Berapa Listrik yang Disedot untuk Sebuah Data Center?
- Data center AI BDx di Jatiluhur berkapasitas hingga 640 MW. Secara matematis, kebutuhan energinya setara konsumsi sekitar 6,14 juta rumah bila dihitung bulanan

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Data center berskala besar membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah sangat besar karena fasilitas tersebut harus beroperasi selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Kebutuhan energi semakin tinggi pada data center yang dirancang untuk mendukung komputasi kecerdasan buatan (AI).
Besarnya konsumsi listrik data center dapat dilihat dari kapasitas dayanya yang diukur dalam megawatt (MW). Sebagai gambaran, menurut U.S. Energy Information Administration (EIA) data center dengan kapasitas 1 MW yang beroperasi penuh selama 24 jam dapat menggunakan energi sekitar 24.000 kilowatt-hour (kWh) per hari.
Jika beroperasi selama 30 hari, kebutuhan energinya mencapai sekitar 720.000 kWh per bulan. Dengan menggunakan asumsi konsumsi rumah tangga kecil sekitar 75 kWh per bulan, kebutuhan listrik 1 MW yang beroperasi penuh setara dengan konsumsi sekitar 9.600 rumah tangga kecil.
Artinya, semakin besar kapasitas data center, semakin besar pula kebutuhan listrik yang harus disiapkan untuk menjaga fasilitas tetap beroperasi.
Baca juga : Sempat Diisukan Caplok BCA, Berapa Kekayaan Haji Isam?
Berapa Listrik yang Dibutuhkan Data Center 120 MW?
Salah satu contoh dapat dilihat dari pembangunan kampus data center AI BDx Data Centers di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Kampus yang dikenal sebagai CGK4 tersebut dirancang memiliki kapasitas pengembangan hingga 640 MW. Pada tahap awal, gedung pertama memiliki kapasitas 120 MW.
Jika kapasitas 120 MW beroperasi penuh selama 24 jam, kebutuhan energinya mencapai sekitar 2,88 juta kWh per hari. Dalam 30 hari, konsumsi tersebut setara dengan sekitar 86,4 juta kWh.
Jika menggunakan asumsi konsumsi rumah tangga kecil sebesar 75 kWh per bulan, kebutuhan listrik 120 MW tersebut secara matematis setara dengan konsumsi sekitar 1,15 juta rumah tangga kecil per bulan.
Perhitungan ini merupakan perbandingan konsumsi energi, bukan berarti seluruh listrik tersebut secara langsung digunakan dengan pola yang sama seperti rumah tangga.
Bagaimana Jika Data Center Jatiluhur Mencapai 640 MW?
Kebutuhan listrik akan meningkat signifikan apabila seluruh kampus CGK4 mencapai kapasitas pengembangan 640 MW. Dengan asumsi fasilitas beroperasi penuh selama 24 jam, kebutuhan energinya mencapai sekitar 15,36 juta kWh per hari.
Dalam satu bulan 30 hari, angka tersebut mencapai sekitar 460,8 juta kWh. Jika dibandingkan dengan konsumsi rumah tangga kecil sebesar 75 kWh per bulan, kebutuhan energi 640 MW secara matematis setara dengan sekitar 6,14 juta rumah tangga kecil.
Angka tersebut menunjukkan skala kebutuhan energi data center ketika kapasitasnya mencapai ratusan megawatt.
Namun, perlu diperhatikan bahwa kapasitas data center dalam MW tidak selalu identik dengan konsumsi listrik aktual setiap saat. Beban IT, tingkat utilisasi server, sistem pendingin, efisiensi fasilitas, serta kebutuhan operasional lainnya dapat membuat konsumsi aktual berbeda dari perhitungan berdasarkan kapasitas maksimum.
Baca juga : Menakar Kemungkinan IHSG Kembali ke Level 5.000-an
Mengapa Data Center Membutuhkan Listrik Sebesar Itu?
Ada beberapa komponen utama yang membuat data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar.
Pertama, server dan GPU. Data center AI membutuhkan perangkat komputasi dengan kemampuan pemrosesan tinggi. Pelatihan dan pengoperasian model AI membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan banyak beban komputasi konvensional.
Kedua, sistem pendingin. Server yang bekerja terus-menerus menghasilkan panas sehingga temperatur peralatan harus dijaga. Data center menggunakan berbagai sistem pendinginan, seperti chiller, sistem ventilasi, serta teknologi liquid cooling.
Ketiga, infrastruktur kelistrikan dan pendukung. Data center membutuhkan sistem uninterruptible power supply (UPS), perangkat jaringan, sistem keamanan, pencahayaan, serta berbagai fasilitas pendukung agar layanan dapat berjalan tanpa gangguan.
Karena data center menyediakan layanan digital yang harus tersedia setiap saat, keandalan listrik menjadi salah satu faktor paling penting dalam operasionalnya.
Besarnya kebutuhan energi tersebut juga terlihat dari pasokan listrik yang disiapkan untuk kampus CGK4. BDx Data Centers telah mengamankan pasokan listrik sebesar 845 MVA dari PT PLN (Persero) untuk pengembangan data center di Jatiluhur.
Kampus tersebut dirancang dengan kapasitas hingga 640 MW dan terdiri dari enam gedung. Gedung pertama berkapasitas 120 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun dan dikembangkan oleh BDx Data Centers, perusahaan yang berbasis di Singapura dengan dukungan investor infrastruktur global I Squared Capital.
Dari sisi teknologi, CGK4 dirancang menggunakan direct-to-chip liquid cooling dengan sistem closed-loop. Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan pendinginan perangkat komputasi berperforma tinggi.
Baca juga : Anak Usaha Kini Tak Lagi Bebas Terlibat Jasa Pertambangan
Kampus CGK4 juga disebut sebagai data center pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi NVIDIA DGX-Ready.
Perbandingan antara data center dan rumah tangga perlu dilakukan secara hati-hati karena karakteristik konsumsi keduanya berbeda.
Rumah tangga menggunakan listrik secara tidak konstan. Konsumsi dapat meningkat pada pagi atau malam hari dan turun ketika penghuni rumah tidak menggunakan banyak perangkat elektronik.
Sebaliknya, data center dirancang untuk beroperasi secara kontinu. Server dan infrastruktur pendukung dapat membutuhkan listrik sepanjang waktu sehingga kebutuhan energinya jauh lebih stabil dan besar.
Selain itu, konsumsi listrik rumah tangga Indonesia sangat bervariasi berdasarkan daya tersambung, jumlah penghuni, peralatan elektronik, serta pola penggunaan.
Karena itu, angka jutaan rumah tangga dalam perbandingan data center merupakan ilustrasi berdasarkan asumsi konsumsi tertentu, bukan jumlah rumah yang secara aktual akan kehilangan atau menggunakan listrik yang sama.

Muhammad Imam Hatami
Editor
