Tren Global

Apa yang Harus Dilakukan Saat Gempa? Ini Panduan Lengkapnya

  • Apa yang harus dilakukan saat gempa? Kenali panduan BMKG mulai dari persiapan, Drop Cover Hold On, evakuasi tsunami hingga pascagempa.
freepik__upload__25719 (1).png
Ilustrasi gempa. (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Gempa bumi merupakan salah satu bencana yang sulit diprediksi waktu kejadiannya. Karena itu, upaya paling penting untuk mengurangi risiko bukan menunggu gempa terjadi, melainkan mempersiapkan diri dan lingkungan sejak sebelum bencana.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengembangkan sistem peringatan dini gempa bumi atau Indonesia Earthquake Early Warning System (INA-EEWS). Sistem ini dirancang untuk memberikan informasi awal sebelum guncangan kuat tiba di lokasi tertentu.

Dalam pengembangannya, BMKG telah mengevaluasi 143 kejadian gempa selama periode 2022-2025. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat keberhasilan sistem mencapai 88,82% dalam mendeteksi, menganalisis, dan menyampaikan informasi dini gempa.

Namun, sistem peringatan dini bukan berarti masyarakat dapat menunggu notifikasi sebelum menyelamatkan diri. BMKG menegaskan INA-EEWS memiliki keterbatasan, termasuk blind zone. Jika merasakan guncangan kuat, masyarakat tetap harus segera melakukan tindakan perlindungan diri.

Lantas, apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi?

Apa Itu INA-EEWS dan Berapa Waktu yang Bisa Didapat?

INA-EEWS merupakan sistem peringatan dini yang dikembangkan BMKG untuk memberikan informasi mengenai guncangan gempa sebelum gelombang guncangan kuat tiba di suatu wilayah.

Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan jaringan sensor dan pemrosesan data gempa secara cepat. Dalam pengembangan purwarupanya, BMKG menyebut peringatan dini guncangan dapat diberikan dalam rentang 0-60 detik pertama di wilayah yang tercakup sistem.

Setelah itu, sistem akan menampilkan peta guncangan, sementara parameter gempa yang lebih presisi disampaikan oleh Pusat Gempa Nasional dalam waktu kurang dari tiga menit.

Baca juga : Atasi Paparan Abu Vulkanik, Pahami Langkah 5M Berikut!

Artinya, waktu yang tersedia dapat berbeda-beda tergantung lokasi sumber gempa, posisi sensor, dan lokasi masyarakat terhadap sumber gempa.

Karena itu, jangan menganggap peringatan dini sebagai jaminan memiliki waktu 20 detik untuk evakuasi. Prinsip utamanya adalah memanfaatkan setiap detik yang tersedia untuk melakukan perlindungan diri.

BMKG melalui laman INA-EEWS juga mengarahkan masyarakat menerapkan prinsip Drop, Cover, and Hold On, yakni merunduk, berlindung, dan bertahan sampai guncangan berhenti.

Sebelum Gempa, Apa yang Harus Dipersiapkan?

Kesiapsiagaan merupakan langkah pertama dalam mitigasi gempa bumi. Persiapan tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga setiap keluarga, sekolah, kantor, dan masyarakat.

1. Pastikan Bangunan Aman

Bangunan menjadi salah satu faktor penting dalam keselamatan saat gempa. Masyarakat perlu memastikan kondisi rumah atau bangunan tempat tinggal memenuhi standar keselamatan dan, jika diperlukan, melakukan evaluasi struktur oleh tenaga yang kompeten. Selain struktur bangunan, perhatikan pula benda-benda di dalam rumah yang berpotensi jatuh ketika terjadi guncangan.

2. Kenali Jalur Evakuasi

Kenali lokasi:

  • Pintu keluar dan pintu darurat.
  • Tangga.
  • Titik kumpul.
  • Jalur evakuasi.
  • Lokasi alat pemadam kebakaran.
  • Kotak P3K.

Pengetahuan mengenai jalur evakuasi akan membantu mengurangi kepanikan ketika terjadi gempa.

3. Amankan Perabot Rumah

Lemari, kabinet, rak buku, dan perabot berat sebaiknya dipastikan tidak mudah roboh. Benda berat sebaiknya ditempatkan di bagian bawah, sementara benda yang mudah jatuh tidak diletakkan di atas tempat tidur atau area yang sering digunakan. Lampu gantung dan benda yang menempel di dinding juga perlu diperiksa kestabilannya.

4. Siapkan Tas Siaga Bencana

BNPB merekomendasikan Tas Siaga Bencana (TSB) sebagai persiapan untuk bertahan hidup ketika bantuan belum datang dan memudahkan proses evakuasi. Tas tersebut idealnya berisi kebutuhan dasar untuk sekitar tiga hari.

Isi tas siaga antara lain:

  • Dokumen penting dalam wadah kedap air.
  • Pakaian untuk beberapa hari.
  • Air minum.
  • Makanan tahan lama.
  • Obat-obatan pribadi dan P3K.
  • Masker.
  • Senter atau alat penerangan.
  • Peluit.
  • Radio atau telepon seluler.
  • Power bank dan charger.
  • Uang tunai.
  • Perlengkapan mandi.

Dokumen penting seperti identitas, akta kelahiran, ijazah, dan dokumen kepemilikan sebaiknya disimpan dalam wadah yang terlindung dari air.

Baca juga : 7 Cara Menjaga Kesehatan dari Paparan Abu Vulkanik

Apa yang Harus Dilakukan Saat Gempa?

Jika Berada di Dalam Bangunan

Jika gempa terjadi ketika berada di dalam ruangan, jangan langsung berlari keluar ketika guncangan masih berlangsung.

Lakukan Drop, Cover, and Hold On:

  1. Drop atau segera merunduk.
  2. Cover atau berlindung di bawah meja atau perabot yang kokoh.
  3. Hold On atau berpegangan dan tetap berlindung sampai guncangan berhenti.

Lindungi kepala dan leher dari benda yang jatuh. Jauhi jendela, kaca, cermin, lemari, rak, dan benda lain yang berpotensi roboh. BMKG juga mengimbau masyarakat mencari tempat yang paling aman dari reruntuhan bangunan.

Setelah guncangan berhenti, barulah lakukan evakuasi melalui jalur yang aman. Hindari menggunakan lift karena listrik dapat padam atau sistem bangunan dapat mengalami gangguan.

Jika Berada di Luar Ruangan

Jika gempa terjadi ketika berada di area terbuka, jauhi bangunan, tiang listrik, pohon, papan reklame, dan benda lain yang berpotensi roboh. Perhatikan pula kondisi tanah. Hindari area yang mengalami rekahan atau berpotensi mengalami longsor. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan kemungkinan gempa susulan setelah guncangan utama.

Jika Sedang Mengemudi

Jika gempa terjadi ketika sedang berkendara, kurangi kecepatan dan hentikan kendaraan di tempat yang aman. Hindari berhenti di bawah jembatan, dekat gedung tinggi, tiang listrik, pohon, atau struktur lain yang berpotensi roboh. BMKG juga mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi tanah dan menghindari rekahan yang dapat membahayakan.

Bagaimana Jika Gempa Terjadi di Pantai?

Masyarakat yang berada di wilayah pantai perlu meningkatkan kewaspadaan karena gempa bumi tertentu dapat memicu tsunami.

Jika merasakan gempa kuat dan berlangsung cukup lama di kawasan pantai, jangan menunggu informasi dari media sosial. Segera menjauh dari pantai menuju tempat yang lebih tinggi atau lokasi evakuasi yang telah ditentukan.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah pantai untuk menjauhi pantai apabila terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Dalam sistem peringatan tsunami BMKG, terdapat tiga status utama:

  • Waspada: masyarakat diminta menjauhi pantai dan tepian sungai.
  • Siaga: masyarakat di wilayah terdampak diarahkan untuk melakukan evakuasi.
  • Awas: masyarakat diminta melakukan evakuasi secara menyeluruh dan segera.

Ketentuan evakuasi dapat berbeda sesuai wilayah dan kondisi ancaman tsunami. Karena itu, masyarakat harus mengikuti informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.

Baca juga : Terjerat Transfer Pricing, Bagaimana Nasib Saham Toba Pulp (INRU)?

Jika Berada di Tempat Ramai

Gempa di pusat perbelanjaan, stadion, terminal, sekolah, kantor, atau tempat publik lainnya dapat menimbulkan kepanikan. Jangan langsung berlari menuju pintu keluar ketika guncangan masih berlangsung karena kepanikan dan desakan massa justru dapat menyebabkan cedera.

Cari perlindungan dari benda yang berpotensi jatuh, lindungi kepala dan leher, kemudian ikuti arahan petugas setelah guncangan berhenti. Prinsip utama tetap sama, lindungi diri terlebih dahulu, kemudian lakukan evakuasi secara tertib.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Gempa?

Guncangan berhenti bukan berarti seluruh risiko telah berakhir. Gempa susulan, bangunan yang melemah, kebakaran, kebocoran gas, dan gangguan listrik masih dapat mengancam keselamatan.

1. Evakuasi dengan Tertib

Setelah guncangan berhenti, keluar dari bangunan melalui jalur evakuasi. Jangan menggunakan lift dan jangan kembali memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman.

2. Periksa Kondisi Sekitar

Perhatikan kemungkinan:

  • Kebakaran.
  • Kebocoran gas.
  • Kabel listrik putus.
  • Pipa air rusak.
  • Bangunan retak atau miring.
  • Benda-benda yang masih berpotensi jatuh.

Jangan menyalakan api terbuka jika terdapat dugaan kebocoran gas.

3. Berikan Pertolongan Pertama

Periksa kondisi anggota keluarga, teman, atau orang di sekitar. Jika terdapat korban yang terluka, berikan pertolongan pertama sesuai kemampuan dan segera hubungi layanan darurat atau tenaga medis jika kondisinya serius.

4. Pantau Informasi Resmi

Jangan mudah percaya informasi yang beredar di media sosial. Informasi mengenai gempa dan tsunami dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta kanal informasi resmi terkait peringatan dini tsunami. BMKG juga mengimbau masyarakat tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.