” tulis dokumen tersebut.

Situasi keamanan Indonesia juga muncul dalam sejumlah kliping media yang dilampirkan dalam dokumen. Salah satunya adalah artikel Channel NewsAsia terkait terorisme. “Terror cells in Indonesia continue to recruit and plot attacks amid COVID-19.” tambah dokumen tersebut.

Selain laporan ekonomi dan keamanan, Indonesia juga disebut dalam buletin politik internasional The Shimon Post. Buletin tersebut membahas dinamika politik global dan menyinggung Indonesia serta Presiden kedua RI, Soeharto, dalam konteks sejarah transisi kekuasaan.

“Dalam krisis tahun 1998, militer akhirnya berbalik melawan otokratnya sendiri… tetapi setelah itu melindungi Suharto.” ungkap dokumen tersebut

Nama Konglomerat Indonesia dalam Dokumen

Dalam dokumen lain yang turut terunggah, muncul nama konglomerat Hary Tanoesoedibjo. Namanya tercantum dalam laporan Federal Bureau of Investigation (FBI) bertajuk CHS Reporting (Confidential Human Source Reporting) tertanggal Oktober 2020 dan berstatus unclassified.

Dalam dokumen tersebut tertulis, “Hary Tanoesoedibjo (Hary) telah terlibat dalam pengembangan hotel-hotel Trump dan merupakan seorang miliarder.”

Laporan FBI itu membahas relasi politik dan bisnis Donald Trump dengan sejumlah pihak asing, berdasarkan keterangan sumber informasi rahasia. Salah satu klaim yang dicatat adalah transaksi properti Trump. “Hary membeli rumah Trump di Beverly Hills dengan harga yang tinggi.”

Selain itu, terdapat pula korespondensi manajer hotel di Bali dengan individu yang terafiliasi dengan Epstein, meskipun konteksnya tidak berkaitan langsung dengan tindak kriminal seksual.

Selain Hary Tanoesoedibjo, nama pendiri Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, juga tercantum dalam Epstein Files. Namun, seperti halnya Hary, penyebutan nama Eka tidak terkait langsung dengan Epstein.

Baca juga : Bocah 13 Tahun Berenang 4 Jam untuk Selamatkan Keluarganya

Nama Eka muncul dalam konteks transaksi properti, yakni pembelian mansion milik Trump di Beverly Hills pada 2009 dengan nilai US$9,5 juta.

Dokumen tersebut juga mencantumkan nama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati serta Presiden ke-7 RI Joko Widodo, namun tanpa indikasi keterkaitan langsung dengan Epstein maupun kasus kejahatan seksualnya.

Kemunculan nama Indonesia dan sejumlah tokoh nasional dalam Epstein Files lebih bersifat referensial, mencakup laporan ekonomi, artikel berita, buletin politik, transaksi bisnis, serta dokumen administratif.

Meski tercantum dalam ratusan dokumen, tidak ditemukan indikasi keterlibatan langsung Indonesia maupun tokoh-tokohnya dalam kejahatan seksual Jeffrey Epstein.

Penyebutan tersebut merupakan bagian dari rilis arsip besar yang memuat berbagai dokumen lintas topik, bukan semata-mata berisi aktivitas kriminal Epstein.