Demam AI Indonesia: Konglomerat Pilih Data Center, Bukan Startup
- Konglomerat RI memilih investasi data center ketimbang startup AI. Ini alasan bisnis dan strategi di baliknya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indonesia tidak sedang ikut-ikutan tren global soal AI. Para konglomerat terbesar negeri ini sudah menaruh uang sungguhan di sana.
Menurut Stanford HAI AI Index Report 2026, investasi global dalam AI mencapai US$278 miliar di kuartal pertama 2026 saja, naik 34% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Di Indonesia, gelombang itu tidak sekadar terasa di diskusi startup, tapi sudah masuk ke neraca perusahaan dan strategi akuisisi konglomerat. Yang menarik bukan hanya angkanya, yang menarik adalah siapa yang bergerak dan ke mana mereka pergi.
Konglomerat Masuk, Bukan Sekadar Investasi Finansial
Selama ini, narasi tentang AI di Indonesia sering terfokus pada startup tim kecil, hackathon, lalu berburu pendanaan. Tapi peta besarnya sudah berubah. AI bukan lagi sekadar soal aplikasi, melainkan soal infrastruktur. Dan di titik ini, pemain besar mulai mengambil posisi.
Grup Djarum, yang identik dengan perbankan dan telekomunikasi, kini agresif masuk ke bisnis infrastruktur digital melalui PT Remala Abadi (DATA) di bawah Sarana Menara Nusantara (TOWR). Di sisi lain, PT DCI Indonesia (DCII) yang dikendalikan Toto Sugiri dan Anthoni Salim juga mencatat lonjakan valuasi yang ekstrem.
Kenaikan harga saham di sektor ini bukan sekadar euforia. Ini mencerminkan perubahan fundamental: AI membutuhkan daya komputasi besar, dan itu berarti kebutuhan data center akan melonjak tajam.
Baca juga : Intel Luncurkan Springhill, Chip dengan Kecerdasan Buatan Pertama di Dunia
Gambaran utamanya:
- Saham PT Remala Abadi (DATA) melonjak 431,61% sepanjang 2025
- Saham PT DCI Indonesia (DCII) naik 456,24% ke level Rp234.175
- Grup Djarum memperluas bisnis dari menara telekomunikasi ke infrastruktur digital dan data center
- Kongsi Toto Sugiri dan Anthoni Salim memperkuat dominasi di sektor data center hyperscale
- Pemerintah memfasilitasi proyek Quantum AI Data Center pertama di Asia di Indonesia
Lebih dari itu, arah kebijakan juga mulai selaras. Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah memfasilitasi investasi tahap awal sebesar US$400 juta (sekitar Rp6 triliun) untuk pembangunan Quantum AI Data Center.
Angka ini penting, bukan hanya karena besar, tapi karena menunjukkan bahwa AI kini dipandang sebagai infrastruktur strategis, setara dengan jalan tol atau pembangkit listrik di era sebelumnya.
Kesimpulannya sederhana tapi krusial, AI bukan lagi sekadar software. Ia butuh “rumah”, dan rumah itu adalah data center. Siapa yang menguasai infrastrukturnya, berpotensi menguasai pertumbuhan ekonominya.
Startup AI Indonesia, Yang Beneran Tumbuh
Dilansir dari laporan World Economic Forum Future of Jobs 2026, AI bukan lagi chatbot yang menjawab pertanyaan sederhana. Model terbaru yang dirilis pada kuartal kedua 2026 mampu memahami konteks mendalam, mengenali emosi dari nada suara, dan beradaptasi dengan gaya komunikasi unik tiap individu. Ini membuka segmen pasar yang sebelumnya tidak ada. Readers
Di Indonesia, beberapa nama yang mulai punya traksi nyata, Kata.ai, startup conversational AI asal Indonesia, sudah beroperasi dengan teknologi Natural Language Processing (NLP) untuk bahasa Indonesia. Mereka aktif membuka lowongan AI engineer dan LLM specialist di 2026, sinyal bahwa mereka sedang membangun kapasitas teknis serius.
PT Elang Mahkota Teknologi (EMTK) dari Grup Emtek memperkuat layanan digital dan media dengan integrasi AI guna meningkatkan pengalaman pengguna.
Ini bukan pivot kosong, EMTK punya ekosistem media dan platform yang menghasilkan data perilaku pengguna dalam jumlah besar, bahan bakar utama AI.
Baca juga : Saatnya Menghentikan Robot Pembunuh Otonom
Mengapa Uang Konglomerat Masuk ke Data Center, Bukan Startup
Ada logika bisnis di balik pola ini yang perlu dipahami. AI generatif butuh komputasi besar. Komputasi besar butuh data center. Data center butuh modal, lahan, listrik, dan jaringan. Semua itu adalah domain konglomerat, bukan startup.
Artinya, uang konglomerat yang masuk ke infrastruktur data center lebih aman dari sisi risiko dibanding masuk ke startup aplikasi AI yang model bisnisnya belum terbukti. Infrastruktur disewa siapapun yang menang di lapisan aplikasi. Siapapun yang kalah di atas, infrastruktur di bawah tetap berjalan.
Ini kenapa Grup Djarum dan Grup Salim bermain di layer infrastruktur. Mereka tidak perlu memilih siapa yang akan jadi "Google-nya Indonesia". Mereka cukup memastikan bahwa semua pemain besar butuh infrastruktur mereka.

Muhammad Imam Hatami
Editor
